Monday, November 28, 2022

Stephen Suryaatmadja: Bukan Anak Singkong Biasa

Rekomendasi

Anak muda, melek teknologi informasi, lulusan universitas luar negeri, tetapi berkebun singkong?

 

Itu bukan kisah di sinteron-sinteron, tetapi benar-benar terjadi. Anak muda itu adalah Stephen Suryaatmadja SE, MBA. Ia lulusan Departemen Pemasaran Hawaii Pasific University, Honolulu, Amerika Serikat, yang serius mengebunkan singkong di lahan 12 ha. Lokasi kebun tersebar di lima lokasi, semua di Desa Rancabungur, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jarak kebun dari rumahnya di Cilandak, Kota Jakarta Selatan, mencapai 70-an km.

Pada pertengahan Maret 2012, Stephen Suryaatmadja berangkat ke arah Rancabungur. Tentu saja, ia tak mengendarai sendiri mobil itu, karena seorang sopir memacu mobilnya ke mana pun  ia mau. Di sana, pria kelahiran 2 April 1973 itu panen singkong Manihot esculenta. Hari itu 20 pekerja anak buah Jin Ho mencabut 2.000 tanaman berumur delapan bulan. Itu hasil penanaman 20 Juli 2011. Jin Ho pengepul yang kerap memborong singkong, termasuk di kebun Stephen. Ia pemasok ke beberapa industri keripik berbahan baku singkong.

Singkat kata, Stephen tinggal menunggu hasil akhir berupa total bobot umbi tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu. Sejak mencabut, memisahkan umbi dari batang, mengupas, hingga mengangkut menjadi tanggung jawab Jin Ho. Stephen hanya tahu beres. Usai tengah hari, Stephen tahu total bobot panen mencapai 6 ton dari 2.000 tanaman. Harga jual saat ini mencapai Rp1.000 per kg. Stephen berpeluang meningkatkan laba, jika produksi manggu-varietas yang ditanam-melesat. Produksi manggu sejatinya mencapai 15-20 kg per tanaman.

Ekonomis

Sepekan berselang, Stephen kembali panen 8.200 batang di lahan 1 ha hasil budidaya pada 27 Juli 2011. Pria penggemar fitnes itu mengatakan, biasanya sepekan sebelum panen, Ruslan-yang membantu Stephen dalam budidaya singkong-menghubungi pengepul. Pengepul seperti Jin Ho lantas melakukan survei untuk melihat sosok tanaman dan umbi. Jika sampel umbi memenuhi kriteria yang dipersyaratkan antara lain diameter minimal 5 cm, beberapa hari kemudian barulah panen berlangsung.

Jin Ho mengatakan andai saja volume panen Stephen 2-3 kali lipat pun, ia masih sanggup menampung. Toh, Stephen tak perlu bersusah-payah mencabut batang demi batang. Sebab, pengepul menyediakan tenaga kerja sekaligus menanggung biaya panen. Ia terima bersih hasil panen itu. Itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Stephen sehingga ia serius mengebunkan singkong manggu di lahan 12 ha. Ia memilih singkong berkulit putih itu lantaran pas untuk industri keripik.

Di kebun Stephen varietas itu memberikan hasil rata-rata 3 kg per tanaman. Menurut Ruslan, jarak tanam 1,1 m x 1,1 m sehingga total  populasi mencapai 8.200 tanaman per ha. Artinya, total produksi manggu minimal 24 ton per ha. Ruslan mengatakan biaya produksi dalam budidaya singkong antara lain 300 karung pupuk kandang sebagai pupuk dasar total Rp2,1-juta. Saat tanaman kerabat jarak itu berumur dua bulan, Ruslan memberikan masing-masing 150 kg Urea dan kalium-setara Rp663.000.

Biaya lain berupa 4 liter herbisida per ha setara Rp2,4-juta. Ruslan menyemprotkan 1 cc herbisida per 10 liter ketika tanaman berumur dua bulan. Di luar biaya sewa lahan dan tenaga kerja, Stephen mengeluarkan ongkos budidaya Rp3,2-juta per ha. Dengan biaya itu dan produksi rata-rata 3 kg per tanaman, anak sulung pasangan Drs Henricus Suryaatmadja MS Ak dan Dra Henriette Tanrahaju itu mengatakan bahwa budidaya singkong saat ini masih ekonomis.

Bergeser

Menurut Stephen singkong menjadi komoditas yang prospektif. Indikasinya antara lain bermunculan industri penganan berbahan baku singkong  yang digemari kalangan menengah atas.  “Industri keripik terus bermunculan,” ujar Stephen yang menggemari arwana sebagai satwa klangenan itu. Lagi pula faedah singkong amat beragam. Selain sebagai bahan pangan, umbi itu juga potensial sebagai bahan bakar nabati dan pakan bagi beragam ternak. Atas dasar itulah Stephen tertarik menanam singkong sejak dua tahun silam.

Pria 39 tahun itu membudidayakan 8.200 batang di lahan 1 ha berbeda setiap 2-4 pekan. Dengan demikian, ia juga dapat panen dengan interval sama, yakni 2-4 pekan. Setiap kali panen, hari itu juga ia langsung mengolah tanah dengan garpu sehingga tanah menjadi gembur. Pekerja lantas membuat gundukan kecil setinggi 15 cm. Di tengah gundukan itulah, ia menanam bibit singkong setinggi 20 cm. Selama ini Stephen terus-menerus menanam singkong di lokasi yang sama. Artinya ia tak menanam komoditas lain sebagai selingan.

Mengebunkan singkong menjadi pilihan juga karena tanaman asal Amerika Selatan itu tak begitu menuntut perhatian. Lagi pula, Ruslan membantu penanganan budidaya itu. Harap mafhum, Stephen  memang mesti membagi waktu secara ketat. Selain singkong, ia mengelola bisnis plastik cepat urai-terurai dalam waktu dua tahun, plastik pada umumnya terurai hingga ratusan tahun-di bawah bendera PT Gadjah Tunggal Plastindo. Konsumennya adalah hotel, restoran, dan sekolah-sekolah asing.

Perusahaan lain yang ia kelola adalah PT Batik Putra Solo yang bermitra dengan 20 pembatik di Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Mengelola dua perusahaan keruan saja menyita waktu Stephen. Itulah sebabnya, frekuensi kunjungan Stephen ke kebun-kebun singkong hanya saat waktu tertentu seperti penanaman, panen, atau pemupukan. Menjadi petani singkong dan pengusaha memang hasrat lama Stephen yang semula bekerja di perusahaan minyak dan bank itu.

Tak malu menjadi petani singkong? “Mengapa mesti malu? Saya memang petani singkong,” kata Stephen. Jadi jangan bayangkan petani singkong kini dengan petani 40 tahun silam. Dahulu petani singkong adalah sosok renta dan miskin. Namun, pada abad ke-21 ini petani singkong adalah anak muda yang acap kali berselancar di dunia maya, berpendidikan, dan berpenghasilan besar. Dunia (singkong) telah berubah. (Sardi Duryatmo)


  1. Stephen Suryaatmadja menjadi petani singkong di lahan 12 ha
  2. Stephen langsung menanam singkong di lahan bekas panen
  3. Panen, lalu timbang umbi, lalu menerima bayaran
Previous articleBeda Pasar Lain Jenis
Next articleEksportir Terbesar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img