Tuesday, November 29, 2022

Ulat sutera: Hama Jadi Harta

Rekomendasi

Ribuan ulat rakus melahap daun itu bahan benang bernilai Rp2-juta per kg.

Ribuan pohon di Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, nyaris tanpa daun. Jambu mete, avokad, sirsak, mahoni, dan pohon-pohon lain meranggas. Ribuan ulat yang menikmati daun di pepohonan itu menimbulkan suara gemerisik hampir sepanjang malam.

Joyo Pargiyanto, salah satu pekebun pohon itu tidak lantas kalap memberantas larva anggota famili Papillionidae itu. Alih-alih terganggu, ia justru bersyukur. Semakin banyak ulat, semakin ia senang. Apa pasal? Ia mengolah ulat-ulat itu menjadi kain sutera bernilai tinggi. Lelaki 43 tahun itu mengolah 2 jenis ulat: ulat kipat Cricula trifenestrata dan ulat gajah Attacus atlas. Kokon alias kepompong kedua ulat itu bernilai Rp65.000—Rp70.000 per kg. Setelah pemintalan dan penenunan menjadi kain, harga selembar sutera asal ulat dengan lebar 48 cm dan panjang 1 meter mencapai Rp500.000. Bandingkan dengan harga sutera puti asal ulat Bombyx mori, Rp100.000—Rp150.000 dengan ukuran sama.

Kain-kain sutera berbahan kepompong ulat
Kain-kain sutera berbahan kepompong ulat

Kepompong

Ulat kipat menghasilkan benang sutera berwarna emas. Adapun warna sutera dari ulat gajah tanpa proses pewarnaan bervariasi antara cokelat muda hingga cokelat tua keemasan. Tubuh ulat kipat berwarna hitam dengan bintik dan bulu putih, sedangkan bagian kepala dan ujung perut berwarna merah cerah. Ulat itu berasal dari telur ngengat dewasa berwarna cokelat muda dengan tiga bercak transparan di sayap depan. Ia menjalani hidup sebagai ulat selama 20—45 hari dan mengalami 4 kali pergantian kulit.

Setiap fase di antara pergantian kulit, disebut instar, berlangsung 4—9 hari. Selama menjadi instar kelima sebagai ulat berukuran 4—6 cm, ulat kipat makan lebih rakus. Tujuannya memperoleh cukup tenaga untuk membentuk kepompong. Setelah memperoleh cukup energi, ia lantas membuat kokon kuning keemasan selama 2 hari. Selang 17—21 hari, dari kepompong akan muncul ngengat dewasa.

Adapun ulat gajah berwarna hijau muda, memiliki duri lunak dan berselimut tepung putih. Ciri lain ulat gajah adalah tubuh besar dengan panjang mencapai 15 cm. Setelah melewati 6 kali pergantian kulit, masing-masing selama 4—6 hari, ulat gajah pun membentuk kepompong.

Saat kepompong-kepompong itu berumur 3 hari, Pargiyanto panen. Kepompong siap panen kalau pupa—bagian dalam kepompong—telah mengeras, berwarna cokelat, dan terasa bergeser saat digoyangkan, menandakan adanya rongga kosong antara kulit kepompong dengan pupa di dalamnya. Dari setiap pohon, ia memperoleh hingga 2 kg kepompong. Setiap musim, lahan itu menghasilkan hingga sekuintal kepompong tanpa pupa, sekitar 2.000—3.000 kepompong. Pargiyanto menyisakan 10% kepompong untuk mempertahankan populasi ulat agar ia bisa panen pada musim berikutnya.

Untuk memintal benang, Pargiyanto merebus kokon lolos seleksi selama 24 jam. Setelah berbentuk seperti kapas, ia mendinginkan kokon selama 4 jam. Ia lalu memintal benang dengan alat tenun sambil memilin benang dengan tangan. Benang yang didapat masuk penyaring dan berakhir di penggulung benang. Jika putus atau habis, Pargiyanto segera menyambung filamen dari kokon lain. Filamen alias benang tipis itu lantas ia pilin menjadi benang twist alias benang pilin. Setiap pilinan terdiri atas 5—10 benang mentah. Menurut Sari Nur Anisa, kepala Produksi Yarsilk Gallery, toko sutera terbesar di Kota Yogyakarta, setiap kepompong dapat menghasilkan 2.500 meter filamen. Begitu menjadi gulungan benang twist, panjangnya hanya 20 m.

Hasil pemintalan benang sutera
Hasil pemintalan benang sutera

Sutera emas

Serat sutera dari kedua ulat itu 2—3 kali lebih tebal ketimbang serat sejenis asal ulat murbei Bombyx mori. Ketebalan filamen kepompong bervariasi, tetapi penampang melintang filamen seragam. Hasilnya, serat sutera yang dihasilkan pun lebih panjang dan kuat. Keunggulan lain, kain sutera alami halus, tidak mudah kusut, tahan panas, dan tidak menyebabkan alergi. Wajar jika sekilogram benang dari ulat sutera liar dihargai hingga Rp2-juta.

Pengolahan ulat sutera liar di Desa Karangtengah bermula pada 2000. GRA Nurmalita Sari alias Kanjeng Ratu Pembayun, putri sulung gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X, mendapat informasi bahwa ulat sutera Indonesia bernilai tinggi dari Prof Hiromu Akai. Hiromu, peneliti ulat sutera asal Jepang sekaligus ketua Perkumpulan Sutera Liar Dunia itu terkejut begitu tahu ulat yang menjadi hama dan dibasmi penduduk adalah satu-satunya spesies di dunia yang menghasilkan benang sutera berwarna emas. Pembayun lantas menyebarkan informasi itu ke Karangtengah. Dalam sekejap, ulat yang semula dihabisi ramai-ramai itu naik kelas menjadi makhluk kesayangan.

Hiromu pernah mencoba membudidayakan ulat kipat di Jepang, tetapi gagal. Menurut Prof Dr Jesmandt Situmorang, MSc, peneliti ulat sutera di Fakutas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, kegagalan terjadi karena banyak faktor. Di antaranya ketidaksesuaian iklim, ketidakcocokan pakan, sampai serangan bakteri. “Ulat kipat memerlukan suhu 24—300C dan kelembapan di atas 50% untuk hidup dan berkembangbiak,” ujar Jesmandt. Di bawah iklim subtropis Jepang, ulat-ulat itu jelas tidak mampu bertahan.

Kedua ulat penghasil sutera liar itu hanya muncul pada permulaan kemarau, ketika hujan masih turun sesekali. Itu sebabnya panen pun hanya setahun sekali. Pasalnya, produksi sangat bergantung kondisi cuaca. Menurut Jesmandt, perkembangan kupu-kupu dan ngengat terganggu saat hujan. Sebabnya penyakit dan predator ulat banyak berkembang di musim hujan.

Sudah begitu, kedua penghasil sutera alam itu hanya bisa hidup di lingkungan kebun. Pada 2010, Pargiyanto mencoba mendomestikasi seperti lazimnya dilakukan pada ulat murbei. Sayang, usaha itu gagal. Ulat menemui ajal pada 14—16 hari alias pada fase instar ke-3 tanpa diketahui sebabnya. Jesmandt melihat peluang mengembangkan ulat sutera liar masih terbuka. Jika hambatan domestikasi teratasi, ternak ulat kipat dan ulat gajah bisa dilakukan di halaman rumah. (Kartika Restu Susilo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img