Monday, August 8, 2022

Tarsius Terus Terancam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Mata tarsius yang paling besar dibanding dengan mata primata lain.
Mata tarsius yang paling besar dibanding dengan mata primata lain.

Target Prof Dr Ibnu Maryanto memasang jerat sejatinya untuk menangkap tikus hutan. Tujuannya untuk meneliti populasi dan ekologi satwa pengerat itu. Itulah sebabnya ahli mamalia dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), itu terkejut bukan main ketika mendekati jaring dan menemukan tarsius. Primata endemik Pulau Sulawesi itu terjerat. Itu jenis tarsius pegunungan Tarsius pumilus.

Tarsius memastikan keadaan aman sebelum memburu mangsa
Tarsius memastikan keadaan aman sebelum memburu mangsa

Penemuan fauna nokturnal itu spektakuler. Harap mafhum tarsius pegunungan baru dua kali ditemukan di alam pada 1917 dan 1930. H C Raven dari Amerika Serikat yang kali pertama menjumpai tarsius itu di Pegunungan Rano Rano, Provinsi Sulawesi Tengah, pada 1917. Tiga belas tahun kemudian giliran warga negara Jerman, Dr G Heinrich, yang menemukan primata itu di Pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan.

Perjumpaan Ibnu dengan tarsius pegunungan pada 2000. Artinya peneliti kembali mendapati satwa nokturnal itu berselang 70 tahun setelah penemuan terakhir. Ibnu mendapatkan tarsius pegunungan di Taman Nasional Lorelindu (TNLL), Sulawesi Tengah. Saat itu tarsius terjerat jaring berukuran 9 m x 2,5 m. Alumnus Hokkaido University, Jepang, itu, mengatakan bahwa tarsius berwarna cokelat kemerahan di bagian dorsal.

Cagar Alam (CA) Tangkoko di Kota Bitung, Sulawesi Utara, salah satu habitat alami tarsius.
Cagar Alam (CA) Tangkoko di Kota Bitung, Sulawesi Utara, salah satu habitat alami tarsius.

Ciri lain, berambut merah di bagian wajah. Telinga kecil dengan bintik kekuningan di belakang kedua telinga. Bobot tarsier—sebutan tarsius dalam bahasa Inggris—57,5 g. Bobot itu kurang lebih sama dengan sebutir telur ayam ras. Panjang kepala dan tubuh mencapai 9,3 cm setara panjang jari tengah manusia dewasa. Sementara ekor sepanjang 19,7 cm. Ibnu mengidentifikasi hewan itu menggunakan buku-buku tarsius.

Terakhir kali ahli konservasi dan ekologi perilaku primata dari Texas A&M University, Amerika Serikat, Prof Sharon Gursky, menjumpai monyet mini itu di TNLL pada 2008. Ibnu mengatakan, menemukan tarsius pegunungan sulit karena habitatnya yang terbatas di dekat puncak gunung. Ibnu menjumpai tarsius di hutan berketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pohon ara berongga dan berlubang habitat favorit tarsius.
Pohon ara berongga dan berlubang habitat favorit tarsius.

Sementara Raven dan Heinrich masing-masing mendapati monyet kecil itu di tempat berelevasi 1.800 meter dpl dan 2.200 meter dpl. Peneliti primata nokturnal dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, LIPI, Ir Wirdateti MSi, mengatakan tarsius hewan unik karena matanya besar dibandingkan dengan tubuhnya yang kecil. Bahkan, tengkorak mata tarsius yang terbesar di antara primata lainnya.

Mata tarsius hanya bisa melihat ke depan. Untuk melihat ke arah lain tenggahe alias sebutan tarsius di Sangir Talaud memutar kepalanya. “Satwa itu mampu memutar kepala hingga 180°,” kata perempuan yang meneliti tarsius sejak 2000 itu. Telinga tarsius juga besar sehingga indera pendengarannya juga relatif bagus. Indera penciuman satwa monogami juga tinggi. Tarsius bisa melihat dan mencium kehadiran mangsa dari jarak 6 m.

Lazimnya ekor tarsius 1,5—2 kali lebih panjang daripada tubuh. Bandingkan dengan primata malam lain seperti kukang yang panjang ekornya sekitar 20—25 cm. Belum ada laporan kegunaan dari ekor panjang tarsius. Wirdateti mengatakan ekor hanya digunakan sebagai pembeda spesies dari pola rambut dan ukuran. Keberadaan ekor juga menunjukkan tarsius termasuk monyet bukan kera.

Irawan Halir sering memandu turis lokal dan mancanegara melihat tarsius di Cagar Alam Tangkoko.
Irawan Halir sering memandu turis lokal dan mancanegara melihat tarsius di Cagar Alam Tangkoko.

Keunikan lain tarsius, bobot bayi lahir mencapai 25—30% dari bobot induknya. Itu menjadikan bayi tarsius sebagai yang terbesar di antara primata lain (baca “Simpan Bayi Dalam Mulut” halaman 94—95). Sebagian ahli menyatakan, tarsius satwa primitif dan fosil hidup. Menurut Wirdateti tarsius memiliki ciri primata prosimian sehingga disebut primitif.

Prosimian adalah primata yang mengalami evolusi lambat dibandingkan dengan satwa sejenis. Dampaknya tarsius tersingkir dan menjadi endemik di beberapa daerah. Ciri mamalia juga melekat pada tarsius seperti mempunyai lapisan retina mata atau tapetum yang bergerak bila terkena sinar dan bermata besar. Tangkasi alias tarsius pun aktif mencari pakan saat malam seperti hewan karnivora.

Dengan kata lain tarsius adalah satwa peralihan antara primata tingkat rendah dan tinggi. Dalam “The Mammals of The World” para ahli menyebut tarsius sebagai fosil hidup karena susunan giginya primitif. Dari fosil yang ditemukan diketahui nenek moyang tarsius hidup pada masa eosen yang berlangsung 56-juta—33-juta tahun lalu.

Jangkrik salah satu pakan favorit tarsius.
Jangkrik salah satu pakan favorit tarsius.

Dahulu penyebaran binatang setia itu meliputi Eropa, Asia, dan Amerika utara. Kini habitat tarsius hanya tersisa di kawasan Asia tenggara. Menurut Wirdateti saat ini terdapat 11 jenis tarsius di seluruh dunia. Satu tarsius yakni Tarsius syrichta menghuni hutan di Filipina. Sementara sepuluh sisanya berada di Indonesia. Satu dari sepuluh tarsius di tanahair yaitu Tarsius bancanus berhabitat di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

“Tarsius itu disebut juga tarsius barat. Penyebarannya termasuk di Pulau Bangka dan Belitung dan bukan hewan endemik,” kata Wirdateti. Sementara sembilan tarsius lainnya termasuk tarsius pegunungan menetap dan endemik di Pulau Sulawesi dan pulau kecil di sekitarnya (Lihat ilustrasi: Jenis Tarsius). Tarsius wallacei baru diidentifikasi pada 2010 (baca boks: “Tarsius Baru” halaman 92).

Kemungkinan masih ada lagi jenis-jenis tarsius baru di hutan Sulawesi. Musababnya ada beberapa populasi tarsius yang belum teramati. Pembeda lain antarspesies tarsius adalah suara atau vokalisasi. Setiap jenis tarsius mengeluarkan suara berbeda. Suara tarsius terdengar hingga 100 m. Menurut Wirdateti tarsius mengeluarkan suara ketika baru keluar sarang. Tarsius jantan dewasa yang kali pertama keluar sarang, anak keluar terakhir.

Pluimstaarspookdiertje—sebutan tarsius di Belanda— juga bersuara ketika tiba di pohon yang ditumpangi. Tujuannya untuk memberi tanda keberadaannya di pohon itu atau menentukan daya jelajah. Menjelang fajar lazimnya tarsius bervokalisasi bersahutan. Suara melengking tinggi dari jantan dan induk mengawali vokalisasi itu kemudian suara bersahutan dari segala penjuru angin.

Ir Wirdateti MSi dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meneliti tarsius sejak 2000.
Ir Wirdateti MSi dari Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meneliti tarsius sejak 2000.

Suara itu menandakan hari sudah pagi sekaligus tanda untuk seluruh anggota berkumpul dan kembali ke sarang. Sebelum masuk sarang setiap tarsius mengeluarkan suara berbeda untuk menunjukkan kehadiran mereka. Setelah semua anggota kelompok lengkap, mereka melompat ke sarang bergantian dari satu arah. Sarang tarsius lazimnya gelap serta terlindung dari angin, hujan, dan pemangsa.

Sarang terdiri dari dua jenis tumbuhan. Pohon pertama dibalut tumbuhan kedua yang berupa akar besar dan membentuk lubang atau rongga. Hasil penelitian Wirdateti dan Hadi Dahrudin menunjukkan, tumbuhan pembalut adalah coro Ficus variegata, sedangkan pohon utama terdiri dari kayu telur Alstonia angustifolia dan gopusa Leea angulata. Penelitian di Cagar Alam Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, itu mengungkapkan sarang juga ditemukan pada liana yang melilit pohon utama dan membentuk rongga.

Di luar cagar alam, Wirdateti dan Hadi menemukan sarang tarsius di tumbuhan bambu, peraturan daun yang lebat pada rotan, dan percabangan pohon besar. Sejatinya sarang tergantung dari habitat. Tidak melulu berupa tumbuhan. Tarsius di Taman Wisata Alam (TWA) Patunuang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menghuni gua sebagai habitat. Ketinggian sarang berupa pohon sekitar 3—15 m sesuai riset yang termaktub dalam Biodiversitas.

Dalam satu pohon setiap tarsius mempunyai sarang tersendiri dengan ketinggian berbeda. Ketinggian tumbuhan tempat bersarang mencapai lebih dari 30 m dan berdiameter 1,5—2,5 m tergantung dari jenis pohon. Penelitian pada 2006 itu menguraikan dalam satu pohon terdiri dari tujuh tarsius yang terdiri atas jantan dewasa, betina dewasa, remaja, dan anak. Trubus mengunjungi CA Tangkoko pada April 2016 menemukan tiga tarsius di pohon Ficus sp..

Pemandu di CA Tangkoko, Irawan Halir, mengatakan, terdapat empat pohon yang tarsiusnya sudah terhabituasi. Artinya satwa itu sudah agak jinak sehingga mudah diamati. Menurut Iwan—sapaan akrab Irawan Halir—habituasi tarsius berlangsung sejak 1985-an. Ia juga menuturkan tarsius mencari pakan 200 m dari sarang. Pakan utama ngasi—sebutan tarsius di Sulawesi Selatan—adalah serangga hutan seperti jangkrik, kupu-kupu, dan semut.

Tarsius mampu memutar kepala 180º untuk melihat sekeliling.
Tarsius mampu memutar kepala 180º untuk melihat sekeliling.

Tarsius juga mengonsumsi cecak pohon, anak kadal, dan tonggeret. Penelitian Wirdateti menunjukkan, pakan tarsius terdiri atas 77,7% serangga, 16,6% reptil, dan 5,5% jenis burung. Menurut alumnus Program Studi Primatologi Institut Pertanian Bogor (IPB) itu tarsius tidak langsung menangkap mangsanya di alam. Monyet kecil bermata besar dan bulat itu mengamati mangsa 5—10 menit.

Setelah aman tarsius baru menangkap dengan cara melompat dan menyambar dengan tangan. Lama tarsius memakan mangsa atau berpindah ke pohon lain sekitar 10—25 menit. Satwa yang berpotensi sebagai hewan peliharaan itu melompat menyamping vertikal di antara pohon. Lazimnya tumbuhan tempat tarsius melompat berdiameter kecil hingga sedang (5—20 cm) dengan tajuk daun terbuka.

“Kondisi itu membuat tarsius mudah menangkap mangsa,” kata perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, itu. Monyet kecil yang matanya selalu menatap ke depan itu mengenal daerah teritori yang luasnya 1 km². Tarsius menandai daya jelajahnya menggunakan urine. Wirdateti mengatakan urine tarsius sangat menyengat. Itu mungkin terjadi karena pakan tarsius berprotein tinggi.

Setiap tarsius menghindari memasuki daerah teritori yang lain. Tarsius akan bersuara jika ada kelompok lain masuk teritorinya. Sangat jarang terjadi tarsius berkelahi karena menerobos daerah kelompok lain. Predator alami monyet itu antara lain kucing hutan, ular, dan beruang madu. Kini kelestarian tarsius terancam di habitat aslinya. “Perburuan liar dan kerusakan habitat ancaman terbesar tarsius,” kata Wirdateti.

Di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan tarsius dianggap hama (baca boks: “Dia Bukan Hama”). Bahkan beberapa orang di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, menjadikan tengkorak tarsius sebagai campuran minuman cap tikus, minuman keras tradisional. Mereka merendam tengkorak satwa malang itu ke dalam gelas berisi cap tikus. Kabarnya ramuan itu dapat meningkatkan stamina.

Prof Dr Ibnu Maryanto menjadi orang ketiga di dunia yang menemukan Tarsius pumilus.
Prof Dr Ibnu Maryanto menjadi orang ketiga di dunia yang menemukan Tarsius pumilus.

Meski begitu di beberapa daerah seperti di CA Tangkoko tarsius tidak diburu. “Alasannya masyarakat mengetahui tarsius hewan dilindungi. Pemburu dari desa lain mengatakan daging tarsius pahit,” kata Iwan. Kearifan lokal di kawasan hutan Pasirpanjang, Kalimantan Tengah, pun turut melestarikan satwa itu. Masyarakat setempat tidak memburu tarsius karena dianggap penunggu hutan.

Menangkap satwa arboreal itu sama dengan mengundang bencana seperti kebakaran dan perceraian. Sejatinya peran tarsius di alam sangat vital seperti pengendali populasi serangga. Intinya kehadiran tarsius menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Selain itu tarsius hewan yang dilindungi sejak 1931 berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266. Peraturan itu diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991.

Perjanjian internasional antarnegara, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), mengategorikan tarsius ke dalam apendiks II. Artinya fauna kerabat philipine tarsier Tarsius syrichta itu terancam punah jika perdagangan terus berlanjut. Meskipun begitu organisasi lingkungan yang berkantor pusat di Swiss, International Union for Conservation of Nature (IUCN), masih memasukkan beberapa spesies tarsius dalam kategori kurang data atau data defficient.

Oleh karena itu perlu penelitian untuk melengkapi data sehingga statusnya bisa ditingkatkan. Status konservasi IUCN untuk setiap jenis tarsius berbeda (Lihat ilustrasi: Jenis Tarsius). Tarsius lainnya berstatus hampir terancam (near threatened), rentan (vulnerable), terancam (endangered), dan kritis atau sangat terancam punah (critically endangered). “Menjaga kelestarian habitat dan menghentikan perburuan tarsius adalah solusi mencegah kepunahan satwa itu,” kata Wirdateti. (Riefza Vebriansyah)

Previous articleBuahkan Sirsak
Next articleDicari Kurma Jantan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img