Trubus.id-Teknologi radiasi semakin dilirik sebagai solusi efektif dalam memperpanjang masa simpan produk pertanian. Proses iradiasi berpotensi menjaga kesegaran buah, sayuran, hingga hasil perikanan tanpa mengurangi kandungan gizi maupun kualitas. Dengan perlakuan tersebut, produk tetap aman dikonsumsi dan bisa bertahan lebih lama untuk dipasarkan, baik di dalam negeri maupun ke pasar ekspor.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi tersebut di Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah ini dinilai strategis untuk menjawab tantangan pascapanen yang selama ini menjadi hambatan bagi petani dan pelaku usaha. Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menyampaikan hal itu dalam Webinar BRIDA: Pemanfaatan Teknologi Radiasi untuk Pangan, Jumat (19/9).
Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, mengungkapkan potensi daerahnya di sektor pertanian dan perikanan sangat besar. Namun, keterbatasan teknologi pascapanen kerap menyebabkan produk rusak sebelum sempat dipasarkan. “Fokus kami adalah membangun ekosistem industri pertanian dan subsektornya agar mampu menggerakkan ekonomi daerah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya dilansir pada laman BRIN.
Menurut Nuryanti, kolaborasi dengan BRIN menjadi sangat penting. Teknologi radiasi diyakini dapat meningkatkan daya saing produk unggulan NTB seperti ikan, rumput laut, garam, gula aren, dan kelapa. Kendati demikian, tantangan yang dihadapi masih cukup besar, terutama kontinuitas bahan baku yang bergantung musim serta keterbatasan fasilitas pengolahan.
Sebagai upaya konkret, Pemprov NTB mulai mengembangkan konsep Kuliner Legend NTB, yakni pengemasan makanan khas seperti Ayam Taliwang dan Sate Rembiga dengan teknologi sterilisasi. Cara ini diharapkan membuat kuliner tradisional lebih higienis, tahan lama, dan memiliki nilai jual lebih tinggi. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?” tegas Nuryanti.
Saat ini, fasilitas iradiasi di Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. BRIN sedang menjajaki pembangunan fasilitas serupa di luar Jawa, termasuk di NTB dan Kalimantan Timur. Kehadiran fasilitas ini diyakini akan mempermudah petani serta pelaku usaha untuk memanfaatkan teknologi radiasi secara langsung.
Nuryanti menambahkan, jika fasilitas tersedia di NTB, produk hortikultura seperti tomat, cabai, jahe, manggis, dan mangga akan memiliki peluang lebih besar menembus pasar ekspor. “Sering kali produk kami tidak bisa masuk ekspor karena cepat rusak di perjalanan. Dengan teknologi radiasi, masa simpan bisa diperpanjang dan kualitas tetap terjaga,” katanya.
