Thursday, May 7, 2026

Tabulampot Avokad Berbuah Lebat

Rekomendasi
- Advertisement -
Hamparan tabulampot avokad milik Agus Joko
Susilo di lahan seluas 2 ha di Kediri, Jawa Timur.

Kiat membuahkan avokad dalam pot. Agus Joko Susilo sukses membuahkan ribuan tabulampot avokad.

Trubus — Pohon avokad tumbuh menjulang dengan tajuk yang lebat. Sayang, pada musim tertentu ulat kerap menyerang daun Persea americana sehingga pohon gundul tanpa daun. Dampaknya pemilik menebang pohon avokad yang tumbuh dekat tempat tinggal karena takut ulat. “Biasanya setelah daun rontok habis oleh ulat, daun tumbuh kembali, lalu terangsang berbunga dan berbuah,” kata penangkar buah di Pandeglang, Provinsi Banten, Andri Priana.

Tabulampot avokad aligator berumur 2 tahun memamerkan buah muda.

Anggapan itu tak menyurutkan Agus Joko Susilo mengepotkan avokad. Pekebun di Kediri, Jawa Timur, itu mengamati tak semua avokad mengundang ulat. “Ada varietas tertentu yang tak disukai oleh ulat,” kata lulusan Sekolah Teknik Menengah bagian listrik itu. Sebut saja avokad kelud, markus, aligator, has, dan miki. Nama-nama itu memang varietas avokad yang dikenal di kalangan pehobi avokad.

Media tanam

Menurut ahli buah di Kota Bogor, Jawa Barat, Dr. Mohamad Reza Tirtawinata, M.S. dalam sebuah spesies tanaman sering kali ditemui varietas yang kurang disukai hama dan penyakit tertentu. “Pemuliaan tanaman seperti seleksi atau penyilangan banyak yang mencari varietas tahan terhadap organisme pengganggu tanaman,” kata doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Bobot buah avokad aligator mencapai 500 g
meskipun di tabulampot.

Namun, untuk avokad belum ada bukti ilmiah. Avokad miki misalnya di Depok, Jawa Barat, memang tingkat serangan ulat hanya sedikit. Pekebun di sana mengambil kesimpulan miki tidak disukai ulat. “Tetapi besar kemungkinan karena populasi miki sedikit,” kata Reza. Sebaliknya, menurut Reza, pada penanaman luas seperti 10 ha di Bogor, Jawa Barat, banyak miki yang terserang ulat hingga gundul. Oleh karena itu, perlu pengujian lebih lanjut dengan menanam beragam jenis avokad dalam jumlah besar untuk membuktikan.

Berbekal hasil pengamatannya itu Agus mengepotkan ribuan avokad di kebunnya di Kediri berketinggian 100 meter di atas permukaan laut (dpl). Agar avokad tabulampotnya mudah berbuah, Agus menanam hanya avokad yang sebelumnya terbukti dapat berbuah di dataran rendah. “Secara umum ada avokad dataran tinggi dan dataran rendah. Jadi, varietas yang saya pilih syaratnya 2, yakni adaptif di dataran rendah dan tak disukai ulat,” kata Agus.

Ia memilih avokad kelud, aligator, markus, has, dan miki. Di tangan Agus avokad dapat belajar berbuah ketika berumur setahun pascaokulasi. Kuncinya tanaman harus sehat. “Pastikan media tanam subur sehingga pertumbuhan bongsor sehingga dapat diatur untuk berbuah,” kata Agus. Ia menggunakan media tanam berupa tanah lapisan atas atau top soil asal kebun bambu, arang sekam mentah, dan pupuk kandang kotoran kambing yang telah dihancurkan dengan perbandingan 3:2:1.

Avokad kelud paling mudah berbuah di daerah Kediri, Jawa Timur.

Tanah lapisan atas asal kebun bambu memang subur serta kaya mikroorganisme yang menguntungkan. Demikian pula kotoran kambing menjadi pupuk organik. Sementara sekam membuat media porous sehingga media tetap kaya oksigen. Pastikan pula di dasar pot—berdiameter 50 cm—diberi stereofoam atau pecahan genting agar air siraman tidak tergenang. “Biasanya tanaman disiram sehari sekali dengan irigasi tetes selama sejam,” kata Agus.

Strategi itu membawa keberhasilan. Buktinya tabulampot Agus banyak berbuah. Jumlahnya mencapai 2.500 tabulampot. Menurut Agus magori atau produksi perdana hanya menghasilkan 2—3 buah per tanaman. Bobot mencapai lebih dari 500 gram per buah. Agus mengatakan, rasa daging buah sama persis dengan avokad hasil budidaya konvensional atau nontabulampot.

Menurut Agus seiring dengan penambahan umur tanaman, produksi bakal bertambah. Tanaman berumur 5 tahun pada pot 80 cm, misalnya, dapat menghasilkan 6—7 buah. Ia sengaja menanam avokad dalam jumlah banyak agar kebun dapat berfungsi ganda sebagai area agrowisata dan ruang pamer.

Avokad rajin berbunga jika tumbuh di media yang tepat dan subur.

Menurut pria berusia 47 tahun itu tidak ada cara khusus untuk membuahkan tabulampot avokad bebas ulat. “Prinsipnya tanaman diberi cekaman tertentu sehingga terangsang berbuah,” katanya. Agus merangsang avokad berbuah dengan stres air. Caranya selama 2 bulan tanaman yang sehat dengan ciri tajuk lebat di pot dihentikan penyiramannya. Avokad hanya disiram ketika daun terlihat hampir layu. Pada bulan berikutnya avokad terpicu berbunga.

Penangkar bibit tanaman biuah di Kota Depok, Jawa Barat, Eddy Soesanto, mengacungkan jempol terhadap cara Agus menanam tabulampot avokad. “Kunci yang dilakukannya sederhana. Hanya memilih avokad dataran rendah yang tidak disukai ulat, tetapi kunci itu banyak orang yang belum tahu,” kata Eddy. Menurut Eddy pehobi yang ingin mengikuti jejak Agus mesti jeli memilih varietas tahan ulat.

Musababnya saat ini karakteristik avokad yang beredar di pasaran baru terbatas menggambarkan keunggulan kualitas buah, tetapi belum secara khusus menggambarkannya pada ketahanannya terhadap hama dan penyakit. (Destika Cahyana)


Artikel Terbaru

Kecipir Berpotensi Jadi Bahan Pakan Gurami, Kecernaan Protein Tembus 70%

Trubus.id—Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deisi Heptarina, bersama tim mengembangkan formulasi pakan ikan gurami (Osphronemus goramy) berbasis...

More Articles Like This