Monday, November 28, 2022

Tas Eksklusif Rasa Sanse

Rekomendasi

 

Liliek Suharni hanya ibu rumahtangga biasa yang tinggal di kawasan Baleendah, Bandung. Namun, tak seperti ibu rumahtangga lain, ia suka sekali mendokumentasi beragam model handicraft dari mancanegara. Modal itu yang membuat wanita kelahiran Malang 53 tahun silam itu kaya dengan ide-ide cemerlang.

Bahan baku tanaman memang menjadi pilihan. Itu karena sejak kecil orangtuanya sudah mengakrabkan Liliek dengan kesibukan merawat puluhan pot tanaman di belakang rumah. ‘Tanaman dan saya sudah sulit dipisahkan,’ kata Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran itu. Nah, 3 piagam dri Museum Rekor Indonesia (MURI) menjadi bukti kedekatan itu. Rangkaian setinggi 17 m yang dibuat pada 2004 dicatat MURI. Terakhir pada 2007, MURI mencatat karya barunya setelah membuat rangkaian bunga terkecil setinggi 1 cm.

Subang

Memanfaatkan serat tanaman untuk bahan baku tas, interior, dan aneka souvenir yang dilakoni pemilik galeri Lipen itu memang bukan sesuatu yang baru. Sejak 1995 Liliek sudah menggunakan limbah daun nanas yang diolah dan diambil seratnya untuk dijadikan bahan baku. ‘Serat nanas lebih halus sehingga sangat cocok untuk semua produk saya,’ ujar peraih penghargaan Wanita Berprestasi Tingkat Nasional 2001 dari Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) itu.

Sansevieria yang ramai dimanfaatkan sebagai tanaman penyerap racun mulai dilirik menjadi sumber serat. Ide itu muncul tidak sengaja saat Liliek melihat hamparan kebun Sansevieria laurentii di Subang, Jawa Barat. Dalam benaknya, sansevieria yang berdaun tebal dengan panjang sekitar 90 cm itu pasti memiliki serat melimpah.

Sekitar 25.000 lembar daun laurentii dikumpulkan. Memakai alat sederhana, garpu makan, Liliek bereksperimen. Dikeroknya berulang kali lembaran daun hijau itu hingga hanya tersisa helaian serat putih kekuningan. Serat-serat itu selanjutnya dijemur dan disambung satu per satu dengan tangan menjadi seutas benang. Nah, dari setiap 2 daun laurentii dapat diperoleh 2 g benang. Pengerjaan selanjutnya diserahkan pada penenun mitra di Majalaya. ‘Di sana benang sanse disatukan dengan benang pabrik, lalu dipintal supaya kuat,’ katanya.

Tas sanse yang jadi salah satu keunggulan Liliek memang tidak seluruhnya menggunakan bahan laurentii. Bahan dasar tas tetap kulit. Serat sansevieria yang disulam baru dipakai sebagai pemanis di sekeliling tas. ‘Banyak yang suka karena kesan tas jadi mewah,’ ujar peraih juara ke-1 Desain Kriya Tingkat Nasional yang mengekspor produk-produknya ke Kanada dan Yunani itu. Selain tas sanse, Liliek kini menciptakan variasi lain seperti boneka dan kartu ucapan dari benang sansevieria.

Paling mahal

Nun di Pekalongan, Jawa Tengah, H Abdul Kadir Muhammad juga mengambil serat lidah mertua selain serat batang pisang, daun nanas, dan ecenggondok untuk usaha tenunnya. ‘Saya melihat pemanfaatan lain sanse itu di televisi,’ katanya. Tidak seperti Liliek dengan garpu, perintis pembuatan batik tenun itu mengambil serat laurentii dengan bilah bambu sepanjang 5 cm. Dengan bambu itu, laurentii dikerok searah berkali-kali. Proses selanjutnya sama, serat dijemur lalu dipintal. ‘Serat sansevieria kaku sehingga lebih cocok jadi hiasan dinding dan tirai,’ ujar pemilik perusahaan tenun Ridaka itu.

Sayang, ketersediaan laurentii sedikit, membuat bahan baku serat kurang. Walhasil pabrik tenunnya baru memproduksi serat sansevieria kalau ada pesanan. Sebab itu pula, harga per meternya cukup tinggi Rp85.000. Bandingkan dengan serat nanas Rp75.000/m dan serat pisang Rp55.000/m. ‘Sekarang baru melayani pesanan dari mahasiswa-mahasiswa yang perlu contoh kain sanseveiria,’ ujar Thuraya Abdul Kadir, pengelola Ridaka yang tengah getol menembus pasar negara-negara Eropa seperti Spanyol.

Sejuta manfaat

Potensi serat sansevieria tidak hanya menggoda pengrajin, tapi peneliti dari kalangan akademisi pun mulai melirik. Contoh Rosyid Akhmadi, dari Fakultas Seni Rupa Desain Institut Teknologi Bandung. Ia menyatukan serat S. trifasciata dengan bahan fosforesensi-pemedar warna-melalui teknik tenun dan cetak tekstil pada 2002. Trifasciata pun didatangkan dari Jawa Timur ke Subang. Setelah serat didapat kemudian dipintal menjadi kain semi transparan. Baru setelah itu kain dilukis dengan fosfor menjadi tirai bermotif batik Bali. Tirai dengan tipe menggantung-hanging wall-itu istimewa karena corak batik Bali akan bercahaya dalam gelap.

Struktur serat sansevieria yang kaku membuatnya cocok menjadi bahan interior. Bahkan karena kuat, serat sansevieria digunakan sebagai tali perangkap hewan buruan, jala, dan tempat tidur gantung di Afrika. Di Amerika Serikat, serat itu digunakan sebagai tali untuk menarik tank yang terjebak pasir.

Tak hanya seputar tali temali, faedah lain serat sanse ditunjukkan oleh Wisesa Witaraga di Yogyakarta. Alumnus Universitas Islam Indonesia itu membuat pulp kertas dari serat Sansevieria trifasciata. Pulp itu memiliki kadar selulosa yang cocok untuk bahan kertas dan papan. Nah, beragam faedah itu menunjukkan bahwa manfaat sansevieria bukan hanya penyerap polutan, tapi sudah menyentuh dunia seni dan industri. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img