
Para petani dapat memanfaatkan lahan tergenang untuk menanam beragam komoditas. Kuncinya sistem tanam terapung.
Sebagian besar lahan pertanian di Sumatera Selatan merupakan lahan rawa, baik itu rawa lebak atau rawa pasang surut. Luas rawa lebak di Sumatera Selatan mencapai 2,97 juta hektare. Dari total luasan itu baru 226.000 hektare yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Salah satunya di Kabupaten Ogan Ilir yang luasnya mencapai 74,972 hektare. Ciri khas lahan rawa lebak saat musim hujan tergenang air.

Lamanya genangan tergantung periode musim hujan, yakni kurang dari sebulan hingga 6 bulan atau lebih. Ketinggian genangan di lahan rawa mencapai 4—7 m. Pada kondisi itu para petani terpaksa berhenti bercocok tanam dan meninggalkan lahan pertaniannya. Oleh karena itu, perlu teknologi yang membantu petani agar tidak berhenti bertani saat musim hujan. Salah satunya dengan modifikasi media tanam, yaitu media terapung menggunakan rakit.
Barang bekas
Budidaya di lahan rawa lebak atau sistem budidaya tanaman terapung adalah pengembangan dari sistem budidaya tanaman terapung yang pernah dilakukan oleh Suku Aztec di Amerika Tengah pada abad ke-15. Masyarakat Astec memanfaatkan Danau Tenochitlan atau lembah Meksiko. Mereka memanfaatkan kumpulan-kumpulan rumput menjadi rakit sebagai lahan bercocok tanam sayur-sayuran dan tanaman pangan yang disebut chinampa.
Sistem budidaya tanaman terapung di lahan lebak dapat menggunakan jenis chinampa atau rakit dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitarnya. Contohnya seperti batang pisang, batang bambu, dan rumput rawa. Para petani juga dapat membuat rakit menggunakan limbah gelas dan botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Caranya mudah. Untuk membuat rakit berbahan limbah gelas plastik, buat petakan dari kayu hek berukuran 3 m x 1 m.

Selanjutnya rangkai gelas-gelas plastik menggunakan kawat. Ikat rangkaian gelas plastik itu pada paku di setiap sisi petakan. Pasang bilah bambu di diatas dan di pinggir petakan yang sudah dipasangi rangkaian gelas plastik. Hamparkan karung di permukaan petakan hingga membentuk wadah media tanam pada rakit. Adapun cara membuat rakit berbahan botol plastik juga gampang. Buat petakan dari kayu hek berukuran 3 m x 1 m.
Pasang bilah bambu di atas petakan, lalu susun botol dengan cara diikatkan pada bilah bambu menggunakan kawat. Pasang bilah bambu di pinggir petakan sebagai dinding rakit. Selanjutnya hamparkan karung di permukaan petakan sebagai wadah media tanam pada rakit. Petani dapat menggunakan media tanam campuran tanah dan pupuk kompos dari bahan organik yang tersedia di sekitar lahan rawa lebak seperti rumput purun, bakung, dan gegas.
Sebaiknya gunakan pupuk organik sebagai sumber nutrisi. Selain itu pupuk organik juga mampu memperbaiki struktur lapisan permukaan tanah (top soil), meningkatkan jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air sehingga kesuburan tanah meningkat.
Nutrisi

Sayangnya kandungan hara pupuk organik rendah. Pupuk kandang, misalnya, rata-rata hanya mengandung 0,5% ntirogen (N), 0,25% fosfor pentaoksida (P2O5), dan 0,5% kalium oksida (K2O). Artinya, dalam 1 ton pupuk kandang terdapat 5 kg N, 2,5 kg P2O5, dan 5 kg K2O. Upaya meningkatkan kandungan hara pada pupuk organik dengan menambahkan tepung darah untuk menambah unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) dan tepung tulang (unsur P dan kalsium).
Selain itu petani juga dapat menambahkan tepung cangkang telur sumber Ca, abu sekam padi atau abu tandan kosong kelapa sawit untuk menambah unsur kalium (K). Petani juga dapat menggunakan pupuk urine sapi sebagai tambahan nutrisi. Urine sapi kaya nitrogen tinggi yang berguna untuk menyuburkan tanah. Teknologi budidaya tanaman terapung itu berhasil, terutama untuk membudidayakan komoditas sayuran dan buah semusim.
Pada November 2011—April 2012 di Desa Sakatiga. Kecamatan lnderalaya, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, penulis juga meneliti penerapan budidaya pertanian terapung organik pada tanaman padi, kedelai, dan kacang hijau.
Hasilnya, penerapan teknologi budidaya organik terapung pada lahan rawa tergenang memberikan hasil yang sama dengan sistem budidaya konvensional di lahan kering. Pada beberapa komoditas bahkan cenderung lebih baik. Pada Juni—Oktober 2013 penulis juga melakukan penelitian untuk membandingkan penggunaan pupuk organik padat dan cair pada sistem budidaya tanaman terapung labu kuning.

Dalam penelitian itu jenis pupuk organik padat yang digunakan adalah kotoran ayam, pupuk organik plus (pupuk limbah pertanian yang dilengkapi dengan pupuk anorganik dan bahan mineral alami), dan pupuk kompos jerami padi. Adapun pupuk organik cair yang digunakan adalah pupuk organik cair nabati, pupuk organik cair hewani, serta campuran pupuk organik nabati dan hewani.
Hasilnya kombinasi pemberian jenis pupuk organik padat dan jenis pupuk organik cair campuran nabati dan hewani memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman labu kuning. Berbagai penelitian itu membuktikan bila sistem budidaya tanaman terapung dapat menjadi solusi bagi para petani untuk tetap bercocok tanam di saat lahan tergenang. (Dr. Ir. Syafrullah, M.Si., dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang, Sumatera Selatan)
