Monday, November 28, 2022

Jati Bongsor Karena Sapi

Rekomendasi
HAL 141-142-4
Lokasi pohon dekat dengan kandang sapi sehingga tanamn tumbuh bongsor

Jati 3 tahun setinggi 15 meter dan berdiameter 28 cm. Pemilik tak segaja membongsorkan pohon.

Sebanyak 80 pohon jati Tectona grandis tumbuh menjulang dengan diameter mencapai 28 cm dan tinggi 15 m. Batang lurus tinggi dengan lingkar silindris sempurna, menandakan tercukupinya kebutuhan unsur hara. Dengan perawatan serupa,, jati lain di lahan sama baru mencapai diameter 15 cm setinggi 10 m. Itulah panorama di kebun milik Sugiharto Soelaiman di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pemilik lahan sebelum Wisnu, hanya membenamkan 6 kg pupuk kandang sebagai pupuk dasar pada awal penanaman, 3 tahun silam. Sampai kini tidak ada lagi pemupukan susulan. Menurut Dr Ir Supriyanto, periset di Lembaga Penelitian Kehutanan SEAMEO Biotrop di Bogor, Jawa Barat, perbedaan mencolok itu lantaran asupan pupuk kotoran sapi dari dua kandang  yang berdiri sebelum penanaman jati. Setiap kandang seluas 18 m2 itu terdiri atas dua sapi pedaging.

Bukan kebetulan

Kandang berlantai tanah dan tanpa saluran pembuangan kotoran. Akibatnya kotoran dan urine dari kandang mengalir ke parit selebar 100 cm. “Bukan kebetulan kalau semua jati yang bongsor tumbuh di sekitar parit,” kata Supriyanto yang sempat mengunjungi kebun jati berjarak 50 dari Pantai Sundak itu. Sugiharto membeli tanah itu—bibit jati telah ditanam—dari pemilik lama pada Februari 2013. Sang pemilik lama, yang kini tidak terlacak keberadaannya, menanam jati klon biotrop.

Klon hasil proses perbanyakan secara kultur jaringan di laboratorium Biotrop di Tajur, Kotamadya Bogor, itu perlu jenis tanah kapur dengan tingkat keasaman 4,5—7, curah hujan 1.500—2.000 mm per tahun, dan suhu udara 27—360C agar tumbuh optimal. Menurut Supriyanto, klon yang rilis pada 2000 itu mampu tumbuh di ketinggian 5–800  meter di atas permukaan laut (dpl).

Anjuran pemupukan sebanyak 2 kali setahun sampai tanaman berumur 5 tahun. Pupuk jenis kompos dengan dosis 6—10 kg diberikan pada November dan Maret. Perawatan lain sekadar penyiangan untuk mencegah terjadinya kompetisi gulma dan tanaman utama. “Riap tumbuh jati biotrop 4—5 cm per tahun,” kata dosen Departemen Sillvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, itu. Artinya, dengan perawatan sesuai anjuran saja perlu 5 tahun untuk mencapai ukuran 28 cm seperti di lahan Sugiharto.

Menurut Prof Dr Ir Tualar Simarmata MS, guru besar Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, keberadaan kandang sapi dekat pohon jati bisa berdampak signifikan bagi pertumbuhan. Apa sejatinya kandungan urine dan kotoran sapi? Pada dasarnya kotoran sapi tergolong pupuk organik dengan kandungan unsur lengkap, mulai dari kalium, fosfor, nitrogen, dan unsur karbon organik (lihat tabel). “Namun kadarnya rendah, tidak seperti pupuk sintetis,” kata Tualar.

Itu sebabnya, pemberian rutin pupuk kandang dengan dosis tepat bisa memacu pertumbuhan pohon. Pupuk kandang juga memperbaiki sifat granulasi tanah, kaya mikrob bermanfaat, dan tinggi kandungan hara. Menurut pria kelahiran Sumatera Utara itu, sebagian mikrob mampu menghasilkan hormon pertumbuhan sehingga memper-cepat pertumbuhan. Artinya sudah dipupuk, dipacu pula. Wajar kalau jati tumbuh lebih besar dan lebih cepat.

Dr Ir Supriyanto
Dr Ir Supriyanto

Akhir kemarau

Meski tumbuh cepat, Supriyanto tidak menganjurkan pekebun panen pohon bangsawan itu lebih awal. Idealnya jati dipanen pada umur 20 tahun, sebab kayu tua memiliki tingkat kekuatan dan keawetan tinggi. Pori-porinya rapat sehingga awet dan tahan terhadap serangan hama perusak kayu. Panen muda bisa saja dilakukan, tetapi kekuatan kayu masih rendah, mudah terserang rayap karena kerapatan pori kayu yang tidak rapat, dan mudah lapuk karena kadar air di dalam kayu masih cukup tinggi.

Menurut surat keputusan Direktur Perum Perhutani No.1148/2011, harga jual dasar kayu jati bundar bervariasi Rp400.000—Rp14-juta per m3. Kayu yang termasuk kelas vinir harganya lebih tinggi lagi, berkisar Rp5-juta—Rp19-juta per m3.  Menurut Japar Sidik, petugas khusus tanaman Perum Perhutani Pusat, Jakarta, pertumbuhan jati hutan (nonhasil pemuliaan, red) hanya berkisar 1—2 cm per tahun. Artinya, pada tahun kelima pascatanam, diameter batang jati hutan baru 5—10 cm.

Sudah begitu, masyarakat cenderung memandang sebelah mata pemeliharaan tanaman. “Mereka hanya memberikan pupuk kandang atau kompos sebagai pupuk dasar ketika menanam bibit. Setelah itu tidak ada lagi perawatan, entah sekadar penyiangan apalagi pemupukan susulan,” kata Japar. Padahal, jati memerlukan asupan unsur fosfor untuk membentuk batang. “Tanpa unsur itu, daun hanya tumbuh dan rontok tanpa diikuti pembesaran batang,” kata Tualar.

Artinya, tanaman sekadar bertahan hidup. Secara alami, jati memang mengalami masa berhenti tumbuh ketika musim kemarau. Saat itu tanaman meranggas untuk mengurangi penguapan sehingga laju fotosintesis menurun. Efeknya, tentu saja pembesaran batang melambat. Begitu hujan turun, pohon kembali bertunas. Saat itulah tanaman memerlukan asupan nutrisi untuk menumbuhkan daun sehingga pekebun dianjurkan memupuk pada akhir kemarau.

“Kalau ingin pohon bagus, berikan pupuk,” kata Supriyanto. Artinya, meski menanam klon jati berpotensi bongsor, tapi tanpa teknik budidaya yang tepat jangan harap tanaman tumbuh cepat dan besar. Untuk menyamai jati di lahan Sugiharto, ia menyarankan pemberian 6—10 kg pupuk kandang setiap 6 bulan untuk tanaman berumur 1 tahun. Tentunya tanpa melupakan pengaturan jarak tanam, pemeliharaan bawah tegakan, pengendalian hama dan penyakit, dan penjarangan pohon. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img