Monday, November 28, 2022

Surga di Atap Thailand

Rekomendasi

Menikmati panorama di dataran tertinggi Thailand, tempat raja mengubah ladang opium jadi daerah pertanian intensif.

Mentari hampir berada di atas kepala tatkala Trubus menginjakkan kaki di Taman Nasional (TN) Doi Inthanon. Namun, bukan teriknya surya yang terasa, tapi semilir angin nan lembut beserta udara sejuk menyapa. Kicauan burung dan gemercik daun pepohonan pun seolah turut menyambut. Dalam bahasa Thailand doi berarti gunung. Jadi Doi Inthanon artinya Gunung Inthanon.

Inthanon masuk dalam wilayah Distrik Mae Cham, Provinsi Chiang Mai, Thailand. Untuk mencapai Doi Inthanon, Trubus menempuh jarak  58 km  dari kota Chiang Mai menggunakan kendaraan roda empat. Berada pada ketinggian 2.565 m di atas permukaan laut (m dpl), Inthanon sohor dengan sebutan puncak tertinggi. Yang dimaksud puncak tertinggi di sana hanyalah dataran paling tinggi. Bukan seperti puncak gunung di tanahair. Untuk mencapainya bisa dengan kendaraan pribadi atau umum.

Suhu udara rata-rata sepanjang tahun pada kisaran 2—200C. Lebih rendah 80C dibanding suhu rata-rata kota Chiang Mai. Nyaris setiap hari, taman nasional seluas 59.440 ha itu tertutup kabut. Akibat embusan angin monsun barat daya curah hujan di Inthanon mencapai 2.000 mm setiap tahun. “Bila musim hujan datang, suhu udara bisa mencapai 00C,” kata Namjai, warga lokal.

Kubis hias menjadi salah satu penghuni taman
Kubis hias menjadi salah satu penghuni taman

Taman hutan

Sebanyak 1.275 spesies tanaman menjadi penghuni Inthanon. Spesies endemiknya yakni  rhododendron Rhododendron arboretum dan paku-pakuan Araiostegia fuberiana. Memasuki areal taman hutan hujan tropis, Trubus menyusuri jalan berupa jembatan kayu sepanjang 360 m yang dirancang oleh Michael Macmillan Walls, botanis dari Kanada. Jalur itu dibangun untuk memudahkan pengunjung menikmati taman.

Di dalam taman tumbuh aneka tanaman rambat yang menjuntai menyerupai tirai. Sinar matahari lembut menerobos dari sela-sela tajuk pepohonan berumur ratusan tahun yang rindang dan tinggi menjulang. Paku-pakuan Araiostegia fuberiana dan lumut Spagnum cuspidulatum bergelayutan di setiap batang puspa Schima wallichii, Pinus merkusii, rhododendron Rhododendron arboretum, dan Syzygium angkae memberikan nuansa khas hutan hujan.

Yang istimewa terdapat 3 spesies asli rhododendron di sana. Dua spesies masing-masing hidup sebagai epifit dan semak. Namun, keduanya memiliki warna bunga yang sama yakni putih. Sementara spesies terakhir adalah perdu dengan bunga berwarna merah. Lantaran memiliki bentuk bunga mirip mawar, penduduk negeri Siam lebih mengenal rhododendron sebagai salah satu jenis mawar.

Selama perjalananan, sayup terdengar suara kicauan burung bersahutan dari atas kanopi pohon. Sayang, burung-burung itu tidak menunjukkan diri. Hasrat untuk mengabadikan gambar pun pupus. Namun, literatur menyebut ada beragam jenis burung hidup di Inthanon. Jenis yang sudah teridentifikasi antara lain murai Pica pica, barbet Lineated barbet, leafbird berdahi kuning Chloropsis aurifrons, cipoh kacat Common iora, dan kutilang tengkuk hitam Hypothymis azurea.

Pagoda

Puas menyusuri taman, Trubus melanjutkan perjalanan melewati punggung gunung, menuruni jalanan berkelok di pinggir hutan lebat. Tujuan selanjutnya adalah pagoda kembar Naphamethanidon dan Naphaphonpumisiri. Letaknya di jalur utama TN Doi Inthaon. Waktu tempuh kurang dari 30 menit mengendarai mobil. Naphamethanidon dibangun pada 1987 sebagai hadiah untuk ulang tahun ke-60 raja Bhumibol Adulyadej. Adapun Naphaphonpumisiri dibangun menyusul pada 1992 untuk hadiah ulang tahun ke-60 ratu Sirikit.

Kedua pagoda saling berhadapan dengan jarak 100 meter. Pagoda raja memiliki stupa berwarna cokelat, sedangkan stupa pagoda ratu berwarna ungu. Di pintu masuk tempat wisata itu terdapat air terjun mini buatan berhias miniatur gajah berwarna cokelat. Di sisi kanan dan kiri terdapat rumpun hortensia Hydrangea macrophylla, morning glory Ipomoea nil, dan krisan Chrysanthemum sp.

Pemandangan menakjubkan justru terlihat kala berada di puncak pagoda. Untuk mencapainya harus menaiki puluhan anak tangga. Panorama yang terlihat dari atas adalah taman dari paduan rerumputan, cemara lilin, tanaman berbunga dan perdu yang dihiasi oleh deretan perbukitan. Warna-warni bunga merah, kuning, putih, dan jingga menyembul di antara rimbun dedaunan. Hijaunya rerumputan bak karpet menutup rapat tanah kontras dengan warna bunga. Salah satu jenis rumput yang digunakan adalah ‘sweet grass’ Hierochloe odorata. Di taman itu juga terdapat gerombolan kubis hias berwarna ungu gelap, hijau tua, dan hijau semburat putih di bagian tengah.

Di Thailand hortensia penghias taman
Di Thailand hortensia penghias taman

Ladang Opium

Di kawasan Doi Inthanon, raja Bhumibol Adulyadej membangun sebuah proyek pertanian. Wartawan senior Trubus, Utami Kartika Putri, mengunjungi lokasi itu pada 2002. Proyek itu salah satu upaya raja mengubah daerah yang semula sentra opium menjadi kawasan pertanian maju. Candu membuat penduduk sengsara. Raja mengajari masyarakat bertani dengan membangun proyek pertanian, berupa greenhouse-greenhouse berisi aneka tanaman. Pemerintah Thailand tak setengah-setengah membangun kawasan itu menjadi sentra hortikultura. Mereka membangun unit riset dan pengembangan untuk mendukung kemajuan pertanian di sana. Misalnya, laboratorium kultur jaringan bunga potong. Tanaman hasil kultur jaringan itu lantas disalurkan langsung ke petani.

Di dalam greenhouse berukuran 500—1.000 m² pengelola proyek menanam tanaman bunga seperti krisan, amarilis, mawar, bromelia, dan fuchsia. Mereka juga mengebunkan beragam tanaman sukulen seperti kaktus, agave, sansevieria, gymnocalicum, dan echevaria. Pun paku-pakuan seperti pteris, adiantum, asplenium, dan platycerium. Cara-cara budidaya tanaman itu lalu diadopsi petani-petani sekitar. Petani mawar misalnya memilih musuh alami untuk mengendalikan hama dan penyakit daripada menggunakan pestisida. Maklum, pemerintah hanya mau membeli mawar dengan kandungan pestisida terendah. Cara itu ternyata cukup jitu sebab petani terpacu untuk menghasilkan produk bermutu. Inthanon pun berubah wajah. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img