Permintaan tanaman buah dalam pot (tabulampot) melesat selama pandemi corona virus disease-19 (Covid-19). Tabulampot berbuah lebih berprospek. Peluang membuat tabulampot untuk memasok pasar.

penjualan tabulampot lengkeng
bertambah meski di masa
pandemi. (Dok. Isto Suwarno)
Trubus — Di balik musibah sekalipun, terdapat berkah. Pada masa pandemi korona, penjualan tabulampot Isto Suwarno justru melonjak. Warga Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu berhasil menjual 200 tanaman lengkeng dalam pot setiap bulan sejak Maret 2020. Harga tanaman buah dalam pot (tabulampot) Rp850.000—Rp1,2 juta per pot. Omzet Isto minimal Rp170 juta dari perdagangan tabulampot lengkeng.
Isto mengatakan, “Penjualan tabulampot lengkeng selama pandemi corona virus disease-19 (Covid-19) luar biasa.” Sebelum masa pagebluk, Isto hanya menjual rata-rata 100 tanaman per bulan. Artinya perniagaan tabulampot lengkeng Isto meningkat 100%. Penangkar lengkeng sejak 1998 itu menduga banyak orang berada di rumah selama masa pandemi. Mereka mencari kegiatan positif seperti berkebun.
Permintaan meningkat
Wadah penanaman, kondisi tanaman, dan tingkat kesulitan membuahkannya memengaruhi perbedaan harga. Tabulampot berharga Rp850.000 tumbuh dalam kantong tanam. Sementara wadah penanaman tabulampot bernilai Rp1,2 juta yaitu pot berdiameter 60 cm. Tentu saja sosok tanaman paling mahal lebih kekar daripada yang ditanam di kantong tanam meski keduanya berumur dua tahun.
Tabulampot menjadi salah satu solusi berkebun bagi mereka yang memiliki lahan terbatas. Buktinya saat ini Isto hanya melayani permintaan dari konsumen di Yogyakarta dan sekitarnya serta daerah lain di Pulau Jawa. Sebetulnya permintaan di luar Pulau Jawa banyak, tapi kesulitan pengiriman. Bisa dibilang penjualan tabulampot Isto berpotensi lebih besar lagi jika permintaan konsumen di luar Pulau Jawa terpenuhi.

Banyak orang yang menghendaki membeli tabulampot lengkeng berbuah atau berbunga. Namun, pemilik Telaga Nursery itu menyarankan kepada pembeli untuk memilih tabulampot siap berbuah. “Setelah beberapa hari tanaman tiba di tempat tujuan dan tampak sehat, baru saya memandu cara pembuahan,” kata alumnus Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Semarang, itu.
Cara itu memungkinkan pembeli menikmati proses merawat bunga, pentil, dan memanen buah. Jadi, bukan semata-mata memetik buah. Konsumen senang karena berhasil membuahkan dan memanen lengkeng sendiri. Tidak hanya Isto yang penjualan tabulampotnya lancar. Agus Joko Susilo pun semringah penjualan tabulampot avokad miliknya relatif stabil.
“Sekitar 200 tabulampot avokad terjual pada sepuluh hari pertama bulan Juli 2020,” kata warga Desa Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu. Menurut Agus penjualan itu berkat konsisten mempromosikan kegiatan menanam ketika berkegiatan di rumah selama pandemi. Media sosial menjadi andalan Agus memasarkan tabulampot.
Produsen tabulampot avokad sejak 2015 itu memasarkan sekitar 500 tabulampot avokad berharga Rp200.000—Rp2 juta ke berbagai daerah di Indonesia. Ia mengutip laba minimal 50% sehingga mendapatkan laba paling sedikit Rp50 juta saban bulan. Kehadiran tabulampot avokad kreasi Agus untuk menepis anggapan masyarakat luas bahwa avokad mesti tumbuh besar dahulu kemudian berbuah.
Petani 47 tahun itu membuktikan avokad pun bisa berbuah di pot dan tidak berulat. Orang-orang dari penjuru Indonesia pun berdatangan ke kebun Agus. Di sana menghampar ribuan tabulampot avokad yang mayoritas pernah berbuah. Tentu saja perlu perawatan intensif yang telaten untuk membuahkan Persea americana di pot (baca Tabulampot Avokad Berbuah Lebat halaman 12—13).
Bermanfaat

Agus menjagokan avokad kelud untuk tabulampot lantaran paling genjah dibandingkan dengan varian lainnya. Jadi, tanaman pendek pun sudah berbunga.Dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Methodist Indonesia Medan, Sumatera Utara, Yenny Laura K.D. Butarbutar, S.P., M.P., menyatakan tabulampot menjadi tren khususnya bagi masyarakat perkotaan karena keterbatasan lahan untuk membudidayakan tanaman buah.
Sejatinya tabulampot bermula pada 1982. Saat itu belum ada polibag. Para penangkar bibit memakai keranjang bambu untuk pengiriman jarak jauh agar tidak rusak. Kemudian pemilik memindahkan tanaman buah itu ke dalam pot gerabah atau drum bekas ketika sampai di tempat tujuan. Tidak disangka, tanaman buah di dalam pot itu ternyata menghasilkan buah. Kemungkinan dari kejadian itu juga tren usaha tabulampot bermula. Yenny menyatakan beberapa keuntungan memelihara tabulampot di pekarangan antara lain menciptakan eksoistem yang sehat serta dapat dinikmati keindahannya.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si., beberapa manfaat tabulampot yaitu pekarangan sempit di perkotaan dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien serta menjadi sumber oksigen bagi penduduk perkotaan. “Tabulampot juga menambah estetika pekarangan ketika tengah berbuah dan mengurangi panasnya suhu lingkungan mikro sekitar rumah. Musababnya dedaunan tabulampot menahan pantulan sinar matahari,” kata doktor agroklimatologi/permodelan tanaman alumnus Institut Pertanian Bogor, itu.

Menurut Fadjry kriteria tanaman buah yang cocok untuk tabulampot yakni disukai konsumen (cita rasa dan penampilan warna kulitnya), rajin berbuah (lebih utama yang berbuah sepanjang musim), pemeliharaan mudah, dapat dibentuk bonsai, serta pembungaan dan pembuhannya dapat diatur. Jeruk, lengkeng, jambu biji, jambu air, mangga, anggur, belimbing, dan avokad beberapa buah yang pas untuk tabulampot.
Pehobi baru
Sebetulnya membuahkan tabulampot banyak aral seperti kecocokan jenis dengan ketinggian tempat. Belum lagi serangan hama dan penyakit, serta nutrisi tanaman (baca: Atasi Aral Tabulampot halaman 28—29). Tabulampot lengkeng Isto tidak terjual sama sekali pada enam tahun pertama pada 1998. Beberapa teman meragukan kesuksesan tabulampot avokad bikinan Agus.

Menurut produsen tabulampot di Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, M. Khoirul Soleh, berbisnis tabulampot berarti harus memiliki lahan yang memadai. Wajar saja karena tabulampot boros tempat. Untuk menyiasatinya Irul bemitra dengan para penangkar lainnya. Tantangan pun menghampiri para pehobi tabulampot. Mulai dari tanaman yang mogok berbuah hingga serangan hama dan penyakit. Namun, setelah mampu mengatasi beragam kendala, pekebun berpeluang menuai laba.
Maraknya bisnis tabulampot pada masa pandemi korona, menjadi berkah tersendiri bagi Toko Trubus. Peningkatan permintaan tabulampot mulai terjadi pada awal Juni 2020. Ketika itu, hampir seluruh gerai toko yang memiliki 25 cabang di seluruh Indonesia itu mengalami lonjakan drastis. Di Toko Trubus Cimanggis, Kota Depok, misalnya, hampir setiap hari ramai diserbu para hobiis dadakan. Mangga, jambu air, dan aneka jenis jeruk merupakan tanaman buah favorit konsumen. General Manajer PT Trubus Mitra Swadaya, Udi Yuswanto, memprediksi penjualan tabulampot bakal terus meningkat meski pandemi usai. Pesanan hobiis dan pekebun besar yang terkendala distribusi, akan mengalir. “Bisnis tabulampot memang sangat prospek,” katanya.
M. Khoirul Soleh, mengatakan, bisnis tabulampot menguntungkan. “Orang yang mengusahakan tabulampot relatif sedikit,” kata Irul, sapaan akrab M. Khoirul Soleh. Pengalaman Isto dan Agus mengungkapkan keuntungan berjualan tabulampot sekitar 50%.

Sebetulnya tidak hanya perniagaan tabulampot yang stabil bahkan meningkat. “Penjualan sarana produksi pertanian (saprotan) seperti media tanam dan pupuk pun meningkat sekitar 100%,” kata anggota staf pemasaran Toko Trubus, Edi Susanto. Apakah tren tabulampot bakal berlanjut pada 3—5 tahun mendatang? Fadjry Djufry mengatakan tren tabulampot setelah pandemi kemungkinan meningkat.
Itu karena kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dengan mengonsumsi buah segar cenderung meningkat (Baca “Tabulampot Komoditas Komersial” halaman 30—31). Udi menuturkan, tren tabulampot berlanjut. Musababnya pembangunan perumahan terus berlangsung. Itu salah satu pasar potensial. Munculnya pehobi tabulampot baru menjaga tren tabulampot.
Secara tidak langsung pamor tabulampot pun terangkat karena pandemi korona. Kebijakan bekerja dari rumah menyebabkan banyak orang melampiaskan hobi pada tabulampot. Eka Budiati salah satu pehobi baru tabulampot. Warga Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, itu tersengsem tabulampot karena baru mengetahui tanaman buah bisa menghasilkan meski ditanam di pot.

di dak rumah Willy Wong. (Dok. Willy Wong)
Ia memiliki lebih dari 20 tabulampot di dak. Jejak Eka bertabulampot diikuti para tetangga. Mereka tertarik karena bisa memanen buah di lahan terbatas. Apalagi para tetangga itu pernah menyicipi aneka buah segar dari kebun tabulampot Eka. “Ada sekitar sembilan tetangga yang tertarik bertabulampot,” kata Eka.
Pehobi yang sudah punya tabulampot pun kerap menambah koleksi. Meski Willy Wong memiliki sekitar 25 tabulampot, kerap menambah ketika melihat tabulampot bermutu bagus. “Padahal lahan untuk tabulampot pun makin sedikit,” kata pria yang bertabulampot sejak 2005 itu.
Pehobi baru lainnya yakni Nurrohman. Warga Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, itu terpincut tabulampot avokad setelah menyaksikan tayangan di laman penyedia video tentang tanaman avokad yang berbuah di pot. Rompis—sapaan akrab Nurrohman—pun memboyong beberapa tabulampot avokad pada Juli 2019. Isto kewalahan mendapatkan pot untuk membikin tabulampot selama pandemi.
Ia mengatakan, ”Salah satu pusat grosir pot terbesar di Yogyakarta hampir kehabisan stok. Saya mesti menunggu sekitar 15 hari untuk mendapatkan pot.” Memang pot itu tidak hanya untuk tanaman buah. Bisa juga digunakan untuk tanaman hias. Setidaknya itu menjadi salah satu indikator tren tabulampot menggeliat. (Riefza Vebriansyah)
