Tuesday, August 9, 2022

Hati Tanpa Kepiting

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Temulawak terbukti ilmiah antikanker dan antibakteriTemulawak ampuh atasi karsinoma hepatoselular.

David Yiu dan rekan dari The University of Hong Kong, menyebutkan karsinoma hepatoselular penyebab ketiga paling umum dari kematian kanker di dunia. Dalam jurnal “World J Gastroenterol”, David menyatakan penyakit itu menyebabkan 598.000 kematian per tahun di seantero jagat. Menurut Dr dr Nyoman Kertia SpPD Kr dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, karsinoma hepatoselular termasuk kanker hati. Itu berhubungan dengan hepatitis B dan C.

 

Beragam bentuk olahan temulawak beredar di pasaranJika pasien kedua penyakit itu tidak ditangani dengan tepat sehingga virus masih bersarang dalam tubuh, risiko terkena kanker hati lebih besar. “Sulit menyembuhkan kanker hati,” kata alumnus Rheumato Immunology and Phytopharmacy Royal Perth

Hospital University Australia Barat itu. Meski begitu, penelitian Tri Handayani dari Fakultas Sains dan Teknologi, Universiti Kebangsaan Malaysia, menjadi berita baik bagi penderita kanker hati. Handayani menguji xantorizol—salah satu zat aktif dalam rimpang temulawak—melawan sel kanker hati.

Temulawak unggul

Penelitian Tri Handayani itu memastikan 3 hal, yaitu mengetahui efek antiproliferasi, jumlah sel yang berapoptosis, dan aktivitas protein pada sel kanker hati atau HepG-2. Untuk mengetahui efek antiproliferasi, Handayani memperlakukan sel kanker hati dengan xantorizol berkonsentrasi 0,2—50 mg/ml. Untuk kontrol negatif, Handayani memberi perlakuan sel kanker hati dengan 1% dimetil sulfoksida (DMSO). Sementara pada kontrol positif ia memperlakukan sel HepG-2 dengan senyawa antikanker cisplatin.

Sementara untuk mengetahui sel yang berapoptosis Handayani memberi 4 mg xantorizol /ml kepada  sel kanker hati selama 0 jam, 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Sebagai kontrol negatif, ia juga memberikan  1% dimetil sulfoksida pada sel kanker hati, sedangkan kontrol positif, 8 mg/ml cisplatin. Hasil riset ilmiah itu menunjukkan pada konsentrasi 4,17 mg/ml, xantorizol mengurangi 50% populasi sel kanker hati. Sementara nilai konsentrasi penghambatan (IC50) cisplatin terhadap sel kanker 7,41 mg/ml.

Artinya xantorizol memiliki efek antiproliferasi lebih tinggi ketimbang obat kanker berupa cisplatin. Selain itu xantorizol juga mempunyai aktivitas proliferasi terhadap sel normal hati. Namun, nilai IC50 xantorizol terhadap sel kanker lebih rendah daripada sel normal. Itu berarti xantorizol bersifat lebih toksik terhadap sel kanker yang disimbolkan dengan kepiting. Hasil riset menunjukkan sel kanker yang diberi xantorizol menampakkan ciri apoptosis alias program bunuh diri sel, yaitu fragmentasi asam deoksiribonukleat, (DNA).

Pembuktian hal itu melalui fluoresensi kuning pada nukleus atau inti sel. Setelah perlakuan 24 jam jumlah sel yang berapoptosis meningkat hingga lebih dari 70%; bahkan mencapai 95% pada perlakuan 72 jam. Bandingkan dengan kelompok kontrol, sel kanker yang berapoptosis kurang dari 5%. Salah satu faktor pemicu apoptosis karena p-53 alias protein penekan tumor aktif. Protein p-53 berperan mengaktifkan gen pengontrol siklus sel, apoptosis, dan menurunkan ekspresi protein Bcl-2 (protein antiapoptosis) selama program bunuh diri sel itu berlangsung.

Riset lain menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak temulawak semakin besar pula aktivitas antiproliferasi terhadap sel tumor limfoma dan serviks. Itulah hasil penelitian Esther Juliana Stephani dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Kurkumin dalam temulawak menghambat proliferasi sel tumor melalui mekanisme menginduksi apoptosis melalui jalur mitokondria yang melibatkan antara lain pelepasan sitokrom c dan caspase-3. Selain itu, kurkumin menurunkan jumlah protein antiapoptosis Bcl-2.

Tifus

Selain andal atasi sel kanker, rimpang Curcuma xanthorriza juga unggul mengatasi bakteri Salmonella typhi, penyebab penyakit tifus. Sejatinya tifus bukanlah penyakit zaman modern saja. Pada 430-424 SM sebuah wabah membunuh sepertiga penduduk Athena, Yunani, termasuk Pericles, sang pemimpin. Akibatnya keseimbangan kekuasaan bergeser dari Athena ke Sparta dan mengakhiri masa kejayaan Pericles. Hasil penelitian Papagrigorakis MJ dan rekan dari University of Athens, Yunani, itu menyimpulkan penduduk Athena tewas karena penyakit tifus.

Menurut spesialis reumatologi dan penyakit dalam, Dr dr Nyoman Kertia SpPD Kr, usus pasien yang terkena tifus mengalami peradangan. “Akibatnya pasien sering mual dan diare,” kata dosen Fitofarmaka Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu. Jika sudah parah bakteri merugikan itu bisa masuk ke peredaran darah. Kertia menuturkan penularan tifus sangat mudah, apalagi jika kondisi lingkungan bersanitasi buruk. Untuk pengobatan biasanya dokter memberikan antibiotik.

Penelitian Sjoekoer M Dzen, Samodrijanti Wibowati, dan Antyanti Widya Purwarini dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur membuktikan khasiat temulawak sebagai antibakteri. Sjoekoer menggunakan konsentrasi ekstrak rimpang temulawak beragam dari yang terkecil 0% hingga terbesar 25% untuk menguji efek antibakteri terhadap S. typhi. Dengan metode tube dilution, ia memperoleh data kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM).

Sjoekoer menghitung KHM berdasarkan kekeruhan tabung, sedangkan KBM sesuai dengan jumlah koloni pada nutrient agar plate (NAP). Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan jumlah koloni S. typhi seiring dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak rimpang anggota famili Zingiberaceae itu. Nilai KBM pada penelitian Sjoekoer 20% (setara dengan ekstrak 0,4 ml). Itu berarti pada ekstrak rimpang temulawak berkonsentrasi 20% tidak terdapat pertumbuhan kuman sama sekali.

Sementara KHM pada konsentrasi 17,5% (setara dengan 0,35 ml). Artinya pertumbuhan koloni kuman sangat minimal karena terjadi efek penghambatan pertumbuhan S. typhi.

Sineol, borneol, dan xantorizol dalam rimpang temulawak bersifat antibakteri. Senyawa fenol itu memiliki mekanisme toksisitas terhadap bakteri melalui inhibisi enzim oleh bahan-bahan yang teroksidasi. (Riefza Vebriansyah)

Previous articleDekat Noni Jauh Depresi
Next articleHangat Usir Pegal
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img