Saturday, January 17, 2026

Tujuh Strategi Pengembangan Peta Jamu di Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Indonesia kaya akan rempah. Hampir seluruh wilayah nusantara menghasilkan rempah yang dapat dikembangkan, sebagai andalan perekonomian dan pariwisata daerah. Sebagai contoh di Provinsi Aceh dahulu dikenal sebagai penghasil rempah terbesar di Indonesia, terutama lada dan kayu manis.

Bergeser ke sisi timur Indonesia dunia Internasional telah mengenal Maluku sebagai spice island atau pulau rempah-rempah. Khususnya pala dan cengkeh.

Sejak dulu Ambon dikenal sebagai lokasi pengembangan ilmu pengetahuan dunia khususnya tanaman herbal atau rempah seperti didokumentasikan dalam buku Herbarium Amboinense.

Selain Ambon, Pulau Buru terkenal sebagai penghasil minyak kayu putih yang digunakan sebagai obat bahan alam. Tidak hanya rempah Indonesia juga dianugerahi kekayaan alam melimpah dengan keanekaragaman hayati kedua terbesar di dunia.

Di Indonesia tidak kurang 2.848 spesies tumbuhan obat dan 32.014 ramuan obat tradisional sudah teridentifikasi. Masyarakat Indonesia telah menggunakan ramuan obat bahan alam khususnya obat herbal secara turun menurun dalam pengobatan tradisional.

Plt Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dr. Dra. L. Rizka Andalusia, Apt, M. Pharm, MARS., dalam acara HUT Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) (10/12/2023) menuturkan peluang untuk mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan hayati seperti obat herbal berkualitas masih terbuka luas.

Untuk itu pemerintah Indonesia telah menerbitkan intruksi presiden (inpres) no 6 tahun 2016 tentang percepatan industri farmasi dan alat kesehatan. Salah satu produk yang menjadi prioritas pengembangan adalah obat bahan alam termasuk jamu.

Komitmen kuat pemerintah Indonesia pada pengembangan dan pemanfaatan jamu juga tercermin dalam undang-undang no 17 tahun 2023 tentang kesehatan. Salah satu subtansi penting yang diatur dalam undang-undang itu yaitu terminologi obat bahan alam menggantikan terminologi obat tradisional. Untuk mengkategorikan produk mengadung bahan berkhasiat dari bahan alam.

Terminologi itu memberikan peluang lebih luas untuk pemanfaatan obat bahan alam termasuk jamu pada pelayanan kesehatan formal. Baru-baru ini pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan peraturan presiden (perpres) no 54 tahun 2023 tentang pengembangan dan pemanfaatan jamu.

Perpres itu menjadi pedoman bagi kementerian dan lembaga dan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemanfaatan jamu. Sebagaimana perpres itu, Indonesia telah memiliki peta jalan pengembangan dan pemanfaatan jamu melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir.

Rizka menuturkan sesuai dengan peta jalan itu pengembagan jamu dilaksanakan melalui 7 strategi yaitu penguatan sistem produksi, penguatan pasar, peningkatan pengetahuan tradisional masyarakat dan  kompetensi sumber daya manusia (SDM).

Kemudian pengembangan sistim informasi jamu terpadu, penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelestarian dan perlindungan sumber daya bahan baku, dan penguatan kelembagaan, regulasi, dan  infrastuktur.

Sementara itu pemanfaatan jamu diarahkan melalui 2 strategi yaitu penguatan pemanfaatan jamu untuk kesehatan atau sinergi dan integrasi jamu dalam sistem kesehatan nasional dan penguatan pemanfaatan jamu untuk non kesehatan atau industri pariwisata, ekonomi kreatif, sosial budaya, keagamaan dan lainnya.

“Dengan dukungan kebijakan dan regulasi tersebut bahan herbal termasuk rempah sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi jamu bahkan hingga obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Produk itu dapat bernilai tambah  dibandingkan jamu dan dapat dimanfaatkan dalam pelayanan normal,” kata Rizka.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img