Trubus.id—Ikan wader pari Rasbora argyrotaenia salah satu jenis ikan dengan permintaan tinggi. Peneliti di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Bambang Retno Aji, M.Sc., menuturkan jika hanya mengandalkan hasil tangkapan alam tentu mengancam kelestarian wader.
Menurut Bambang sejak 2008—2013 populasi wader pari di sungai-sungai di Yogyakarta menurun. Budidaya salah satu upaya agar populasi wader di alam terjaga.
Namun, terkadang peternak terkendala pada proses pemijahan. Kelompok periset wader pari (Tim Gama Wader) dari Fakultas Biologi UGM menemukan teknik tepat memijahkan wader.
Menurut peneliti ikan wader dari Fakultas Biologi UGM, Khoiruddin Anshori teknologi yang digunakan berupa maing chamber atau wadah pijah. “Kualitas telur hasil pemijahan 97% baik,” kata Anshori yang juga ketua tim Gama Wader.
Namun, keberhasilan pemijahan tidak melulu bergantung pada alat. Anshori juga memperhatikan indukan matang gonad sebelum pemijahan. Menurut Anshori membedakan jantan dan betina bisa dilihat dari penampilan fisik.
Ciri betina lazimnya berperut besar, sedangkan jantan lebih ramping. “Cara membedakan lebih yakin dengan stripping atau mengurut,” kata Anshori.
Jika keluar telur berarti betina, adapun jika keluar cairan atau sperma berarti jantan. Kedua ciri itu pulalah yang menandakan wader matang gonad. “Betina belum matang gonad biasanya tidak keluar telur,” katanya.
Wader bisa dijadikan indukan minimal berumur 5 bulan. Memelihara indukan idealnya terpisah antara jantan dan betina. Tujuannya agar pemijahan lebih terkontrol. Peternak boleh menyatukan kedua induk itu di wadah pijah jika matang gonad.
Ukuran wadah pijah 80 cm x 40 cm x 40 cm bisa menampung 21 induk— terdiri atas 7 betina dan 14 jantan. Perangkat tambahan berupa kain kasa dan ijuk. Kain kasa memudahkan mengambil indukan setelah memijah dan ijuk sebagai tempat ikan menyimpan telur.
Perlakuan lain merangsang pemijahan dengan mengatur debit air atau penambahan aerator. Wadah pijah memang terinspirasi dari penelitian sebelumnya di akuarium dengan mengatur debit air. Debit air untuk pemiliharan indukan cukup 0,05 liter per detik.
Adapun upaya untuk merangsang pemijahan bisa dengan pengaturan debit air. Debit air mengalir untuk pemijahan 0,017 liter per detik. Alternatif lainnya dengan menambahkan aerator di wadah pijah.
Berselang 20 jam, peternak dapat memanen telur yang menempel pada ijuk dan memindahkan ke bak fiber atau kolam perawatan burayak.
Selain itu peternak tetap dapat memanen sisa telur yang menempel pada wadah. Cara memanen sisa telur dengan mengalirkan air. Pasalnya, wadah pijah dilengkapi keran untuk memanen telur. Kualitas telur pun 97% baik. Artinya daya tetas berpotensi tinggi di atas 90%.
Penelitian Bambang sintasan atau survival rate dari tetasan telur hingga burayak hingga 73%. Artinya dari potensi 1.000 telur per sekali pemijahan dari satu betina bisa menghasilkan 730 burayak.
Keunggulan budidaya, pemijahan bisa dilakukan 1—2 kali saban bulan. Di alam lazimnya wader hanya memijah sekali per tahun. Menurut Bambang wader bisa dipanen pada umur 3 bulan.
