Thursday, August 18, 2022

TRAGIS NASIB BELIBIS

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di lahan basah belibis hidup dalam kelompok yang mencapai ratusan ekorMentari hampir lingsir saat Avesian Nero—bukan nama sebenarnya—memasang jaring plastik berukuran 10 m X 40 m di sebuah rawa lebak dalam di Kecamatan Danaupanggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan seluas 38.062 ha yang terletak di ‘atas’ air itu memiliki rawa lebak berkedalaman 1—1,5 meter saat kemarau. Saat musim hujan dalamnya mencapai 2—3 m. Nero memasang jaring di tepian rawa yang lebih dangkal, 0,5 meter. Rawa-rawa lain mulai surut ketika kemarau. Ia memasang jaring di lebak dalam lantaran saat kemarau belibis mencari sumber air tersisa.

 

Belibis terbang sambil bersiul dan mengepakkan sayap sehingga mengeluarkan suara bergemuruhBelibis seperti perpaduan bebek dan angsa karena berleher dan berkaki panjang. Ia juga menarik karena berbulu indah dan bersuara merduBentuk jaring mirip net bulu tangkis. Di dekat jaring Nero meletakkan belibis di sangkar kecil. Suara belibis sepanjang malam, mengundang teman-temannya. Mendengar kicauan belibis pemikat, kawanan belibis di alam pun terpikat terbang mendekat. Lalu, slep! Sayap dan kaki mereka tersangkut jaring. Esok paginya Nero kembali datang untuk mengambil 20 belibis kembang Dendrocygna arcuata yang terperangkap di jaring. Ia lantas menjualnya ke pengepul atau restoran terdekat.

Belakangan para pemburu belibis mengganti teknik menjaring dengan suara belibis pancingan dengan kicauan dari peluit, perekam suara, player MP3, atau telepon genggam. Pemburu di Kalimantan Timur, Ahmad Fauzi, punya cara lain untuk berburu belibis. Pada siang hari ia cukup menggunakan tangan kosong untuk menangkap unggas cantik itu. “Saya adu lari cepat dan adu gesit untuk menangkapnya,” kata Fauzi. Rahasianya Fauzi memburu belibis saat musim rontok bulu usai musim hujan.

Burung air—yang biasanya sangat gesit—itu tak bisa terbang sehingga Fauzi mudah menangkap. Pada musim itu setiap hari Fauzi menangkap 10—20 belibis lalu menyetor kepada pengepul yang siap mengirimnya ke Kalimantan Selatan. Koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan, Titik Sundari SHut, mengatakan bahwa seorang pemburu belibis di Kabupaten Hulu Sungai Utara menangkap 300 ekor per bulan.

Di setiap kabupaten minimal ada 2 pemburu. Padahal, para pemburu juga tersebar di 4—5 kabupaten lain di sekitar Hulu Sungai Utara seperti Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan. Menurut Ir Arief Darmawan, penyuluh pertanian di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Selatan, unggas cantik yang aktif pada malam hari itu memang malang. Sepanjang 2004 sebanyak 120.000—165.000 belibis asal Danau Mahakam, Kalimantan Timur, ditangkap.

Setahun berselang para pemburu kian kesulitan menangkap belibis. Sepanjang 2005—2007 kelompok penangkap burung belibis hanya mampu menangkap 28.629 ekor. Di Kalimantan Selatan, populasi hewan nokturnal itu juga menyusut, meski angka pasti belum diketahui. “Bila terus tidak terkendali bisa mengalami kepunahan dalam 10 tahun ke depan,” kata Darmawan.

Menurut Prof M Arief Soendjoto MSc, peneliti burung dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan,  pada akhir 1990-an populasi belibis di Kalimantan Selatan banyak ditemukan di Hulu Sungai Utara. Ketika itu dalam sekali pengamatan ia dapat memergoki 2.000—3.000 ekor di alam. Soendjoto juga mengamati kawanan belibis mencapai ratusan ekor yang terbang membentuk formasi huruf V untuk menyiasati besarnya terpaan angin. Mereka bersiul dan kepakan sayap menimbulkan gemuruh.

Namun, populasi belibis di Hulu Sungai Utara kian menyusut. Menurut Faturahim, penangkar belibis di Hulu Sungai Utara, pada 2000 setiap setengah jam 30—50 belibis kerap terlihat terbang melintas di atas rawa. Kini memergoki 5—10 ekor melintas 2 kali sehari saja sulit. “Bahkan, kadang-kadang seharian mereka tidak tampak,” kata Faturahim.

Biodiversity Analyst dari Burung Indonesia di Bogor, Jawa Barat, Hanom Bashari, mengatakan bahwa sebetulnya status sebagian jenis belibis tergolong aman. Pada International Union for the Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species kebanyakan jenis belibis tergolong least concern (LC) alias berisiko rendah. Artinya, spesies itu secara global belum terancam punah. Penyebarannya di dunia juga tergolong luas dari Australia, India, Indonesia hingga Tiongkok.

Sementara di tanahair para pengamat burung kerap melaporkan, belibis ditemukan di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Sebut saja Deddy Permana SSi, direktur Wahana Bumi Hijau, di Palembang, Sumatera Selatan, yang sesekali melihat sepasang belibis di perairan Berbak—Sembilang, saat eksplorasi burung air 3—4 tahun silam. Namun, menurut Deddy, penemuan 1—2 pasang belibis di alam menunjukkan populasi di Sumatera juga mulai menipis. Itu karena belibis tergolong unggas air yang hidup berkelompok, mirip kawanan bebek atau angsa.

Populasi belibis kian menyusut karena kebiasaan masyarakat menyantap daging satwa liar itu. Peneliti burung air di Wetland International Programme di Bogor, Jawa Barat, Ferry Hasudungan, mengatakan, “Masyarakat di Kalimantan menyukai belibis goreng atau bakar. Belibis dihidangkan seperti daging bebek atau ayam. Di sana menu belibis malah menjadi ikon kota,” kata Ferry. Di Amuntai, Hulu Sungai Utara, misalnya, harga seporsi belibis bakar Rp80.000—Rp150.000.

Di sana belibis menjadi menu bergengsi bagi masyarakat menengah ke atas. Para pelancong berkantong tebal yang datang ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, malah rela menempuh perjalanan 190 km ke arah utara demi menikmati belibis bakar. Pada awal Februari 2013 Trubus membuktikan ucapan Ferry. Di dekat Jembatan Banua Lima, Kota Amuntai—ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara—warung kecil dengan menu belibis ibarat jamur pada musim hujan.

“Setiap warung dapat menghabiskan 10 ekor per hari,” kata Siti Rohimah, pemilik warung makan. Kerabat angsa itu dipasok dari daerah setempat hingga Kalimantan Timur. Menurut Mawardi SP MSc, peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, belibis laku keras karena gurih, lezat, dan rendah lemak sehingga penikmatnya ketagihan.

Jika IUCN dan Pemerintah Indonesia, belum melindungi belibis, Malaysia justru sebaliknya. Negara jiran itu memasukkan belibis dalam daftar satwa liar yang dilindungi pada Laws of Malaysia Act 716 Wildlife Conservation Act 2010. “Bisa saja sebuah negara melindungi sebuah spesies dengan pertimbangan sudah terancam meski secara global populasinya di dunia masih aman,”  kata Hanom. Sementara menurut Ferry, di Malaysia belibis hanya ada di negara bagian Serawak dan Sabah sehingga perlu dilindungi.

Padahal sebelumnya pada Wildlife Protection Ordinance 1998 belibis belum dilindungi. Menurut Mohd Azlan J dari Departemen Zoologi, Fakultas Sains dan Tekhnologi Universiti Malaysia Sarawak, peraturan perlindungan satwa liar di Malaysia memang mengalami evolusi seiring meningkatnya ancaman. Sebut saja laju kerusakan alam, konversi hutan, perburuan, serta perdagangan illegal yang terus meningkat.

Penyebab menurunnya populasi satwa liar—selain perburuan—belibis di Malaysia pun terjadi di Indonesia. Sebut saja konversi hutan rawa di Kalimantan Selatan menjadi kebun kelapa sawit, karet, atau pemukiman. Pantas menurut Titik sudah saatnya perburuan belibis juga diawasi. “Bila tidak segera, nanti menyesal bila sudah punah,” kata alumnus Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, itu. Kepunahan itu terjadi bila laju konversi rawa dan laju penangkapan belibis lebih besar daripada kecepatan berkembang biak.

Menurut Soendjoto, belibis yang terdapat di Pulau Kalimantan tergolong belibis kembang Dendrocygna arcuata dan belibis batu Dendrocygna javanica. Populasi belibis kembang—berwarna cokelat kemerahan pada ujung tepi sayap dengan pola kembang—paling banyak di Borneo. Belibis kembang memiliki pola bulu sayap dan leher seperti totol atau kembang. Sementara belibis batu cenderung polos dengan badan lebih kecil. Menurut Soendjoto nama belibis juga merujuk pada belibis totol D. guttata yang badan hingga lehernya bertotol-totol putih. Namun, belibis totol tidak ditemukan di Kalimantan.

Di dunia internasional belibis kembang dikenal dengan nama wandering whistling duck alias itik pengembara yang pandai bersiul. Julukan itu mengacu pada 3 keistimewaan sang belibis: pandai bersiul seperti burung kicauan, mahir berenang bak itik, dan jago terbang jauh layaknya elang. Para pehobi burung kicauan, memanfaatkan siulan belibis kembang yang indah sebagai master pada burung kicauan kontes.

Gaya bersiul belibis memang khas: lehernya—yang panjang mirip angsa—mendongak-dongak ke atas sambil mengeluarkan suara berisik tapi merdu. “Ini satu-satunya itik yang menjadi master bagi burung kicauan,” kata Faturahim yang juga kerap menjual belibis sebagai burung master seharga Rp1-juta—Rp5-juta per ekor. Saat terbang siulannya bertambah khas karena berpadu dengan suara kepak sayap yang bergema. Sosok belibis juga unik karena berleher dan berkaki panjang serta berbulu indah.

“Morfologinya jadi mirip silangan angsa, bebek, dan burung hias,” kata Soendjoto. Pantas banyak pula yang mencoba memelihara belibis sebagai klangenan. Sayang, hanya segelintir yang berhasil mengembangbiakkannya. “Pelihara belibis gampang-gampang susah. Ia gampang stres sehingga sulit memberikan keturunan,” kata Hafiz Muhardiansyah, dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (baca: Senyaman di Alam halaman 118-119) yang pernah mencoba mendomestikasi.

Di balik siulan dan keindahan bulunya, belibis yang hidup dalam kawanan juga punya kisah menarik dalam menjalin cinta. Pada musim kemarau mereka hidup bergerombol. Namun, begitu musim hujan tiba mereka memasuki musim kawin. Belibis jantan akan mendekati kembali betina pasangannya dan mencumbunya. Mereka memang monogami, hanya kawin dengan pasangan tetap selama bertahun-tahun.

Faturahim mengamati kesetiaan belibis berpasangan tanpa selingkuh itu selama 13 tahun. “Hanya kematian atau penangkapan oleh manusia yang memisahkannya,” kata Faturahim. Bila demikian pasangan tersisa baru mencari pasangan lain sebagai pengganti. Sayang, kisah cinta si burung paling setia itu banyak berakhir di tiang jala para pemburu. Bahkan, kerap kali sepasang belibis tertangkap dalam jaring yang sama. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Previous articleJual Suara
Next articleDekat Noni Jauh Depresi
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img