Friday, January 16, 2026

Ubah Cabai Jadi Keripik untuk Atasi Fluktuasi Harga

Rekomendasi
- Advertisement -

Anak muda asal Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Tri Wahyudi, membuktikan bahwa bertani bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Ia konsisten menanam berbagai tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, terung, dan kacang panjang. Pola tanam tumpang sari yang ia terapkan selalu menyesuaikan dengan harga pasar yang sedang tinggi.

Namun, cabai tetap menjadi komoditas utama yang ia tanam sepanjang musim. Alasannya, cabai selalu dibutuhkan konsumen setiap hari meskipun harganya sering berfluktuasi. Wahyudi membudidayakan cabai rawit (70%) dan cabai keriting (30%) di lahan seluas 600 m² yang tersebar di empat lokasi di Kabupaten Bantul. Setiap dua bulan, ia rutin memanen sekitar 1 kuintal cabai.

Harga cabai keriting cenderung stabil di kisaran Rp30.000—Rp40.000 per kg, sementara harga cabai rawit lebih fluktuatif, bisa berkisar antara Rp10.000 hingga Rp120.000 per kg. Pada Januari 2025, harga cabai rawit mencapai Rp70.000 per kg, membuat Wahyudi meraup omzet Rp4,9 juta per panen. Sedangkan dari cabai keriting, ia memperoleh Rp1,05 juta. Total pendapatan Wahyudi dalam satu siklus panen mencapai Rp5,95 juta, dengan enam kali panen dalam setahun.

Mengolah Cabai Menjadi Keripik

Fluktuasi harga cabai mendorong Wahyudi dan anggota Kelompok Taruna Tani Berkah Jaya untuk berinovasi. “Saya ingin mempertahankan nilai jual cabai supaya tetap tinggi,” ujar petani berusia 30 tahun itu. Bersama 19 anggota kelompoknya, ia mengembangkan produk olahan berupa keripik cabai.

Berkat saran dari penyuluh pertanian, Wahyudi mengajukan proposal bantuan peralatan pascapanen ke Kementerian Pertanian. Pada Oktober 2024, kelompoknya berhasil mendapatkan fasilitas seperti oven, penggilingan, kompor, alat pengemasan, dan mesin sealer.

Produksi uji coba menghasilkan 100 bungkus keripik cabai. Untuk membuatnya, mereka menggunakan 3 kg cabai rawit atau cabai keriting, 5 kg tepung beras, berbagai bumbu, dan 5 liter minyak goreng. Total biaya bahan baku sekitar Rp200.000 per 100 kemasan. Dengan harga jual Rp3.000 per bungkus, mereka memperoleh keuntungan Rp100.000 per 100 bungkus keripik cabai.

Saat ini, keripik cabai hasil inovasi Wahyudi dan timnya sudah dipasarkan di beberapa toko di Kabupaten Bantul. Selain keripik, ia juga mempertimbangkan produk olahan lain seperti sambal dan minyak cabai. Namun, menurutnya, keripik cabai lebih praktis dalam produksi dan pemasaran.

Memastikan Keberlanjutan Usaha

Dengan inovasi ini, Wahyudi dan kelompoknya berhasil menciptakan solusi atas tantangan harga cabai yang fluktuatif. Pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah tidak hanya membantu mereka mengurangi risiko kerugian, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang lebih berkelanjutan bagi para petani muda di daerahnya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img