Legit Duku Pulau Timah

Rekomendasi

Pohon duku di Bangka Barat sebagian besar tumbuh di halaman rumahDuku asal Bangka yang manis legit.

“Silakan coba, teman saya baru saja panen duku,” ujar penangkar buah asal Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka-Belitung, Nurhulis, seraya menyodorkan sekeranjang duku. Penampilan buah anggota famili Meliaceae itu terlihat bersih dan nyaris tanpa bitik hitam akibat serangan  cendawan. Ukuran buah bervariasi, seukuran biji kemiri hingga telur ayam kampung.

 

Trubus memungut salah satu buah berukuran besar, kemudian mengupas kulit buah yang cokelat muda. Daging buah yang terdiri atas lima septa atau juring itu berasa manis. Seketika manis memenuhi seluruh rongga mulut tanpa sedikit pun rasa getir dari biji yang tergigit. Pada beberapa buah dijumpai septa besar yang berbiji kempis. Biasanya pada septa terbesar juga berbiji besar sehingga sulit ditelan. Tak terasa satu demi satu duku yang tersaji dalam keranjang buah itu pun terus berkurang.

Mahal

Manisnya duku muntok menjadi bukti ucapan Nurhulis. Ayah satu anak itu mengatakan, “Kalau di Muntok sedang musim duku, duku palembang yang ditawarkan para pengepul kepada para pedagang buah menjadi tidak laku.” Di Muntok musim duku biasanya berbarengan dengan musim durian, yakni pada Desember—Februari. Para pedagang buah di pasar lebih tertarik menjajakan duku muntok karena lebih untung. Mereka membelinya dengan harga lebih murah, tetapi menjualnya dengan harga setara duku palembang, yakni mencapai Rp15.000—Rp20.000 per kg.

“Meski dijual dengan harga setara duku palembang, konsumen tidak keberatan karena rasa duku muntok tak kalah manis,” kata pria yang akrab disapa Delis itu. Duku muntok itu antara lain tumbuh di kawasan Bukit Menumbing di Kecamatan Muntok, tempat pengasingan presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Di sana terdapat tiga pohon duku berdiameter          30 cm. Delis memperkirakan umur pohon itu lebih dari 20 tahun.

“Duku tergolong tanaman buah yang pertumbuhannya lambat,” ujar Delis. Ketiga pohon duku milik Sayuti itu tengah berbuah lebat. Hampir setiap cabang terdapat dompolan buah. “Semua buah itu sudah ada yang beli,” katanya. Sayang, ia enggan menyebutkan harga jualnya. Di Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, juga terdapat kebun duku. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bangka Barat, Suhadi, duku salah satu  buah lokal potensial di Kabupaten Bangka Barat.

Lansium domesticum itu tersebar di beberapa sentra seperti Kecamatan Muntok, Jebus, dan Parittiga. Pohon buah kerabat langsat itu mudah dijumpai di pekarangan atau di kebun-kebun di halaman rumah. Namun, hingga saat ini belum ada warga yang sengaja menanam duku dalam luasan tertentu secara monokultur. “Biasanya warga menanam duku bersama dengan durian atau manggis,” ujarnya.

Warga enggan mengebunkan karena perlu waktu lama sejak tanam hingga panen.  Maklum, sebagian besar warga menanam duku dari biji. Sejak tanam hingga berbuah perdana perlu waktu minimal 12 tahun. “Pohon duku itu ibarat warisan. Hari ini tanam, maka yang mencicipi hasilnya anak-anaknya,” tutur Suhadi. Contohnya dialami Sayuti. Ayahnyalah yang menanam ketiga pohon duku itu.

Komering

Duku juga belum menjadi komoditas utama yang menjadi andalan pendapatan warga. “Kalau mereka menanam bersama durian, pasti yang menjadi penghasilan utama dari durian karena harganya jauh lebih mahal ketimbang duku,” ujar Suhadi. Itulah sebabnya mereka tidak pernah merawat pohon secara intensif. Di kebun Sayuti, sumber nutrisi berasal dari urine dan kotoran kambing yang ia pelihara di dekat pohon duku.

Suhadi menuturkan pengembangan duku saat ini memang belum menjadi program prioritas Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bangka Barat. “Kami masih fokus mempersiapkan Bangka Barat sebagai sentra durian,” ujar Suhadi. Namun, tidak menutup kemungkinan bila pada masa mendatang duku menjadi andalan baru Kabupaten Bangka Barat. “Apalagi saat ini impor buah dibatasi,” tuturnya.

Sayangnya,  pamor duku asal Bangka Barat masih kalah ketimbang duku palembang. “Sampai saat ini belum ada namanya,” ujar Delis. Menurutnya, terkadang para pedagang buah menyebutnya duku palembang saat menjual. Hingga kini asal-usul duku yang tersebar di Bangka Barat masih misteri. Menurut Delis, kemungkinan besar varietas duku yang ditanam warga adalah duku komering yang banyak dikembangkan di Ogan Komering Ulu (OKU) dan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Toh dari segi lokasi Pulau Bangka relatif dekat dengan sentra duku yang saat ini kerap disebut duku palembang itu.

“Asalkan induknya jelas serta tanah dan iklimnya mirip, rasanya tak bakal jauh bergeser,” kata peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan, Ir Suparwoto. Di daerah asalnya duku tumbuh di dataran rendah yang terik dan di daerah aliran sungai. Pada kawasan itu kondisi tanahnya didominasi endapan alias alluvial yang subur.

Meski masih sebatas sumber penghasilan ‘sampingan’, para pemilik pohon duku kini mulai melakukan perbanyakan. Contohnya Sayuti yang mulai mencangkok beberapa cabang. Teknik perbanyakan vegetatif itu diharapkan dapat mempersingkat masa berbuah perdana bila ditanam kelak. Menurut penangkar buah di Cijantung, Jakarta Timur, Eddy Soesanto, duku hasil cangkok berbuah perdana pada umur 4—7 tahun.

Namun, Eddy menuturkan teknik perbanyakan vegetatif itu perlu waktu lama sejak cangkok hingga lepas dari pohon induk, yakni sekitar 8—9 bulan, bila batang yang dicangkok seukuran lengan. “Bila batang lebih kecil, misalnya 3 cm, hanya perlu waktu 4 bulan,” ujarnya. Seandainya populasi duku di Bangka Barat terus bertambah, maka tidak mustahil bakal menjadi pesaing duku palembang di pasaran buah tanahair. (Imam Wiguna)

 

FOTO:

 

  1. Duku di halaman rumah Sayuti, sejak di pohon sudah dibeli pedagang buah
  2. Duku asal Kecamatan Muntok, berbiji kempis dan bercitarasa manis
  3. Pohon duku di Bangka Barat sebagian besar tumbuh di halaman rumah
  4. Duku di Bangka Barat seringkali dijual oleh para pengepul buah dengan nama durian palembang
Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Beras Pratanak Dikembangkan untuk Tingkatkan Nilai Tambah Petani

Trubus.id — Beras pratanak dengan indeks glikemik rendah dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus mendorong kesejahteraan petani....

More Articles Like This