Saturday, August 13, 2022

Dekat Noni Jauh Depresi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Mengkudu mengandung flavonoid, polifenol, dan berbagai vitaminSi buruk rupa mengkudu berjasa baik menghalau depresi.

Banyak orang sulit mengingat, apalagi mengucapkan nama lengkapnya: (+) 3,4,3’,4’-tetrahidro-9,7’a-epoksilignan-7a,9’-lakton. Untuk memudahkan, sebut saja lakton. Senyawa karbon dari golongan keton itu salah satu zat dalam buah mengkudu matang Morinda citrifolia. Bersama kuersetin dan kaempferol, lakton manjur menangkal depresi atau gangguan jiwa pada seseorang dengan indikasi perasaan yang merosot seperti muram,  sedih, dan perasaan tertekan.

 

Junius Rahardjo, memproduksi ekstrak mengkudu dengan kandungan terstandarBerbagai merek jus mengkudu di pasaranBegituah hasil riset Dr Shixin Deng dan koleganya dari Departemen Penelitian dan Pengembangan Tahitian Noni Internasional, Utah, Amerika Serikat. Riset itu membuktikan bahwa kandungan lakton, kuersetin, dan kaempferol dalam ekstrak buah mengkudu mampu menekan enzim monoamina oksidase alias MAO. Menurut Nurcahyanti Wahyuningtyas MBiomed Apt, farmakolog di Universitas Muhammadiyah Surakarta, enzim itu berperan meningkatkan kewaspadaan seseorang.

Banyak depresi

Bagaimana lakton bekerja? Senyawa itu menghambat penguraian zat-zat monoamina pemberi rasa nyaman—sebut saja dopamin, serotonin, epinefrin, dan norepinefrin. “Saat pemberi rasa nyaman absen, seseorang menjadi waspada terhadap kondisi sekitarnya,” kata Nurcahyanti. Monoamina oksidase ada 2 macam: MAO A yang  bekerja di hati dan organ pencernaan serta MAO B bertugas di otak, sistem saraf, dan keping darah.

Sayang, kewaspadaan berlebih juga menjadi masalah lantaran memicu terjadinya depresi. Riset Kementerian Kesehatan pada 2007 mendapati 11,6% penduduk Indonesia mengidap depresi. Dari jumlah itu, 0,46% terindikasi menderita gangguan jiwa berat. Hasil survei Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) pada tahun sama tak kalah mengejutkan: 94% masyarakat tanahair mengidap depresi. Tingkatannya bervariasi dari sangat ringan sampai akut. Itu sebabnya konsumsi herbal antidepresan menjadi penting.

Deng menggunakan buah mengkudu matang yang tumbuh di Mataiea, Pulau Tahiti, Polinesia Prancis. Ia mengolah buah anggota famili Rubiaceae itu menjadi jus, lalu menjadi serbuk ekstrak dengan pengeringan beku. Doktor Farmakognosi alumnus Universitas Illinois, Chicago, Amerika Serikat, itu lantas mengambil 2 kg serbuk ekstrak, merendam sehari semalam, lalu menyaring dengan 20 liter metanol. Metanol bersifat nonpolar sehingga menghasilkan serbuk yang bebas dari pengotor nonpolar seperti resin.

Ia lantas memekatkan serbuk hasil penyaringan, merendam dalam air suling, lalu membagi 4. Bagian pertama ia ekstrak dengan petroleum eter, bagian kedua dengan etanol asetat, bagian ketiga dengan butanol, sisanya ia biarkan sebagai fraksi air. Semua ekstrak lantas ia uji selama 60 menit dengan enzim MAO A dan MAO B, dengan konsentrasi masing-masing 4,2 ug per ml dan 13 ug per ml.

Ternyata, ekstrak etanol asetat menunjukkan penghambatan terbaik (lihat tabel). Peraih gelar sarjana Herbal Tradisional, Universitas Liaoning, China, itu lantas menapis zat aktif terhadap ekstrak etanol asetat. Tujuannya mencari bahan yang paling berperan menekan kinerja enzim MAO. Ia menemukan bahwa trio lakton, kuersetin, dan kaempferol yang memberikan kontribusi terbesar. Meski daya hambat ketiganya tidak sekuat tetrindol—penghambat MAO sintetis yang lazim digunakan kalangan medis—tetapi konsumsi mengkudu jelas lebih aman bagi kesehatan dan relatif bebas efek samping.

Terstandar

Menurut Wahyu Suprapto, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, mengkudu memang mengandung bermacam zat yang bermanfaat bagi tubuh. Di antaranya polifenol, flavonoid, dan berbagai vitamin. Itu sebabnya kerabat jabon itu lazim digunakan sebagai bahan utama untuk perawatan batuk, gangguan pernapasan, tekanan darah tinggi, sampai kanker. Yang disebut terakhir lantaran kandungan antrakuinon jenis damnakantal.

Riset Deng membuktikan bahwa lakton—yang juga tergolong antrakuinon—pun bermanfaat. Selain itu ada kaempferol yang tergolong polifenol dan kuersetin yang termasuk kelompok flavonoid. Wajar jika produsen herbal kini mematok standar minimal kandungan flavonoid, polifenol, dan berbagai zat lain dalam produknya. Ambil contoh Javaplant, produsen ekstrak herbal dan berbagai bahan alam di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Pabrikan yang berdiri pada 2000 itu menjamin ekstrak mengkudu hasil produksinya memiliki kandungan polifenol, flavonoid, dan vitamin C terstandar. “Standar itu fleksibel, tergantung permintaan konsumen,” kata Junius Rahardjo, direktur operasional Javaplant. Oleh karena itu ekstrak buah mengkudu buatan Javaplant menjadi bahan baku sebuah produsen minuman di tanahair. Bukan hanya buah, Javaplant juga membuat ekstrak daun mengkudu terstandar polifenol untuk keperluan ekspor ke Jepang.

Hal yang nyaris serupa juga dilakukan PT Trias Sukses Dinamika, produsen jus mengkudu merek Javanony.  Produsen di Bogor, Jawa Barat, itu menjamin produknya bebas bahan pengawet, tanpa tambahan gula, atau tambahan bahan sintetis. Mereka bahkan mengurangi asam kaproat dan kaprilat biang keladi bau menyengat yang kerap menghambat orang memetik khasiat mengkudu. Hasilnya khasiat mengkudu pun nikmat dicecap dan yang pasti bebas depresi. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articleTRAGIS NASIB BELIBIS
Next articleHati Tanpa Kepiting
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img