
Memproduksi telur puyuh bercita rasa soto, rawon, atau kare. Telur juga lebih awet.
Trubus — Lazimnya telur puyuh hanya bercita rasa gurih dan lezat. Satriyo Pandunusawan menghasilkan telur puyuh Coturnix-coturnic japonica bercita rasa makanan tradisional khas Indonesia seperti rasa soto, kare, dan rawon. “Rasa-rasa unik itu masuk ke dalam telur puyuh melalui alat osmotech,” ujar mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang itu.
Telur puyuh itu pun laris saat Pandu—sapaan akrabnya—menjajakannya di kampung halamannya, di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dengan menambahkan rasa plus mengemasnya, Pandu bisa menjual telur puyuh Rp5.000—Rp7.500 per kemasan isi 8 butir. Bandingkan dengan harga telur puyuh tanpa rasa hanya sekitar Rp4.000 per kemasan isi 10 butir. Ide itu muncul ketika dosen bercerita alat untuk membuat telur asin melalui perendaman.
Seribu telur
Biasanya produsen telur asin menggunakan tanah liat atau abu gosok sebagai media garam. Osmotech—nama alat itu—membuat telur asin dengan merendam telurnya lalu memberikan tekanan 1,5 bar agar rasa asin lebih cepat masuk ke dalam telur. Menurut Pandu penggunaan tanah liat atau abu gosok lebih rentan terkontaminasi bakteri plus kurang efektif dan efisien.
“Kalau pakai tanah liat harus membuat dahulu adonannya dan setelah proses pengasinan selesai, masih harus membersihkan telur dari adonan yang menempel,” ujar mahasiswa kelahiran 23 Desember 1995 itu. Sementara dengan mesin osmotech lebih higienis dan lebih cepat.

Sepintas penampilan mesin itu mirip panci presto. Perbedaan dengan panci presto atau autoklaf, osmotech memiliki alat untuk menghubungkan kompresor dan mesin osmotech untuk menahan udara. Ada juga nanometer untuk melihat tekanan didalam alat. Kalau dilihat dan diamati, 75% mirip presto. Osmotech berdiameter 30 cm dengan tinggi 70 cm. Bahan alat itu besi nirkarat seri 304 setebal 1,5 mm.
Osmotech berkapasitas 1.000 telur puyuh, 330 telur ayam atau telur bebek. Proses pengasinan di dalam osmotech pada telur puyuh selama 2 jam, telur ayam 9 jam, dan telur itik 12—24 jam “Cangkang telur ayam dan telur puyuh tidak setebal telur itik, sehingga butuh waktu lebih cepat. Lama waktu proses itu juga tergantung tingkat keasinan yang kita inginkan,” ujar anak pertama dari dua bersaudara itu.

osmotech mirip panci presto.
Setelah keluar dari alat osmotech, telur tinggal dimatangkan dengan cara konvensional biasa seperti perebusan. Dalam proses pembuatan telur puyuh bercita rasa, Pandu menggunakan telur hasil puyuh jenis semi atau Coturnix-coturnix japonica. “Telur puyuh jenis semi bercangkang tebal dan harga telur mentahnya relatif murah,” ujar Pandu.
Telur awet
Untuk membuat telur puyuh bercita rasa, mula-mula Pandu merendam telur itu dalam air biasa sekitar 5 menit, lalu merendamnya dalam larutan asam cuka atau cuka dapur selama 15 menit untuk menipiskan cangkang. Larutan asam cuka itu campuran 20 ml asam cuka dengan 5 liter air.
Tata telur secara vertikal dan masukkan ke dalam osmotech. Alat itu menggunakan generator skala rumah tangga bertegangan 220 volt. Prinsip kerja osmotech adalah menekan larutan bumbu ke dalam telur melalui pori-pori kulit.

bahan Satriyo andunusawan meracik rasa.
Sejatinya tanpa osmotech, larutan itu bisa masuk ke dalam telur puyuh secara alami tetapi membutuhkan waktu lama sekitar 10—14 hari, sedangkan dengan osmotech hanya butuh 2 jam. Pandu meracik sendiri perasa soto, kare, dan rawon menggunakan beragam bahan di antaranya keluwak, bawang putih, dan garam. Ia mengekstraksi bahan-bahan itu lalu membuatnya menjadi serbuk.
Telur puyuh rasa dalam kondisi matang atau belum direbus hanya awet dalam 2 hari, kalau masih mentah awet hingga 6 bulan ketika disimpan dalam suhu ruang. Bandingkan dengan telur puyuh mentah biasa yang hanya awet 3 bulan. Telur puyuh rasa lebih awet karena pori-pori telur tertutupi larutan bumbu.
Harga telur puyuh rata-rata Rp250 per butir. Namun, pengepul bisa menekan harga hingga Rp110 per butir. Menurut Pandu hampir semua peternak puyuh mengalami ketidakstabilan harga dan cenderung kalah oleh pengepul saat terjadi tawar-menawar harga. Oleh karena itu, “Saya ingin memberi nilai tambah telur puyuh agar harganya tinggi dan stabil,” ujar Pandu. (Bondan Setyawan)
