Friday, January 16, 2026

Solusi Cerdas Panen Sawit

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Pemanenan sawit dengan tinggi lebih dari 5 meter sering menyulitkan pekerja. Tingginya pohon juga dapat mengancam kesehatan dan keselamatan pemanen.

Untuk menjawab tantangan itu, tim peneliti dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknik Pertanian IPB mengembangkan mesin pemanen bernama electric bunch harvester (e-BHAR). Inovasi ini ditujukan untuk memanen tandan buah segar (TBS) dari pohon sawit yang tinggi.

Tim pengembang terdiri dari Dr. Ir. Sam Herodian, M.S., Dr. Ir. Desrial, M.Eng., dan Dr. Ir. Agus Sutejo, M.Si. Menurut Sam, e-BHAR lahir dari kebutuhan akan alat panen yang lebih efisien dan aman.

Ia menuturkan, makin banyak orang enggan memanen sawit tinggi karena risikonya terlalu besar. Apalagi jika tinggi pohon mencapai lebih dari 15 meter.

“Karena itu, dibutuhkan alat yang bisa mendekatkan pemanen dengan tandan buah,” kata Sam. Selain menjaga keselamatan, alat ini juga menjaga kualitas buah agar tidak memar saat jatuh.

Buah sawit yang jatuh dari ketinggian dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas jika terlambat diproses. Mesin ini juga mencegah buah berserakan dan mempermudah pengumpulan.

e-BHAR menggunakan tangga yang mencengkeram batang sawit agar stabil saat pemanenan. Buah ditangkap langsung oleh mesin, menghindari berondolan dan mempermudah kerja pemanen.

Penangkap buah berbentuk cincin dengan pegas yang menyerap benturan saat TBS jatuh. Mesin ini memiliki kecepatan maksimum 8,62 m/detik dan kecepatan aktual hingga 7,19 m/detik.

Mesin didesain dengan enam roda agar stabil di lahan lunak. Ia juga bisa berbelok dengan radius putar 8,6 meter dan mampu berputar di tempat.

Komponen utama e-BHAR meliputi motor listrik, kontroler, baterai, rantai, sasis, dan roda. Mesin ditenagai baterai 132 ampere hour yang dilengkapi sistem manajemen baterai.

Operator dapat memantau dan mengatur performa baterai dengan lebih aman. Konsumsi baterai tercatat sebesar 37,05 ampere hour.

Dalam pengujian, mesin mampu beroperasi selama 3,56 jam. Ruang kemudi dirancang menggunakan metode RULA untuk mengurangi risiko kesehatan pemanen.

Analisis RULA menghasilkan skor 3, artinya desain ruang kemudi cukup ergonomis. Uji kebisingan dan getaran juga menunjukkan hasil masih dalam batas aman.

Saat ini e-BHAR masih dalam tahap prototipe pertama. Pengujian lapang sedang dilakukan sebelum produksi massal direncanakan pada 2025.

Petani juga bisa menggabungkan e-BHAR dengan Fastrex, traktor khusus pengangkut TBS dan material lainnya. Kolaborasi kedua alat ini dapat meningkatkan efisiensi kerja di kebun sawit.

Menurut Wayan Supadno, pengusaha sawit di Kalimantan Tengah, biaya panen ideal adalah maksimal Rp120 per kg. “Jadi, jika pengadaan mesin itu dapat menimbulkan biaya yang jauh lebih rendah daripada biaya panen dan mempercepat panen, maka mesin itu bisa marketable,” ujar Wayan

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img