Tuesday, November 29, 2022

Tebu: Awet Karena Ampas

Rekomendasi

Limbah padat tebu potensial sebagai penyerap lembap.

Buah anggur di dalam gelas itu tetap ranum dan segar meski tersimpan 21 hari. Padahal, buah anggur di dua gelas lain telah rusak. Intin Nurwati, Wiwik Indriani, dan rekan-rekan menyiapkan 3 gelas tertutup, lalu mengisi gelas pertama hanya dengan buah anggur. Di gelas kedua, ia meletakkan sebuah anggur dan 10 g gel yang banyak beredar di pasaran sebagai penyerap lembap. Adapun di botol ketiga, Nurwati meletakkan sebuah anggur dan     10 g gel limbah tebu.

Selang 21 hari, di gelas pertama muncul benang-benang putih, tanda kehadiran cendawan Botrytis cinerea yang mencerna kandungan gula buah dalam anggur. Kulit buah Vitis vinifera itu menjadi kecokelatan, menandakan terjadinya pembusukan. Benang-benang atau hifa cendawan juga muncul di kulit anggur dalam gelas kedua, yang menggunakan gel dari pasaran. “Anggur mudah rusak karena memiliki kadar air tinggi,” Intin. Sementara anggur di gelas ketiga tidak menampakkan perubahan. Kulitnya tetap merah marun dan bebas dari hifa cendawan.

526_138-139-2
Intin Nurwanti (kiri) dan Wiwik Indriani: Desikan bagas lebih baik ketimbang silika gel komersial

Para peneliti dari Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu tengah menguji kemampuan gel limbah tebu sebagai penyerap lembap. “Meski perlu pembuktian lanjut, pengujian membuktikan kualitas gel asal limbah tebu lebih baik ketimbang bahan desikan komersial,” kata Intin. Untuk membuat gel asal limbah tebu relatif mudah. Untuk membuat gel desikan, Intin memanggang 500 g bagas alias limbah padat tebu dari PT Madubaru, produsen gula di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pemanggangan itu mengubah warna limbah yang semula krem pucat hampir putih menjadi hitam keabu-abuan. Lama pemanggangan 10 menit sampai gosong. Selanjutnya ia mengayak abu itu dengan ayakan 180 mesh untuk memperoleh serbuk berukuran partikel seragam. Berikutnya Intin menambahkan 6 ml larutan soda api (NaOH) 1,5 molar (M) per gram abu lalu mendidihkan selama 10 menit. Setelah dingin, ia menyaring dengan kertas saring.

Proses itu ia ulangi menggunakan asam hidroklorida (HCl) 6 M. Proses dengan soda api dan asam hidroklorida itu mengubah warna cairan abu bagas dari merah bata mirip teh menjadi lembek kental putih seperti agar-agar dan terserpih seperti daging kelapa kopyor. Ia lantas mendiamkan campuran itu sampai bahan padat dan cair terpisah. Intin membuang cairan, mencuci padatan dengan air suling, lalu memasukkan dalam cetakan. Terakhir ia memanggang di suhu 1250C selama 2 jam. Hasilnya bahan desikan berukuran 7—11 mm.

Ukuran itu lebih besar ketimbang gel desikan yang lazim beredar di pasaran, yang hanya berukuran 3—5 mm. Akhirnya Intin menghancurkan secara manual dengan penggerus dan mangkuk mortar. “Butiran kecil menyerap lembap lebih baik lantaran luas permukaan lebih besar,” kata Intin. Setelah mengemas setiap gram bahan itu dalam kertas berpori yang lazim digunakan untuk membungkus teh celup, perempuan kelahiran Madiun, Jawa Timur, 23 tahun lalu itu lantas menguji hasil karyanya untuk mengawetkan buah anggur.

Proses selama 2 hari itu praktis hanya memerlukan pemanas, ayakan, dan kertas saring. Yang termasuk rumit hanya alat titrasi untuk menetralkan keasaman bagas. Titrasi bertujuan menetralkan keasaman bahan desikan atau gel penyerap lembap itu sehingga memiliki pH netral alias berkisar 7. “Dengan pH netral, desikan aman untuk produk makanan,” kata Intin.

Silika

Keruan saja faedah desikan atau penyerap lembap itu bukan hanya untuk pengawet pangan. Intin mengatakan bahwa desikan itu juga dapat digunakan di berbagai lokasi penyimpanan barang seperti lemari pakaian, sepatu, atau kamera. Apa kandungan bagas yang berperan sebagai desikan? Pengujian di Laboratorium Rekaindustri dan Pengendalian Produk Samping Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada menunjukkan kehadiran ikatan unsur silikon dan oksigen.

Artinya, bahan aktif desikan karya Intin dan rekan-rekan tidak lain adalah silika (SiO2), serupa dengan gel silika yang beredar di pasaran. Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar Fisiologi Tanaman di Jakarta, silika berfungsi memperkuat jalinan sel sehingga tanaman mampu tumbuh tegak. “Silika lazim terdapat di batang tanaman famili Poaceae (kerabat rumput-rumputan, red), mulai dari alang-alang, padi, jagung, atau tebu,” kata Yos. Secara alami, bahan silika terdapat di alam dalam bentuk batuan atau butiran pasir.

“Silika menjadikan batuan atau pasir tampak berkilauan,” kata Yos. Untuk membuat desikan, industri melakukan pemurnian untuk menghilangkan pengotor seperti logam sodium atau potasium sehingga kandungan silika mencapai 99,99%. Intin memilih limbah tebu lantaran bahan itu belum termanfaatkan secara optimal.

“Di pabrik-pabrik gula, bagas ditumpuk begitu saja sampai menyerupai bukit kecil,” kata Intin. Menurut Ir Budiarto MMA, kepala Pusat Penelitian Gula PT Perkebunan Nusantara X, Kediri, Jawa Timur, pengolahan tebu menghasilkan 32% bagas. Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, produksi tebu di tanahair pada 2011 mencapai 2,28-juta ton. Artinya produksi itu menghasilkan limbah padat mencapai 729.255 ton.

Budiarto mengatakan bahwa pemanfaatan limbah padat itu biasanya sebatas untuk bahan bakar tungku pengolahan sirop tebu menjadi gula di pabrik. Pemanfaatan lain, paling banter sebagai bahan pembuatan pupuk organik. Pengolahan bagas menjadi desikan tergolong efisien. Dari 10 gram bagas, Intin memperoleh 1,5 g gel alias rendemen pengolahan 15%. Sudah begitu, kinerja desikan asal bagas itu lebih baik ketimbang buatan pabrik.

Pasokannya pun masih mengandalkan impor. Intin mengakui desikan karyanya masih perlu penyempurnaan. Antara lain ukuran butiran yang tidak beraturan lantaran ia menggerus secara manual. Kelemahan lain, ia belum menambahkan bahan pewarna sebagai indikator kejenuhan. “Lazimnya gel desikan komersial menggunakan kobal klorida atau metil jingga sebagai penanda,” kata Intin. Jika kandungan airnya terlalu banyak, warna gel berubah sehingga pengguna mesti memanaskan atau mengganti dengan gel baru.

Toh, pembuatan desikan menjadi salah satu alternatif pemanfaatan bagas yang efektif dan bermanfaat. Limbah pengolahan gula itu tak lagi teronggok, tetapi menjadi pengawet yang efektif. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Kartika Restu Susilo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img