Traktor terintegrasi dengan internet (internet of things) membajak sawah tanpa awak, hanya 3 jam per hektare.

Trubus — Traktor berwarna hitam itu berjalan sendiri menyusuri sawah. Padahal tidak ada orang yang memegang stang traktor untuk mengendarainya. Sebetulnya traktor itu memang bergerak otomatis dan didesain tanpa awak. Mesin itu adalah autonomous tractor, inovasi terbaru Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, melalui unit kerjanya Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan).
Kehadiran traktor otomatis untuk mengikuti perkembangan teknologi mutakhir yang terhubung dengan internet (internet of things). Tim peneliti merakit semua komponen elektronik traktor otomatis roda empat itu.
Untuk milenial
Hanya satu traktor otomatis yang diperlukan untuk menggarap lahan lebih dari 10 hektare. Alat itu menghabiskan waktu 3—4 jam untuk membajak lahan satu hektare sama dengan traktor manual.
Keunggulan traktor otomatis itu antara lain bekerja dengan ketelitian dan keakurasian tinggi. Dampaknya terjadi perbaikan produktivitas dan efisiensi pengolahan lahan pertanian. Sejatinya traktor otomatis itu pengembangan traktor manual yang banyak beredar di masyarakat dengan penambahan actuator control pada sistem pengendalian.
Kontrol yang dilakukan pada traktor otomatis antara lain kemudi, kopling, perseneling, gas, serta rem kanan dan kiri. Autonomous tractor dilengkapi unit penerima dan pengolah data geo positioning system (GPS). Perangkat itu berfungsi menerima data GPS dari satelit. Selanjutnya komputer pengendali memerintahkan aktuator bergerak sesuai algoritma yang dibangun. Itulah yang menjadi acuan pergerakan traktor.

GPS yang terpasang pada traktor yakni GPS Real Time Kinematika (RTK). Sebetulnya berbagai institusi di Indonesia mengembangkan traktor otomatis pengolahan tanah. Namun, masih ada kendala mekanisme dalam penggunaan di lapangan. Autonomous tractor hadir dengan inovasi terbaru yang berbeda dari penelitian sebelumnya seperti pengembangan sistem navigasi RTK Base Rover berbasiskan modular yang berbiaya lebih rendah karena diproduksi sendiri. Tersedianya sistem komunikasi antara traktor dan base station dengan Protokol TCP/IP menggunakan media wireless 2.4 atau 5 GHz inovasi lain traktor otomatis.
Gerakan traktor mengolah tanah terbagai menjadi dua yaitu gerakan maju pada lintasan lurus atau lintasan olah dan belok untuk berpindah pada jalur kerja berikutnya. Pengolahan tanah terjadi pada lintasan lurus. Traktor berjalan maju mulai dari titik awal hingga ke titik akhir mengikuti lintasan acuan. Ketika mencapai ujung lintasan lurus, maka traktor berbelok dan berpindah ke jalur olah selanjutnya.
Traktor maju dengan sudut putaran setir maksimum dengan arah sesuai posisi lintasan lurus berikutnya. Salah satu tuas rem aktif sesuai arah belok. Tuas rem kiri aktif jika traktor memutar ke kiri dan sebaliknya. Tuas rem berhenti bekerja ketika traktor terdeteksi berbalik arah hadap. Implemen dinaikkan ketika traktor berbelok sehingga tidak terjadi pembajakan tanah.
Setelah pembuatan peta jalur lintasan selesai, implemen diturunkan dan traktor maju. Pembuatan peta jalur lintasan traktor dengan cara memasukkan 4 titik koordinat lahan segi empat. Lebar lintasan disesuaikan dengan lebar kerja implemen. Tingkat akurasi pengolahan lahan sesuai peta perencanaan traktor otomatis itu mencapai 5—25 cm. Harapannya kehadiran autonomous tractor menarik minat anak milenial untuk menekuni dunia pertanian. Pengoperasian traktor itu juga mudah dipelajari.
Terutama bagi anak zaman now yang lazim menggunakan gawai. Saat ini tim periset mendaftarkan paten peranti modern itu. Setelah itu perusahaan swasta melisensi dan memproduksi traktor masa depan itu. Targetnya petani dapat memanfaatkannya pada 2020. (Dr. Ir. Sigit Triwahyudi M.Si., perekayasa Autonomous Tractor dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian)
