Friday, August 12, 2022

Panen 5 Kali Lipat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kemukus lebat berkat pemupukan dan perawatan. (Dok. Aji WR)

Memacu produksi kemukus dengan pupuk kandang terfermentasi.

Trubus — Di kalangan petani kemukus muncul mitos, memupuk menyebabkan kematian tanaman. “Kalau menggunakan pupuk kimia sulur pasti busuk,” kata Mad Rohim. Petani di Desa Watuduwur, Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu pernah menaburkan pupuk kandang di sekitar perakaran. Tak lama berselang, tanaman terserang cendawan. Itulah sebabnya selama 17 tahun menanam kemukus, Rohim belum pernah memupuk.

Batang pisang sumber unsur fosfor. (Dok. Trubus)

Ia memperoleh informasi itu dari petani lain. Biasanya Rohim hanya membumbun tanah di sekitar perakaran dengan serasah atau gulma hasil penyiangan. Namun, pada 2016 belasan tanaman yang berbuah lebat tiba-tiba layu lalu mati. Sejak itu Rohim mempelajari pertanian organik secara otodidak mengandalkan teknologi informasi. Berbekal pengetahuan dari dunia maya, ia membuat pupuk organik padat (POP) dan pupuk organik cair (POC) terfermentasi.

Cangkang telur

Rohim membumbun tanah di sekitar perakaran dengan 5–6 kg POP per tanaman sejak 2017. Ia memberikan pupuk padat itu tiga kali setahun, yaitu pada awal, pertengahan, dan akhir musim hujan. Selain itu ia juga menyemprotkan pupuk organik cair pada pertengahan kemarau. Pada musim berbuah berikutnya, hasilnya mulai tampak.

Tandan buah makin lebat dan jumlah butiran per tandan bertambah. Jika tanaman umur lima tahun milik petani lain lazimnya hanya menghasilkan 1 kg buah segar per musim, maka kemukus milik ayah 2 anak itu bisa memproduksi 5 kg buah di umur sama. Umur 10 tahun produksinya bisa dua kali lipat, mencapai 10 kg buah segar per tanaman.
Rohim tidak hanya memanggul karung-karung berisi pupuk padat ke kebun. Saat menyemprotkan POC, ia bahkan menggendong mesin steam dengan sepeda motor.

Dengan mesin itu, ia bisa menyemburkan pupuk cair sampai tajuk teratas yang tingginya 10 m bahkan lebih. Maklum, makin subur kemukus makin tinggi tanaman itu merambat. Rohim membuat sendiri POP dan POC itu. Ia mendapatkan unsur nitrogen (N) dari daun yang mudah layu atau kotoran ayam. Unsur fosfor (P) dari batang pisang, sedangkan unsur kalium (K) dari sabut kelapa.

Pohon sengon lokal menjadi tajar pilihan Mad Rohim. (Dok. Aji WR)

Ia juga menambahkan unsur kalsium (Ca) dari cangkang bekicot, cangkang telur, atau tulang dari limbah dapur. Petani itu memfermentasi semua bahan menggunakan mikrob pengurai. Petani lain di Desa Pesangkalan, Pagedongan, Banjarnegara, Jawa Tengah, Aji Wibastu Rohmat, melakukan hal serupa. Aji menanam kemukus di pekarangan rumah dan kebun terpisah sejak 2015. Namun, tiga tahun terakhir ia rutin memberikan pupuk kandang.

Bedanya Aji membiarkan pupuk kandang itu lapuk tanpa fermentasi. Setahun sekali, menjelang musim hujan, ia menaburkan kotoran kambing matang di sekitar perakaran kemukus. Sekarung 25 kg kotoran kambing yang nyaris menjadi tanah ia berikan untuk 5–10 tanaman tergantung jarak antartanaman. Semula Aji (21) tidak sengaja memupuk kemukus. Ia memberikan pupuk untuk tanaman buah seperti durian atau kopi di lahannya.

“Ternyata kemukus dekat pohon yang dipupuk itu pertumbuhannya lebih baik dan produksinya meningkat,” kata ayah satu anak itu. Menurut Aji setiap meter pertambahan tinggi tanaman merambat setara sekilogram buah segar. Kalau tanaman merambat setinggi 5 m, produksinya bisa sampai 5 kg per tahun. Hal itu ia rasakan sepadan dengan biaya membeli pupuk kandang dan jerih payah menggendong karung ke kebun.

Pakai sabit

Aji dan Rohim menekankan hal sama, siangi rumput dengan sabit. “Jangan pernah mencabut apalagi mencangkul rumput di sekitar tanaman,” kata Aji. Rohim menyatakan akar kemukus menjalar dangkal di bawah permukaan tanah sehingga mencabut rumput saja rentan mengganggu perakaran dan memicu stres. Menurut Aji tinggi tanaman merambat setara jangkauan akar. Tanaman setinggi 3 m maka radius jangkauan akar pun 3 m.

Unsur kalium dalam sabut kelapa meningkatkan produksi kemukus. (Dok. Trubus)

Waktu pemberian pupuk pun sebaiknya berpatokan kepada kondisi iklim, bukan periode kalender. “Sekarang musim bergeser sehingga patokan tanggal menjadi kurang akurat,” kata Rohim.

Pohon tajar pun mempengaruhi pertumbuhan kemukus. Menurut Rohim tajar terbaik adalah sengon lokal. Daunnya juga tidak terlalu disukai ulat. “Ulat tidak menyerang daun kemukus, tapi kalau daun sengon rusak teduhannya berkurang,” kata Rohim.

Gamal Gliricidium sepium sebenarnya bagus untuk tajar, masalahnya pada musim hujan daunnya menjadi terlalu rimbun sehingga petani mesti rutin memangkas. Petani kemukus di Desa Kemuning, Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Tumardi memanfaatkan pohon lamtoro sebagai tajar kemukus.

Petai cina Leucaena leucocephala itu kokoh, tidak terlalu rimbun, dan berdaun kecil sehingga serasah yang jatuh tidak mengganggu daun kemukus. Tumardi maupun Rohim tidak menyarankan pohon dadap Erythrina variegata lantaran rentan penyakit. “Percuma kemukus tumbuh subur kalau pohon tajarnya ambruk,” kata Tumardi. Pemupukan, pemilihan pohon tajar, dan penyiangan kunci meningkatkan produksi kemukus sekalgus mendulang laba. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img