Tuesday, May 5, 2026

TAMAN TERUMBU

Rekomendasi
- Advertisement -
Eka Budianta

Di dasar laut mereka berkebun.  Itulah amancu  (anak, mantu dan cucu) saya di perairan Pulau Sepa. Sepasang ayah-ibu dan dua anak gemar menyelam. Belakangan mereka getol mencintai bumi dan menambah keindahan. Teristimewa di lautan. Mengapa? Sebab, di laut terletak masa depan bisnis agromaritim kita. “Great Barrier Reef – terumbu karang terbesar dunia yang terdapat di Australia– saja sudah rusak,” kata mereka.

Maka mereka pergi ke Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, ke banyak tempat bagus di lautan kita yang luas. Termasuk ke Pulau Sepa, di kawasan Kepulauan Seribu, yang menyediakan paket transplantasi terumbu karang. Berbeda dengan menanam pohon di darat, menanam terumbu karang perlu berlipat-lipat kesabaran.  Dalam dua tahun, sebatang koral hanya bisa tumbuh antara dua sampai lima sentimeter.

Akropora

Pertumbuhan koral itu pun bisa ditengok kalau kita pandai berenang dan menyelam. Pohon di darat tumbuh cepat, berkali lipat, dan mudah dilihat. Alhamdulilah kalau Anda seorang ‘born swimmer’ – yang lahir dan bisa menyatu hidup dalam air.  Setiap akhir pekan bisa mencebur ke laut, dan melakukan coral gardening – berkebun karang.  Jangan lupa, Indonesia dan Filipina dikenal memasok 85 persen koral hias dunia.

Perdagangan karang hias akan terus marak, selama manusia memerlukan akuarium.  Di Sumenep, Madura, air-laut bisa dibeli dengan harga Rp 200 per liter.  Pasir laut Rp15,000,- perkarung, dan karang hidup mulai dari Rp 10,000,- tiap bongkah.  Itulah bahan-bahan dasar membuat akuarium air-laut, selain ikan hias dan ganggang. Indonesia termasuk 48 negara di dunia yang paling berkepentingan dengan konservasi terumbu karang.

Maklum, berita buruk terlalu dominan, dengan adanya perusakan taman laut di mana-mana. Perburuan ikan hias dengan menggunakan bom sudah dilarang. Beberapa spesies koral mulai dibudidayakan dan dijual secara daring. Contoh yang paling populer adalah penjualan bibit karang akropora.  Dalam katalog Worldwide Corals (WWC), harga karang akropora berkisar antara US$50—US$170.

Ada pula yang sangat mahal seperti Akropora 500 Derajat yang dibanderol  US$249 setara Rp3,7 juta untuk bibit kecil. Hampir 300 macam koral dijual bibitnya secara intenasional. Perairan Indonesia termasuk penghasil akropora dengan bermacam spesiesnya. Pada 2007 Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam pernah mengembangkan Acropora formosa jenis terumbu karang yang paling cepat tumbuh, mencapai 1,20 cm per dua bulan.

Yang terbanyak didapati adalah Acropora humilis berwarna cokelat, krem, dan biru, tumbuh subur di kedalaman 1—7 meter. Dari sekitar 560 macam terumbu karang di Indonesia, ada 80 macam yang secara tradisional diperdagangkan.  Lima puluh jenis di antaranya bahkan sudah diekspor.  Baru setelah 2016, Susi Pudjiastuti menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan melarang menjual-belikan terumbu karang.

Rehabilitasi

Penanaman koral baru, lebih digalakkan.  Justru pelepasan ikan hias dan udang lobster lebih dikampanyekan. Jangan heran kalau penanaman terumbu karang digalakkan di berbagai tempat.  Ribuan hektare kawasan terumbu karang di Sumatera Barat dinyatakan rusak.  Meningkatnya suhu perairan di Sumatera Barat sejak dua tahun terakhir menyebabkan kurang lebih 70 persen dari 39.619 hektare luas terumbu karang di Sumbar rusak.

Fragmen atau bibit terumbu karang yang akan ditanam harus berukuran besar, 5–10 cm. Fragmen berukuran lebih besar berpeluang bertahan lebih besar.

“Peningkatan suhu menyebabkan pemutihan atau yang biasa disebut bleaching pada karang,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut dan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, Alber Krisdiarto. Upaya merehabilitasinya perlu dukungan perguruan tinggi dan perusahaan yang memberikan dana tanggung-jawab sosial perusahaan (CSR).

Dalam pelaksanaannya diperlukan dukungan dari klub-klub penyelam setempat. Selama satu tahun, bisa ditanam lagi 2.200 bibit terumbu karang bersama klub mahasiswa penyelam, Universitas Bung Hatta. Jangan lupa, rehabilitasi terumbu karang di Sumatera Barat memerlukan sumberdaya dan dana besar.  Untuk perairan Kabupaten Kepulauan Mentawai saja perlu merawat areal seluas 34.000 hektare.

Di sekitar Pulau Serangan, Bali, para nelayan berkepentingan menanam kembali terumbu karang di kedalaman 4—7 meter.  Medianya semacam bola beton yang disebut reef ball.  Dengan puluhan bola beton berbobot 100 kg itu para nelayan berhasil menanam kembali terumbu-karang di area 1,5 hektare dari  10 hektare yang ditargetkan. Rehabilitasi taman laut itu diharapkan dapat mengembalikan perairan Bali seindah semula.

Bahan-bahannya dicukupi dengan cara bergotong-royong.  Program bola karang sebenarnya dicanangkan untuk masyarakat internasional. Lembaga Bola Karang itu memberi pelatihan bagi para pelestari taman-laut di berbagai negara.  Di seputar Ujungkulon, Banten, beberapa desa pesisir pun mempelopori wisata tanam terumbu karang.  Mereka menyiapkan perahu dan berbagai sarana untuk menanam kembali bibit koral.

Sementara di Flores sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan pribadi yang peduli, berupaya menemukan media sendiri. Misalnya menggunakan tempurung kelapa untuk menanam bibit-bibit koralnya. Terima kasih pada generasi penerus,  yang telah memanfaatkan bakat dan hobi menyelam dengan lebih rajin mendukung transplantasi terumbu karang. Pada gilirannya koral itulah yang akan menjaga pasokan pangan dan kesejahteraan. Sungguh pekerjaan raksasa untuk menjaga, menanam, merawat, dan memanfaatkan keindahan taman laut Indonesia. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus Sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik jababeka, Cikarang 


Artikel Terbaru

Cara Menanam Pepaya California agar Cepat Berbuah dan Seragam

Sebagai pekebun yang ingin pepaya california cepat berbuah dan menghasilkan buah seragam, tahap awal yang penting adalah perkecambahan benih....

More Articles Like This