Monday, November 28, 2022

Tahun Paceklik Buah?

Rekomendasi
Sobir PhD
Sobir PhD

Pada 2013 Indonesia mengalami kemarau basah seperti pada 2010. Anomali cuaca kian sering terjadi.  Kemarau yang semestinya bercurah hujan rendah, malah bercurah hujan tinggi. Hujan nyaris mengguyur setiap hari dengan awan dan kabut yang hampir menutupi langit. Suhu udara pada musim kemarau pun menjadi lebih sejuk. Kondisi itu mengubah siklus produksi tanaman hortikultura beserta siklus hama dan penyakitnya.

Tanaman sebetulnya tetap membutuhkan kemarau dengan jangka waktu yang tepat. Pada musim itu tanaman mengalami periode kering yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Beberapa tanaman seperti durian, mangga, rambutan, dan manggis membutuhkan periode kering untuk merangsang bunga. Mereka biasanya panen pada 4—6 bulan pascakemarau.

Pada kondisi iklim normal, musim kemarau di Indonesia bergeser dari Sumatera di bagian barat hingga Papua di bagian timur.  Oleh karena itu periode panen buah di Indonesia mulai dari bagian barat ke arah timur berlangsung lebih dari 8 bulan dalam setahun.

Periode kering

Periode kering mendorong dua faktor induksi bunga yaitu rasio karbohidrat dan nitrogen (C/N) serta hormon pembungaan. Pada musim kemarau yang jarang hujan, sinar matahari bersinar tanpa terhalang awan sehingga proses fotosintesis optimal. Itu membuat jumlah karbohidrat (C) pada tajuk meningkat. Pada musim kemarau jumlah air terbatas di daerah perakaran sehingga tanaman mengurangi serapan nitrogen (N). Kondisi itu membuat C/N rasio meningkat.

Kekurangan air di perakaran membuat akar memberi sinyal pada tanaman untuk mengaktifkan gen yang terkait cekaman air. Gen itu menginduksi produksi hormon untuk memulihkan tanaman yang mulai stres. Gabungan kedua faktor itu pada tahap tertentu merangsang bunga. Pada praktiknya, setiap tanaman membutuhkan periode kering dan lingkungan berbeda untuk memunculkan bunga.

Riset Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Institut Pertanian Bogor, melaporkan masa kering 4 pekan cukup memicu manggis dan rambutan berbunga. Sementara durian membutuhkan 4—8 pekan periode kering dan mangga perlu 8—12 pekan masa kering agar berbunga. Tanpa musim kering serapan nitrogen terus terjadi sehingga fase vegetatif terus berlangsung.

Dampaknya energi untuk berbunga dan berbuah pun berkurang karena dipakai membentuk sel baru. Seandainya mereka berbunga, produksi pun sedikit. Pada beberapa kasus,  tanaman tetap mampu berbunga karena mengalami kering-basah berulang.  Kondisi basah  mengurangi keberhasilan penyerbukan karena polen mengandung air sehingga  berat.

Angin yang menerbangkan polen pun tak mampu membawanya terbang jauh. Bahkan kerap kali polen lembap berkecambah sebelum penyerbukan. Buah pun gagal terbentuk. Sementara agen penyerbuk lain seperti serangga jumlahnya berkurang saat udara lembap. Kondisi lembap juga menciptakan lingkungan ideal bagi penyakit tanaman sehingga dapat menggagalkan produksi buah atau bermutu rendah.

Contohnya panen manggis di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, pada 2010 ukuran buah kecil-kecil sehingga tidak layak ekspor. Nasib serupa dialami tanaman buah semusim seperti semangka, melon, dan blewah yang kurang menguntungkan pada musim kemarau basah. Itu karena risiko serangan penyakit meningkat. Rasa buah  hambar karena kandungan air meningkat.

Tetap tinggi

Tidak semua buah nasional bakal paceklik pada tahun ini akibat kemarau basah.  Kemarau basah justru menguntungkan tanaman buah yang tidak tergantung musim seperti nanas, pisang, dan pepaya. Produksi nanas pada 2010—saat terjadi kemarau basah—berkisar 1,4-juta ton, sama seperti 3—4 tahun sebelumnya. Produksi nanas tetap bertahan karena berkurangnya risiko serangan kutu putih Desmicoccus brevives. Begitu juga pisang.

Kemarau basah mengurangi efek serangan layu fusarium terutama jenis pisang meja seperti ambon, cavendish, barangan, dan emas sehingga panen pisang cenderung meningkat. Produksi pisang nasional pada 2010 sebanyak 5,7-juta ton, lebih tinggi dibandingkan dengan 3—5 tahun sebelumnya yang hanya 5-juta—5,4-juta ton.

Sementara pada pepaya hilangnya periode kering menyebabkan gejala kosong buah (skip alias lag, red) dapat dikurangi sehingga produksi buah meningkat. Meskipun demikian, pekebun tetap  waspada terhadap serangan penyakit.

Bukan berarti tak ada cara menyiasati musim kemarau basah. Pada jangka panjang pengambil kebijakan perlu menyeimbangkan luas areal produksi tanaman buah musiman seperti durian, mangga, rambutan, dan manggis dengan areal produksi tanaman buah tanpa musim seperti pisang, pepaya, dan nanas untuk menjaga stabilitas produksi buah nasional. Sementara dalam jangka pendek perlu dilakukan 3 strategi: menyiapkan tanaman, merangsang bunga buatan, serta memelihara bunga dan buah.

Tiga strategi

Strategi pertama meliputi upaya menekan pertumbuhan vegetatif dan memperbaiki lingkungan. Caranya dengan modifikasi pupuk, pangkas selektif, dan perbaiki sistem drainase. Fase vegetatif ditekan dengan memberi pupuk makro fosfor (P), kalium (K), dan kalsium (Ca), serta pupuk mikro yang selama ini abai diberikan kepada buah tahunan. Tujuannya agar pertumbuhan vegetatif dapat diimbangi dengan sel yang kuat agar siap berbunga dan berbuah.

Pangkas selektif dilakukan untuk mengurangi sink (sel tempat menyimpan hasil fotosintesis, red) yang tidak perlu agar hasil buah optimum sekaligus mengurangi kelembapan tajuk. Namun, pastikan pangkas yang dilakukan tidak merangsang tunas baru tumbuh. Tekniknya hanya pangkas tunas air, cabang meranggas, atau terserang penyakit. Kondisi itu juga membuat sirkulasi udara di tajuk lebih baik sehingga penyakit sulit berkembang.

Berikutnya perbaiki sistem drainase agar aktivitas akar optimal. Itu dilakukan dengan membuat guludan di sekitar pohon beserta rancangan sistem drainase kebun. Cara lain pemberian bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah di sekitar perakaran. Strategi kedua ialah merangsang bunga karena tanaman sudah siap dibungakan. Caranya dengan teknologi membungakan di luar musim yang selama ini sudah akrab dilakukan pada tanaman dewasa yang sudah berbuah. Merangsang bunga dapat melalui perlakuan di tanah sekitar batang, pencahayaan tanaman, dan pemangkasan.

Pada perlakuan melalui tanah, zat yang paling sering dipilih ialah paklobutrazol. Ia biasa digunakan merangsang mangga dan jeruk berbunga di luar musim. Pada rambutan bunga dapat dirangsang dengan mengerat batang yang disusul pemberian KNO3. Sementara untuk merangsang lengkeng berbuah dengan KClO3 (potassium chlorate).  Pemberian berbagai bahan kimia itu lebih efektif dengan menutup tanah di sekitar tajuk dengan mulsa plastik. Tujuannya untuk mencegah bahan yang diberikan tercuci air hujan.

Saat kemarau basah sering kali sinar matahari juga terganggu awan, sehingga mengganggu pembungaan tanaman hari panjang seperti buah naga. Itu dapat disiasati dengan bantuan cahaya buatan berupa lampu LED 6 watt atau lampu CFL 26 watt pada pukul 22.00—02.00. Teknik itu sudah banyak dilakukan pekebun buah naga di Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Adapun untuk merangsang bunga pada tanaman buah tanpa musim seperti jambu biji dan srikaya dengan pangkas batang. Tujuannya untuk menghasilkan tunas baru yang diikuti tunas bunga.

Strategi terakhir ialah memelihara bunga dan buah. Tentu pada masa banyak hujan serangan organisme pengganggu tanaman kerap datang. Saat kemarau basah penyakit yang sering muncul Antraknosa sp dan Phytophthora sp; hama yang sering ditemui adalah lalat buah. Untuk mengatasinya, pekebun perlu melakukan pengendalian hama secara terpadu agar bunga terbentuk menjadi buah dan panen buah bermutu baik.

Yang menggembirakan belakangan dilaporkan pestisida nabati yang manjur seperti khamir (yeast). Bahan itu dapat digunakan menekan penyakit antraknosa dengan menyemprotkan ke kanopi tanaman. Sementara lalat buah ditekan dengan perangkap seperti panel kuning, methyl eugenol, atau protein (protein bait) yang dicampur insektisida.

Di luar cara itu pencegahan dengan mengatur sirkulasi udara di tajuk juga efektif. Caranya dengan pangkas cabang negatif dan seleksi buah. Proses ini bermanfaat ganda karena dapat menyesuaikan kapasitas tajuk berfotosintesis dengan jumlah buah yang akan dihasilkan, sehingga mutu buah yang dihasilkan tetap terjaga.

Faktor penting lain ialah mutu buah seperti tingkat kemanisan dan penampilan buah. Pada periode lembap umumnya rasa buah kurang manis dan kematangan buah tidak merata. Pada durian yang disebut terakhir dikenal an-even fruit maturity. Belum lagi kasus pecah buah dan kerusakan mutu di dalam buah. Beragam masalah itu dapat disiasati dengan memberikan kalsium dan boron yang dikombinasikan pemberian kalium dan hara mikro lainnya.

*Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img