Friday, December 2, 2022

Surga Biwa Tanah Karo

Rekomendasi

Sanjungan kebun terluas di Asia layak disandang kebun di areal Taman Simalem Resort itu. Di negeri asalnya—China—sulit dijumpai kebun loquat—sebutan lain biwa—milik perorangan dalam hamparan luas. Di sana biwa dibudidayakan sebagai tanaman pagar atau tanaman pekarangan. Sebagian besar biwa tumbuh liar di perbukitan. Kalau pun ada yang mengebunkan secara komersial, skala usahanya tidak terlalu luas. Rata-rata pekebun memiliki 100 tanaman.

Di negeri Tirai Bambu itu biwa dibudidayakan di 19 provinsi di sepanjang Sungai Yangtze hingga kepulauan Hainan (bagian selatan Hongkong). Sentra produksi terbesar terdapat di Provinsi Fujian dengan total luas penanaman mencapai 11.900 ha dan total produksi 35.000 ton/tahun; Provinsi Zhejiang 9.100 ha dengan total produksi 30.000 ton/tahun. Sementara di Jepang. luas areal tanam biwa mencapai 2.346 ha. Sentra penanaman terluas di Nagasaki yakni 675 ha. Sentra lainnya tersebar di kawasan Kagoshima dan Chiba.

Padat modal

Di Amerika Serikat biwa ditemukan di Central Valley, Kalifornia, dan di bagian pesisir selatan antara Los Angeles dan San Diego. Di sana pun biwa tidak dibudidayakan dalam skala luas. Sebagian besar biwa diimpor dari Spanyol.

Biwa memang sulit diusahakan secara komersial karena padat modal. Maklum, biwa baru belajar berbuah umur 4—5 tahun. Pekebun mesti mengeluarkan biaya tetap untuk perawatan selama masa tunggu hingga berbuah. Pantas saking langkanya, di Amerika Serikat biwa tergolong buah mahal. Nispero—sebutannya di Spanyol—dibanderol US$4—US$8 setara Rp40.000—Rp80.000 per 453 g.

Di tanahair biwa baru bisa dijumpai pada akhir September—Desember. Pada penghujung tahun itu biwa panen raya. Sayang, kebanyakan hanya dijajakan di pasar tradisional di kawasan Brastagi, Sumatera Utara. Di dataran tinggi lain seperti Karo, Tapanuli Utara, Simalungun, Toba Samosir, dan Dairi, hanya beberapa penjual yang menjajakan Eriobotrya japonica. Di luar Sumatera Utara biwa tumbuh di dataran tinggi seperti di Cianjur, Jawa Barat. Namun, populasinya tak sebanyak di Sumatera Utara.

Sepuluh tahun silam, biwa yang dijual di pasar tradisional sebagian besar berasal dari hutan atau tanaman pekarangan. Baru pada 2005, di Brastagi ada beberapa warga yang mengebunkan biwa dalam skala kecil. “Paling banyak hanya 100 pohon,” ujar Frits Silalahi, kepala Kebun Percobaan Tanaman Buah Brastagi.

Intensif

Hampir bersamaan dengan itu biwa dikebunkan secara intensif oleh PT Merek Indah Lestari (MIL) di Taman Simalem Resort. Loquat ditanam teratur dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Kondisi tanah di lereng yang menghadap ke Danau Toba itu sebetulnya miskin hara. Musababnya, kondisi tanah berbatu dan berpasir. Itulah sebabnya kawasan itu sebelumnya hanya dihuni semak belukar.

Untuk menambah kesuburan tanah, Windra Yanta Tarigan, manajer kebun, menambahkan campuran pupuk bokashi pada lubang tanam sebelum penanaman. Pupuk terbuat dari campuran kotoran ternak, gulma, dan serasah yang difermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Masing-masing lubang tanam diberi 10 kg pupuk bokashi.

Sumber bibit diperoleh dari Kebun Percobaan Tanaman Buah Brastagi. Kebun percobaan milik Departemen Pertanian itu memang secara intensif memperbanyak biwa. Bibit diperoleh dari hasil sambung pucuk dengan batang bawah biwa asal biji. Teknik perbanyakan itu paling efektif. Selain kualitas tanaman seragam, biwa berbuah lebih cepat yaitu pada umur 4—5 tahun. “Bila asal biji baru berbuah setelah 7—8 tahun,” kata Frits Silalahi.

Ditarik

Kebun di lereng dengan kemiringan 45o itu terlihat elok. Pada radius 1 m di sekeliling pangkal batang tak sedikit pun gulma dibiarkan tumbuh. Permukaan tanahnya pun dibuat lebih rendah. Tujuannya agar pada saat pemupukan, pupuk tidak tercuci air siraman atau air hujan lantaran kondisi lahan miring.

Tajuk tanaman pun membulat lantaran rutin dipangkas. “Tanaman sengaja dibuat pendek agar tidak roboh diterpa angin,” kata Windra. Maklum, lokasi kebun berada di ketinggian 1.400—1.600 m dpl. Pada ketinggian itu terpaan angin cukup kencang.

Hampir seluruh percabangan biwa melengkung ke bawah. “Itu bekas penarikan cabang untuk merangsang pembungaan,” kata Windra. Cabang yang sejatinya tumbuh ngelancir diikat tali plastik, lalu ditarik hingga rebah ke bawah. Teknik itu mirip perangsangan bunga pada lengkeng. Pada saat penarikan itu, tanaman diberi pupuk berkadar fosfat (P) dan kalium (K) tinggi. Menurut Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta, fosfor berperan mengubah cahaya matahari menjadi karbohidrat melalui fotosintesis. Kadar karbohidrat tinggi meningkatkan rasio karbon (C) dan nitrogen (N). Pada kondisi itu, fase pertumbuhan tanaman beralih dari vegetatif ke generatif yang ditandai dengan munculnya bunga. Pada saat pentil, dompolan buah dibungkus dengan jaring plastik. “Saat berbuah biasanya mengundang burung datang. Jadi buah harus dibungkus agar tidak dimakan,” ujar Windra.

Budidaya intensif, menyebabkan biaya operasional kebun tinggi. “Kami tidak semata-mata mengejar keuntungan, tapi juga untuk konservasi. Apalagi biwa kini semakin langka,” tutur Windra. Untuk menutupi biaya, Windra menjual biwa dengan harga mahal yaitu Rp25.000/kemasan isi 250 g. Biwa dijual di gerai di lingkungan resor dan para pelanggan.

Toh meski mahal Windra kewalahan melayani permintaan. Maklum, dari seluruh tanaman berumur 5 tahun baru 10% yang rutin berbuah. “Kebanyakan permintaan datang dari warga keturunan Tionghoa. Mereka meyakini biwa sebagai tanaman obat,” katanya.

Arah Sidikalang

Kebun biwa itu ditempuh sekitar 2,5 jam dari Medan, Sumatera Utara, menuju arah Sidikalang. Begitu memasuki gerbang, Trubus disambut pemeriksaan ketat petugas keamanan. Lokasi kebun berjarak 1 km dari pintu gerbang. Di sana juga menghampar 90.000 tanaman teh, 2.500 jeruk siam madu, dan 3.500 kopi ateng.

Di dalam kompleks resor itu berdiri bangunan-bangunan megah dan beragam fasilitas seperti lapangan golf, restoran, teater terbuka, dan helipad. Maklum, kebun itu juga dirancang sebagai kawasan agrowisata. Pantas bila pelancong mancanegara seperti Singapura, Jepang, dan Jerman betah berlama-lama di kebun biwa terluas di Asia. (Imam Wiguna)

KEturunan Tionghoa meyakini bisa sebagai tanaman obat sejak abad ke-12

 

 

Biwa dijual di gerai di lingkungan resor dengan harga Rp25.000/kemasan isi 250 g

Lahan berkemiringan 45o seluas 5 ha ditanami

1.780 biwa di Taman Simalem Resort, Merek, Karo,

Sumatera Utara

Foto-foto: Imam Wiguna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img