Monday, August 15, 2022

Tak Hilang Terlindas Zaman

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Hamparan tembakau mole di Kecamatan Tomo, sentra tembakau terluas di Kabupaten SumedangEmen (kanan), tembakau pengisi jeda setelah menanam padiBegitulah pemandangan di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, setiap Mei – Agustus. Setelah memanen padi, para petani di sana serempak beralih menanam mole. “Kami hanya mengikuti kebiasaan nenek moyang,” ujar Emen Rahmana, petani di Kecamatan Tomo. Penanaman mole bergilir berlangsung lebih dari seratus tahun.

Mole? Nama itu mungkin masih asing. Mole nama jenis tembakau Nicotiana tabacum. Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas) di Malang, Jawa Timur, Ir Anik Herwati MP, mole merupakan jenis tembakau lokal yang bercita rasa dan beraroma khas. “Aromanya tajam, tetapi terasa lembut,” ujar Anik. Di sentra mole Sumedang, terdapat tiga jenis, yakni mole putih, hitam, dan merah.

Tebas

Kecamatan Tomo sohor sebagai produsen tembakau mole putih. Mole putih merupakan rajangan daun tembakau yang dijemur selama 30 hari. Bila penjemuran daun tembakau dikombinasi dengan pengembunan mulai hari ke-15 sampai ke-30 menghasilkan warna merah, maka disebut mole merah. “Rasa tembakau mole merah dan hitam lebih keras. Itu cocok untuk perokok kelas berat,” ujar Emen. Sentra tembakau mole merah berada di Kecamatan Pamulihan, Rancakalong, dan Tanjungsari.

Bukan hanya perokok lazimnya kaum pria yang memerlukan tembakau mole. Para perempuan pun meminati tembakau mole untuk nyeupah. Mereka mengambil sejumput tembakau dan menasukkannya ke dalam wadah berbentuk kerucut terbuat dari kuningan. Lalu mereka menambahkan irisan buah pinang, kapur sirih, dan gambir sebelum menumbuk hingga lumat. Bahan itu yang mereka gunakan untuk nyeupah dan cara memasukkan ke dalam mulut mirip menyirih.

Kabupaten Sumedang merupakan salah satu daerah penghasil tembakau di Jawa Barat selain Kabupaten Garut dan Majalengka. Data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumedang pada 2010 memperlihatkan budidaya tembakau di kabupaten yang bergelar Kota Beludru itu terdapat di 25 kecamatan. Total luas penanaman pada 2010 mencapai 2.296 ha dengan produksi 2.107 ton. Luas lahan penanaman di Kecamatan Tomo pada 2010 mencapai 385 ha.

Menurut Emen, rata-rata petani di Kecamatan Tomo membudidayakan tananam anggota famili Solanaceae itu di lahan 0,5 – 1 ha. Mereka membudidayakan kerabat kentantg itu berjarak tanam 70 cm x 80 cm sehingga populasi 14.000 tanaman per ha. Populasi itu memang lebih sedikit daripada tembakau budidaya lain seperti virginia yang mencapai 18.000 tanaman per ha. “Lebih sedikit karena ukuran daun tembakau mole lebih lebar,” kata Emen.

Mole siap panen pada umur 60 hari setelah tanam. Saat itu tinggi tanaman sekitar satu meter dan terdiri atas 12 – 15 daun. Namun, kebanyakan pekebun tidak memanen sendiri. Mereka menjual langsung tanaman di lahan kepada pengepul. Harga jual saat ini Rp3.000 per tanaman sehingga memperoleh omzet Rp42-juta per ha. Harga itu naik dua kali lipat dibandingkan setahun lalu, yang hanya Rp1.000 – Rp1.500 per tanaman. Kenaikan itu dipicu menyusut-nya lahan penanaman akibat kemarau panjang. “Barangnya agak susah diperoleh,” ujar Edi, pengepul tembakau mole di Kecamatan Tanjungsari.

Satu hari

Tembakau mole memang istimewa. Bagi petaninya terkenal pameo “bako mah hirup sapoe, paeh sapoe” atau tembakau itu hidup sehari dan mati pun sehari. Maksudnya kualitas mole bergantung kepada penjemuran di hari pertama setelah panen. Bila penjemuran mendapatkan sinar matahari cukup yang ditandai daun kering sempurna, kualitas tembakau masuk kelas satu. Namun, sebaliknya jika penjemuran tak cukup, misalnya, akibat cuaca mendung, sehingga daun saat dipegang masih terasa lembap, mutu mole dinilai rendah. Mutu berdampak pada harga jual. Saat ini kualitas kelas satu bisa mencapai Rp50.000/kg, sedangkan rendah, Rp15.000/kg.

Setelah daun kering, pekebun merajang mulai pukul 23.00 – 09.00. Menurut Emen kebanyakan perajang adalah kaum pria, sedangkan perempuan, mengiris. “Jadi ada ungkapan usaha tembakau mole untuk orang beristri,” ujar Emen. Perajangan dengan cara menggulung 20 daun sekaligus lalu dimasukkan ke dalam lubang alat perajang yang menghasilkan ketebalan irisan 0,5–1,0 mm. Pekebun lantas menjemur kembali hasil rajangan itu di atas sasag (alat penjemur) yang memuat rajangan 60 lembar daun.

Menurut Anik pekebun menjual hasil rajangan itu sebagai isi rokok tingwe alias nglinting dhewe atau meracik rokok sendiri memakai kertas papir. Kebiasaan melinting rokok dengan isi tembakau dianggap lebih nikmat. “Orang dapat mencampur sendiri tembakau dengan berbagai rempah yang disukai, seperti cengkih atau menyan,” ujar Edi.

Bagi petani di Kabupaten Sumedang, menanam tembakau lebih menguntungkan daripada menanam padi. Sebagai gambaran untuk luasan 0,6 ha sawah hanya menghasilkan 14 kuintal padi setara Rp4,2-juta. “Biaya produksi mencapai Rp3,5-juta, jadi keuntungannya hanya Rp700.000 per empat bulan masa tanam,” kata Emen. Bandingkan jika mereka menanam mole, biaya produksi sama, Emen bisa meraup Rp15-juta. Itulah yang membuat Emen dan penduduk di Kecamatan Tomo tetap mengikuti jejak nenek-moyang mereka menanam mole. (Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img