Monday, August 8, 2022

Taman 400 Tahun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kolam Seisen dihuni ikan koi berukuran besar. Dalam pakem taman khas Jepang elemen air wajib tersajiTaman kuno berumur 400 tahun di kawasan hotel berbintang lima.

Sembari menikmati hidangan yang lezat, para tamu hotel bisa menikmati pemandangan menawan. Dari balik jendela kaca berukuran 4 m x 24 m itu, pengunjung Hotel New Otani di Tokyo, Jepang, dapat  menyaksikan air terjun setinggi 6 m yang terus mengalir deras dari sebuah kolam koi. Di sekeliling kolam terhampar taman bergaya khas tradisional Negeri Sakura yang menjadi tuan rumah Garuda Bike Tour 2013.

Suasana taman itu membawa imajinasi ke masa kekaisaran Jepang berabad-abad silam. Taman kuno itu dahulu merupakan taman di kediaman seorang satria samurai bernama Kiyomasa Kato dari Provinsi Higo—kini bernama Kumamoto—yang hidup pada 1562—1611. Kato membangun taman itu pada awal era kekaisaran Edo (1603—1868). Begitu memasuki area taman, pertama kali yang dijumpai adalah hamparan taman batu berjuluk Karesansui. Disebut taman batu karena di taman itu hanya terdiri atas beberapa batu yang terletak di beberapa titik.

Di bagian belakang taman terdapat beberapa gundukan tanah yang ditanami cemara udang. Yang istimewa batu-batu di taman itu terlihat unik karena berwarna cokelat dan merah marun. Menurut Hajime Shimizu, manajer umum Hotel New Otani, batu-batu itu disebut batu akadama yang didatangkan dari Sado, sebuah pulau di kawasan pantai di Prefektur Niigata. “Batuan di pulau itu memiliki ciri khas berwarna kemerahan,” katanya. Di taman itu tampak batu akadama terbesar yang berbobot mencapai 22 ton. Konon, batu itu merupakan batu akadama terbesar di luar Pulau Sado.

Batu-batu diletakkan di atas hamparan pasir dan kerikil berwarna putih yang digarit membentuk garis-garis lurus dan melingkar mengelilingi batu. Menurut guru besar Departemen Arsitektur Lansekap Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin, taman yang memadukan tanaman dan bebatuan di lahan terbuka yang cukup luas merupakan karakter taman-taman Jepang pada awal periode Edo, era 1600-an. Meski disebut taman kering, dalam pakem taman khas jepang kehadiran elemen air tetap harus tersaji.

“Hamparan pasir itu menggambarkan lautan dan garitan itu adalah ombak,” ujar doktor Ekologi Pekarangan dari Okoyama University, Jepang, itu. Sementara batu-batu yang diletakkan di beberapa titik melambangkan gunung. Di  seberang taman kering terhampar kolam Seisen. Kolam itu cukup luas hingga separuh bagian area taman. Air kolam tampak jernih sehingga ratusan ikan koi yang menghuni kolam itu jelas terlihat. Sumber air kolam adalah mata air dari area perakaran pepohonan yang berdiri tegak di belakang taman.

Air dari mata air itu mengalir melalui parit kecil yang melewati dinding batu sehingga membentuk air terjun mini. Kolam itu juga tampak alami. Itu terlihat dari lumut yang masih tumbuh di pinggir dan dasar kolam. Dindingnya terbuat dari tumpukan batu. Menurut Hadi Susilo Arifin, kehadiran kolam dalam taman jepang perkara wajib. “Kolam mewakili elemen air di alam,” ujarnya.

Di tengah hamparan itu terdapat batu-batu dan gundukan tanah yang ditumbuhi cemara udang. “Gundukan tanah menggambarkan pulau dan batu menggambarkan gunung,” katanya. Yang istimewa, menurut Saida batu-batu yang muncul ke permukaan kolam itu konon berasal dari perakaran pohon-pohon purba yang tumbuh di sekitar area kolam yang sudah menjadi fosil. Batu fosil itu sudah ada sejak Kiyomasa Kato membangun taman itu pada abad ke-16.

Untuk melintasi kolam itu, sang perancang taman membuat titian dari batu-batu besar yang permukaannya rata. Kato juga membuat jembatan kayu berwarna merah sepanjang 10 m yang dibuat melengkung. “Jembatan melengkung itu juga merupakan ciri khas elemen taman jepang,” tutur Hadi Susila. Dari sanalah pengunjung dapat menikmati liukan ikan koi di dalam kolam. Jembatan itu juga menjadi lokasi favorit para pengunjung untuk berfoto atau membuat foto menjelang pernikahan.

Dari kolam itulah air mengalir ke kolam yang berada di bawahnya sehingga membentuk air terjun. Sayang, debit air dari mata air saat ini kecil sehingga air terjun hanya berupa rintik. Agar tetap menyajikan air terjun yang deras, pengelola hotel New Otani memompakan air tambahan di dekat bibir air terjun. Pompa air itu beroperasi pada saat jam makan pagi, siang, dan malam, agar pemandangan air terjun dapat dinikmati para pengunjung saat bersantap di ruang makan.

Di bagian kanan air terjun menghampar beraneka warna bugenvil Bougainvillea glabra yang rutin dipangkas sehingga berukuran pendek yakni setinggi pinggang orang dewasa. Keruan saja tanaman anggota famili Nyctaginaceae itu semarak berbunga.

Di taman seluas 4 hektar itu beberapa ornamen kuno seperti lentera taman juga masih terjaga apik. Di taman yang dibeli Yonetaro Otani pada 1964 itu terdapat 42 lentera kuno yang terdiri atas tiga model. Yang tertua adalah lentera kasuga dari era dinasti Kamakura (1185—1333). Ciri khas rancangan lentera kasuga adanya ukiran zodiak Jepang pada dinding lentera yang berbentuk segienam. Sementara dua jenis lentera lainnya berasal dari era dinasti Edo, yakni lentera keneiji yang didatangkan Otani dari kuil Keneiji di Ueno, Tokyo, dan lentera nuresagi.

Ornamen kuno lain yang masih utuh adalah patung miniatur pagoda segiempat yang terdiri atas 13 undakan. Miniatur pagoda itu dibuat pada era kekaisaran Nanboku-cho pada 1336—1392. Hotel New Otani juga mempertahankan beberapa jenis pohon yang tumbuh sejak 1780 yakni pohon pinus yew plum Podocarpus macrophyllus dan pala jepang Torreya nucifeta. Artinya pohon-pohon itu kini berumur 232 tahun. Di sana juga terdapat beberapa bangunan kuno seperti tempat pembakaran keramik kioi yang terawat apik.

Tempat minum teh waraku-an yang dibangun oleh Kiyoba Kimura juga masih berdiri kokoh di kompleks taman itu. Ruang minum itu teh itu pernah digunakan pada saat memperingati penobatan Putra Mahkota Kaisar Jepang bersama Ratu Elizabeth pada 1953. Melangkahkan di taman itu ibarat menapaki sejarah yang tak terkikis oleh suasana kota yang mewah. (Imam Wiguna)

 

FOTO:

 

  1. Kolam Seisen dihuni ikan koi berukuran besar. Dalam pakem taman khas Jepang elemen air wajib tersaji
  2. Jembatan merah yang melintasi kolam Seisen, tempat favorit pengunjung menyaksikan keindahan taman
  3. Taman dari zaman Edo (1603—1868)
  4. Tangga dari bebatuan kuno yang masih terjaga
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img