Pehobi tetap dapat menerbangkan burung paruh bengkok selama masa pandemi korona. Otot-otot sayap burung tetap kuat.

Trubus — Burung paruh bengkok (parrot) harus rutin berlatih supaya otot-otot sayap tidak lemas. Namun, sejak berlakunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada Maret 2020 para pehobi tidak bisa berkumpul untuk menerbangkan burung. Pehobi di Jakarta, Yanuar Bayu, melakukan terbang bebas atau free fly di rumah. Bayu menyebutnya urban free fly—istilah untuk melakukan terbang bebas selain di lapangan luas.
Bayu mengoleksi patagonian connure dan bare eye cockatoo. Keduanya justru lebih sering terbang bebas selama masa pandemi korona. Sejak Maret 2020 Bayu menerbangkan masing-masing burung paruh bengkoknya setiap menjelang pukul 09.00 dan 17.00. Pehobi burung paruh bengkok lainnya di Cilincing, Jakarta Utara, Angga Satria Pramana, juga menerbangkan bebas burung patagonian connure miliknya selepas bekerja dari rumah atau sekitar pukul 17.00.

Ikatan batin
Angga girang mampu menerbangkan bebas burung di rumah. Pehobi berumur 36 tahun itu merasakan perbedaan sensasi ketika melakukan terbang bebas di rumah. Ketika dilakukan di lapangan luas seperti yang kerap dilakukan bersama komunitas Awan Free Fly, pandangan pemilik lebih luas dan dapat terus melihat burung. Namun, bila dilakukan di pemukiman pandangan dapat terhalang pepohonan atau bangunan-bangunan.
Burung pun akan terbang lebih lama ketika urban free fly lantaran pandangan burung terhadap pemilik juga terhalang. “Ketika burung itu kembali, itu merupakan suatu kesenangan buat kami para pemiliknya,” kata Angga. Sayangnya tidak semua burung paruh bengkok bisa terbang bebas di rumah. Bayu mengatakan, burung harus terlatih memetakan tempat awal dilepas serta bisa bermanuver saat terbang.
“Ketika urban free fly banyak blind spot (titik buta, red). Burung akan keliling dulu sambil mencari pemilik. Itu termasuk uji ketangkasan juga untuk burung,“ kata Bayu. Manuver atau perubahan cepat ketika terbang, semisal cara melawan angin, berbelok, turun dari atas ke bawah, dan menukik, memang perlu dilatih. Makin lama jam terbang burung, kian andal sang burung paruh bengkok menemukan titik awal dilepas atau kembali ke pemilik serta bermanuver.

Bayu menekankan bahwa hanya burung paruh bengkok yang bisa melakukan free fly yang dapat melakukan terbang bebas di rumah. Hal itu berhubungan dengan stamina burung. “Burung yang sudah biasa terbang dengan burung yang baru saja bisa terbang pasti beda staminanya. Pasti lebih kuat stamina burung yang sudah biasa terbang, karena otot-ototnya sudah terbentuk,” kata Bayu.
Selain sudah memiliki kemampuan fisik, parrot harus benar-benar memiliki ikatan batin dengan pemiliknya. Kalau tingkat ikatan batin atau bonding terhadap pemiliknya kurang, akan hilang atau kabur. Membangun ikatan dengan burung paruh bengkok perlu waktu. Pembentukan ikatan batin sejak merawat burung pada umur 2,5 bulan. Saat itu burung masih harus disuapi. Cara lain, bermain bersama burung dengan sentuhan.
Burung berusia siap belajar terbang saat berumur 3—4 bulan. Ketika itulah ikatan batin dengan klangenan makin intens. Burung belajar terbangdi dalam ruangan. Pada umur enam bulan, pehobi mulai membiasakan burung terbang bebas di luar ruangan. Kekuatan ikatan burung paruh bengkok dengan pemiliknya dibuktikan bila burung dilepaskan akan kembali ke pemilik. Oleh karena itu, perlu proses panjang bagi pemilik burung paruh bengkok untuk menerbangbebaskan burungnya di pemukiman.
Kartu identitas

Pehobi di Bekasi Utara, Jawa Barat, Arry Ardiansya, memiliki burung bare eyes cockatoo. Terbang bebas di rumah berisiko tinggi lantaran pandangan yang terhalangi banyak objek di pemukiman. Arry mengatakan, pehobi dapat memasang alat sistem pemosisi global atau global positioning system (GPS) pada cincin kaki burung untuk mengatasi hilangnya burung.
Selain itu pehobi membuat kartu identitas burung yang terhubung dengan nomor identitas elektronik keping mikro (microchip) yang diimplantasi pada tubuh burung. Menurut Angga tahapan proses terbang bebas yaitu terbang bebas di tempat-tempat tanpa penghalang yang dapat dihinggapi burung. “Tujuannya kami mengajarkan parrot ketika diterbangkan bukan untuk hinggap, tetapi kembali ke pemilik,” kata Angga.
Ketika burung mulai berlajar terbang di daerah yang lebih banyak rintangannya (banyak penghalang pandangan, red), sudah pasti burung akan kembali ke pemilik. Bayu menerbangkan paruh bengkok patagonian connure dan bare eyes cockatoo sebelum memberi makan. Musababnya, Bayu khawatir pencernaan burung terganggu sehingga muntah. Namun, Jika pehobi tetap memberi pakan sebelum terbang, porsinya hanya 10—15%. (Tamara Yunike)
