Thursday, August 18, 2022

Spesialis Avokad Pot

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tabulampot avokad kelud mudah berbuah dan genjah. (koleksi : Agus Joko Susilo)

TRUBUS — Membuahkan avokad dalam pot untuk memenuhi masyarakat perkotaan berlahan terbatas. Permintaan melonjak selama pandemi.

“Kesan umum avokad itu tanaman yang berbatang besar, tinggi, dan banyak ulatnya. Saya mau mengubah persepsi itu,” ujar Agus Joko Susilo. Pekebun avokad di Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu membudidayakan avokad dalam pot atau tabulampot sejak 2015.

Agus tertantang. “Saya mencoba tabulampot avokad mentega untuk pertama kali,” ujar lelaki kelahiran Kediri, Jawa Timur, itu. Ia berhasil membuahkannya. Kini ia mampu membuahkan beragam jenis avokad di pot. Sekadar menyebut beberapa adalah jenis kelud, aligator, dan hass. Total jenderal Agus memiliki 30-an jenis avokad pot. Tinggi tanaman rata-rata 70—300 cm atau berumur 5 bulan sampai 3 tahun sejak perbanyakan.

Laba besar

Petani avokad di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Agus joko Susilo.
(koleksi : Agus Joko Susilo)

Kesuksesan menabulampotkan avokad mendorong Agus menjual tanaman buah bernilai estetis itu. Ia menjual 500 tabulampot avokad berbagai ukuran setiap bulan. Ada yang di pot 50 liter, 60 liter, ada yang di pot 100 liter. Pengertian pot bukan sekadar wadah berbahan plastik. Kadang-kadang Agus memanfaatkan kantong tanam atau planter bag. Agus menuturkan, kategori tanaman sedang jika tinggi sekitar 1 meter untuk ukuran dan tinggi 1—2,5 meter untuk ukuran besar.

Menurut Agus harga tabulampot itu bervariasi antara Rp200.000 hingga Rp2 juta per tabulampot. Tanaman anggota famili Lauraceae yang berbuah tentu lebih mahal dibandingkan dengan tanaman tanpa buah. Agus memetik laba laba sekitar 50% dari harga jual atau puluhan juta rupiah per bulan. Saat pandemi korona sejak Maret 2020 penjualan relatif meningkat bahkan cenderung melonjak. Kenaikan penjualan selama pandemi berlipat-lipat.

Agus menduga selama pandemi banyak orang bekerja di rumah. Merawat tabulampot avokad dan menyaksikan pertumbuhan buah dari kecil hingga membesar menjadi pereda stres. Konsumen Agus adalah masyarakat perkotaan antara lain di Surabaya, Jawa Timur, dan Semarang, Jawa Tengah. Lahan di perkotaan relatif terbatas, sehingga masyarakat tetap dapat menyalurkan hobi berkebun dengan merawat avokad pot. Beberapa kali Agus juga mengirimkan tabulampot avokad ke luar kota seperti Pekanbaru, Medan, dan Lampung.

Konsumen mengetahui keberadaan tabulampot avokad itu dari media sosial. Bungsu dari tujuh bersaudara itu memang disiplin mengunggah foto tabulampot avokad di jejaring media sosial. Itu menjadi sarana promosi yang efektif. Ia membangun nurseri di Kediri, Jawa Timur di atas lahan 1,5 hektare. Konsumen berdatangan ke sana menyaksikan hamparan avokad di pot yang berjajar. Panorama itu menarik sebagai lokasi berswafoto.

Di lahan itu terdapat 8.000 tabulampot avokad siap jual yang sudah pernah berbuah. Jenisnya pun beragam. Menurut Agus konsumen paling menggemari jenis avokad aligator dan kelud. Dari total 500-an tabulampot yang terjual per bulan, 80% merupakan jenis aligator dan kelud. Harap mafhum buah avokad kelud dan aligator legit, lembut, dan gurih.

Pohon induk

Agus memiliki pohon induk yang tumbuh di lahan itu. Dari pohon induk itulah ia memanfaatkannya sebagai batang atas. Oleh karena itu, konsumen mendapat jaminan jenis avokad yang dibelinya. Agus memperbanyak tanaman dengan cara menyambung (grafting). Ia mampu menghasilkan 1.000 sambungan per hari. Tanaman siap dibuahkan pada saat berumur 12 bulan sejak penyambungan.

Tabulampot avokad mulai berbuah pada umur 1,5 tahun sejak penyambungan. (koleksi : Agus Joko Susilo )

Agus mulai memindahkan bibit avokad ke dalam pot berukuran 50 liter. Setiap enam bulan sekali, ia menambahkan dua gayung pupuk kandang per tanaman. Saat fase pertumbuhan, Agus memberikan NPK 25-7-7 sedangkan saat fase pembungaan NPK 16-16-16 plus MKP. Dosis cukup satu sendok makan.

Menurut Agus avokad jenis kelud dan aligator termasuk genjah atau cepat berbuah. Petani kelahiran 1 Maret 1972 itu mengatakan, kedua jenis avokad itu juga tidak banyak ulat, sehingga cocok sebagai tabulampot yang salah satu fungsinya sebagai estetika.

Adapun jenis yang relatif sulit berbuah adalah markus dan peluang. Agus mempertahankan satu atau dua buah per tanaman pada pembuahan perdana. Jika tanaman berumur 2,5—3 tahun, jumlah meningkat menjadi 11 buah per tanaman. (Bondan Setyawan/Peliput: Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img