Saturday, December 3, 2022

Cabai Jempolan Asal Jambi

Rekomendasi

Cabai keriting lokal unggul asal Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, bersosok raksasa. Produktif dan tahan antraknosa.

Romi Nosindra senang bukan kepalang. Ia memanen 0,8—1,2 kg cabai keriting per tanaman per musim. Sebelumnya petani di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi itu hanya sanggup memperoleh 0,5 kg per tanaman per musim. Sudah begitu Romi bisa menghemat biaya produksi hingga 50%. Semula Romi mengeluarkan biaya produksi Rp3.500—4.500 per tanaman. Kini hanya Rp1.750—2.500 per tanaman per musim.

Tinggi tanaman cabai loker telun berasap mencapai 2 meter.

Biaya itu meliputi pengadaan pupuk, pestisida, benih, mulsa, dan tenaga kerja. Apa rahasianya? “Romi menggunakan benih cabai keriting lokal hasil karya sendiri bernama loker telun berasap,” ujar Eva Salvia SP, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Jambi. Loker singkatan lokal Kerinci, dan telun berasap nama sebuah air terjun di Kabupaten Kerinci.

Perbaikan bentuk

Eva Salvia mengatakan, para petani di sekitar air terjun Telun Berasap banyak yang membudidayakan cabai lokal itu. Itulah sebabnya Romi menyematkan nama itu pada cabai lokal baru temuannya. Romi mulai merakit loker telun berasap sejak 2000. Ia mengawinkan dua cabai keriting varietas lokal Kabupaten Kerinci. “Dua cabai keriting untuk tetua itu sama-sama bagus tetapi pasar kurang berminat dengan bentuknya,” kata Romi.

Buah cabai itu berukuran besar tetapi pendek, satu lagi ukurannya kecil tetapi panjang. “Pasar mencari yang tidak terlalu pendek dan tidak terlalu kecil,” ujar Romi. Akhirnya pada 2004, Romi menemukan karakter itu pada cabai hasil silangannya. Ia seleksi terus-menerus, baik dari kualitas maupun produktivitas hingga pada 2008 lahirlah cabai lokal unggul loker telun berasap.

Sosok telun berasap itu bisa tumbuh hingga 1,5—2 meter dan terus berbuah selama 30—40 kali panen. “Kalau cabai di sini rata-rata hanya sampai 20 kali panen. Tingginya rata-rata 1,2 meter,” ujar petani cabai sejak 1984 itu. Selain itu loker telun berasap juga awet pascapanen. Cabai itu bisa bertahan hingga dua pekan pascapanen, sementara cabai lainnya hanya dua hari.

Eva Salvia SP, peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Jambi.

“Itu pun cabai loker telun berasap baru keriput saja. Belum busuk. Kalau cabai lain, baru dua hari sudah lembek,” ujarnya. Cita rasa cabai loker telun berasap lebih pedas dan enak dibandingkan dengan cabai lainnya. “Masyarakat Melayu di sini lebih suka yang pedas dan rasa cabai lokal karya saya,” ujar Romi. Loker telun berasap juga unggul dari ketahanan terhadap penyakit antraknosa—hama utama cabai.

Menurut pria 41 tahun itu dengan proses budidaya yang sama dengan cabai jenis lain, cabai loker lebih tahan terhadap penyakit antraknosa. “Paling yang terkena antraknosa sekitar 5—10% dari total keseluruhan tanaman. Kalau cabai lain bisa sampai 30—40%,” ujar pekebun kelahiran 15 Januari 1977 itu.

Ahang adro

Dengan beragam keunggulan itu, wajar para petani di seluruh Kabupaten Kerinci menggemari cabai karya Romi. Semula hanya sesama kelompok tani yang mau menanam cabai loker telun berasap. Saat itu baru 18 petani yang menanam.

Sekali musim ia membudidayakan 6.000—10.000 bibit loker telun berasap. Romi menanam bibit cabai dengan satu jalur berjarak 4 cm antartanaman. “Petani di Kabupaten Kerinci ada yang menanam hingga 32.000 benih loker telun berasap, tapi kalau dirata-rata sekitar 10.000—15.000 tanaman per petani per musim,” ujarnya. BPTP Jambi mulai menggali dan meneliti cabai lokal itu pada 2016.

Menurut Eva Salvia cabai telun berasap berpotensi menjadi cabai lokal unggulan Kabupaten Kerinci. Selain cabai rakitan Romi itu, BPTP Jambi juga meneliti cabai lokal lain bernama ahang adro. Nama ahang adro berasal dari bahasa lokal Kerinci. Kata ahang berarti kehitaman. Adro merujuk pada seorang pejabat di Kabupaten Kerinci. Para petani di Desa Lubukpauh, Kecamatan Gunungtujuh, Kabupaten Kerinci, banyak yang membudidayakan cabai itu.

Produktivitas cabai ahang adro mencapai 1 kg per tanaman dengan bobot per buah 3,04—5,11 g.

Ciri khas ahang adro berbatang kehitaman dan tahan simpan pada suhu ruang selama 9—16 hari. “Tinggi ahang adro bisa mencapai 120,4 cm dari permukaan tanah,” ujar Eva. Produktivitasnya mencapai 1 kg per tanaman. Bobot 3,04—5,11 g per buah. Umur panen cabai keriting ahang adro 141—375 haris setelah tanam. Karakter lain meliputi bentuk daun oval dengan ujung meruncing.

Menurut Eva Salvia BPTP Jambi sedang mengupayakan cabai loker telun berasap dahulu untuk didaftarkan sebagai varietas lokal unggul Kabupaten Kerinci. “Targetnya pada 2019 sudah bisa dirilis. Sekarang sedang uji adaptasi,” ujar peneliti di bidang pemuliaan dan genetika tanaman itu. Eva berharap cabai loker telun berasap dan ahang adro menjadi andalan semua petani cabai keriting, tidak hanya di Kabupaten Kerinci. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img