Wednesday, August 10, 2022

Tersandung di Negeri Sendiri

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Anton Saksono, “DIHI akan fokus pada penyusunan strategi dan kebijakan ikan hias sebagai penggerak ekonomi rakyat.”Peternak Indonesia sangat terampil mengembangkan berbagai jenis ikan hiasMenurut peternak cupang di Jakarta Barat, Hermanus J Haryanto, kondisi itu sangat memberatkan para peternak. “Saya ingin kebijakan itu ditinjau kembali,” kata Hermanus. Maksudnya bila peternak mengirimkan satu kotak, ongkosnya tidak perlu sama dengan mengirimkan 10 kotak. Lain lagi seorang importir ikan hias di Jakarta. “Saya merugi Rp200-juta pada 2010 karena tidak bisa mengambil ikan yang tertahan di bandara,” katanya.

Musababnya, saat ikan datang di bandar udara Soekarno-Hatta, Ia memang belum langsung melunasi ongkos biaya pengeluaran ikan. Saat itu ia mengimpor ikan hias dari Jerman. “Pada waktu itu saya perlu 2 hari melunasi ongkos biaya pengeluaran ikan. Namun, masalahnya pihak karantina melarang saya memberi pakan ikan. Hampir 100% mati saat diambil,” kata pengusaha ikan hias itu. Pun Widodo, peternak dan eksportir ikan hias di Bekasi, Jawa Barat. “Birokrasi perizinan sebelum ikan diekspor agak panjang,” katanya. Pemilik CV Equatorfish itu, misalnya, harus rela membiarkan ikan yang akan dikirim menginap selama 10 jam sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.

Selaras

Ekspor dan impor ikan hias terkait erat dengan makhluk hidup yang perlu penanganan cepat. “Ini masalah klise yang sampai saat ini belum ada titik temu antara pelaku dan birokrasi,” kata Bima Saksono, eksportir dan importir ikan hias di Cibubur, Jakarta Timur. Sekadar contoh, untuk meningkatkan mutu hasil budidaya, para peternak mesti mengimpor induk ikan hias. Namun, “Pengurusan surat-surat impor sangat sulit dan memakan waktu lama. Padahal, kita mesti bergerak cepat dengan peternak di negara lain,” lanjut Bima.

Sebagai gambaran untuk mengurus angka pengenal impor, pengusaha ikan hias memerlukan waktu minimal satu bulan dengan biaya pembuatan Rp5-juta – Rp15-juta. Padahal, pengusaha ikan hias di beberapa negara pesaing seperti Malaysia, Singapura, dan Hongkong, tak memerlukan surat izin impor. Oleh karena itu banyak peternak ikan hias di Indonesia yang mengurungkan niat mengimpor. “Biayanya mahal dan prosesnya terlalu lama,” kata Hermanus.

Ekspor ikan hias juga tidak mulus-mulus amat, terutama bagi pemain baru. Menurut Widodo yang kini mengekspor beragam ikan hias ke Amerika Serikat dan Bahrain, regulasi terkait izin pemberangkatan ekspor di bandara yang tidak satu atap dapat memakan waktu berjam-jam. Belum lagi kebijakan yang mengharuskan barang tiba di kargo 2 – 6 jam sebelum berangkat. Itulah sebabnya untuk mencegah kematian ikan akibat menunggu terlalu lama, Widodo mengurangi kapasitas populasi ikan dalam satu boks hingga hampir setengahnya.

Banyak peternak juga menyayangkan kebijakan Dirjen Perhubungan Udara yang akan menerapkan aturan regulated agent. Regulated agent merupakan badan hukum yang melaksanakan transaksi dengan operator pesawat udara untuk pemeriksaan keamanan barang kargo dan pos. Penerapan regulated agent itu dinilai perlu oleh pemerintah agar kargo memperoleh jaminan keamanan dan meningkatkan efisiensi biaya kirim. Namun, sebelum regulated agent, barang kargo dikenakan biaya sewa gudang Rp250 per kg, sewa lahan Rp125 per kg, dan biaya keamanan Rp60 per kg.

Namun, ketika pemerintah memberlakukan regulated agent, komponen keamanan itu meningkat menjadi Rp800 per kg. Lebih mahal lantaran barang perlu dipindai dengan mesin x-ray. Semula pemerintah akan memberlakukan regulasi baru itu pada September 2011, kemudian ditunda hingga Januari 2012. Penerapan regulated agent itu juga berefek pada persiapan barang. Setidaknya 10 jam sebelum keberangkatan pesawat, ikan hias harus sudah sampai di bandar udara. Perubahan itu menjadi kendala bagi eksportir terkait kelangsungan hidup ikan. “Kalau aturan itu diterapkan, saya bisa banting setir tidak menjadi eksportir,” ujar Hendra Iwan Putra, Sekretaris Jenderal Indonesia Tropical Fish Exporters Association (Inafish).

Impian terbesar

Indonesia merupakan negara eksportir ikan hias terbesar ke-3 di dunia setelah Singapura dan Malaysia, dengan pasar sebesar 7,5%. Nilai ekspor pada 2010 mencapai US$12-juta. “Hampir tak ada ikan hias yang tidak mampu dikembangkan peternak kita,” kata Bima. Pada 2011 target produksi untuk ikan hias sebesar 3-miliar ekor dan dicanangkan meningkat hingga 8-miliar ekor pada 2014. Segala kebijakan dibuat oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu penghasil produk perikanan terbesar di dunia pada 2015.

Birokrasi dan regulasi terkait ekspor dan impor ikan hias yang belum berpihak kepada pelaku industri memang menjadi masalah. Impian itu semestinya bisa berjalan andaikata ada sinergi antara pelaku dan pemangku kebijakan. Ir H Fadel Muhammad, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, mencetuskan untuk mendirikan Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) pada September 2011. DIHI merupakan wadah untuk menyatukan para pengambil kebijakan dan pelaku industri ikan hias dari peternak hingga eksportir ikan hias nasional.

Menurut Wakil Ketua DIHI, Anton Saksono, organisasi itu lebih berfokus pada penyusunan strategi dan kebijakan. “DIHI berdiri independen. Sebab itu kami akan meminta otorisasi untuk melakukan hal terbaik bagi para pelaku ikan hias Indonesia,” kata Anton. Bukan hanya itu, “DIHI pun diharapkan bisa menjembatani semua pelaku supaya Indonesia siap menjadi negara penghasil ikan hias terbesar dunia,” kata pendiri akuarium air tawar terbesar di Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah itu.

Berdirinya DIHI setidaknya menjadi angin segar bagi pelaku industri ikan hias tanahair. Widodo berharap DIHI menggerakkan para pelaku ikan hias di tanahair. Semua itu semata-mata untuk sebuah tujuan besar menjadikan Indonesia sebagai salah satu penghasil produk perikanan terbesar di dunia pada 2015. (Susirani Kusumaputri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img