Trubus.id – Pada Agustus 2020, Ina Kencana—yang enggan menyebutkan nama aslinya—dinyatakan positif Covid-19. Tes usap di dua rumah sakit berbeda menunjukkan hasil serupa meski sebelumnya ia hanya mengalami flu dan demam ringan yang cepat reda.
“Saya tidak menyangka menderita penyakit korona,” kata warga Mampangprapatan, Jakarta Selatan, itu. Musababnya, hasil laboratorium baik dan tes rapid pun menunjukkan hasil negatif.
Namun, hasil foto toraks menunjukkan ada sedikit pneumonia di paru-paru. Ina juga kehilangan indera penciuman serta merasakan badan linu selama beberapa hari.
Setelah ditolak dua rumah sakit swasta, ia akhirnya memilih isolasi mandiri di rumah. “Sebisa mungkin pola pikir saya positif. Tidak mau sakit dan mau sembuh,” katanya.
Untuk membantu proses penyembuhan, Ina mulai mengonsumsi herbal dan suplemen alami. Ia mengikuti anjuran dr. Prapti Utami, M.Si., yang merekomendasikan kapsul sambilata.
Ina rutin mengonsumsi dua kapsul Andrographis paniculata satu jam sebelum makan. Ia juga merebus kencur, jahe, temulawak, dan serai hingga mendidih.
Kemudian Ina memasukkan air perasan lemon dan madu ke dalam ramuan yang masih hangat dan meminumnya. Frekuensi minum 3 kali sehari.
Setiap hari Ina menggunakan bahan segar untuk menjaga kualitas ramuan. Selang 30 menit setelah makan, Ina melahap beragam suplemen berbahan alam. Ia juga memperbanyak makan buah dan sayuran.
Di samping konsumsi herbal, Ina tetap mengikuti pengobatan dari dokter berupa obat antivirus dan aneka vitamin. Ia juga rutin berjemur sambil melakukan senam ringan.
Dua pekan setelah menjalani pengobatan mandiri, hasil tes usap menunjukkan dirinya telah negatif. Perjuangan Ina menjaga gaya hidup sehat pun membuahkan hasil positif.
Karena seduhan sambilata terasa pahit, Ina menambahkan madu agar lebih nyaman diminum.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.S. mengungkap bahwa merujuk pada riset ilmiah dalam dan luar negeri yang mendukung efektivitas sambilata. Ekstrak dan senyawanya terbukti prospektif untuk dikembangkan sebagai antivirus SARS-CoV-2.
Penelitian Prof. Dr. apt. Sukardiman, M.S., dan tim di Universitas Airlangga menunjukkan potensi senyawa sambilata dalam menghambat virus. Metode yang digunakan adalah molecular docking dan toksisitas in silico.
Hasil uji terhadap 45 senyawa sambilata menunjukkan ada tiga senyawa paling aktif. Ketiga senyawa itu memiliki ikatan paling rendah dengan target molekul 3CL Protease.
Ketiganya termasuk golongan flavonoid dan diterpenlakton yang bersifat antivirus. Senyawa tersebut adalah 5,4’-dihydroxy‑7‑O‑β‑D‑pyran‑glycuronate butyl ester, 3‑O‑β‑D‑glucopyranosyl‑andrographolide, dan 7,8-dimethoxy-2’-hydroxy-5-O-β-D-glucopyranosyloxyflavon.
“Yang menggembirakan hasil uji toksisitas ketiga senyawa aktif itu termasuk relatif aman atau tidak toksis,” kata Sukardiman. Ia menjelaskan bahwa ketiganya menunjukkan kekuatan mendekati Indinavir dan Remdesivir.
Ia menambahkan, perlu uji aktivitas antivirus secara in vitro atau in vivo untuk validasi lebih lanjut. Selain itu, diperlukan pengembangan sambilata menjadi OHT atau fitofarmaka.
Kajian in silico menunjukkan senyawa aktif berbentuk glikosida. Riset dari Mahidol University, Thailand, juga mendukung penggunaan andrografolid sambilata sebagai antivirus.
Dosen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Dr. dr. Nyoman Suci Widyastiti, M.Kes., Sp.PK., meyakini betul sambilata bersifat antivirus.
Suci merasakan dan membuktikan langsung khasiat tanaman anggota famili Acanthaceae itu sejak 2011. Saat itu ia terdiagnosis hiperplasia endometrium.
Banyak terapi alternatif untuk mengatasi gangguan kesehatan itu, tapi Suci memilih terapi natural. Ia pun menghubungi Prapti untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.
Kebetulan Suci dan Prapti berkawan sejak lama. Prapti memberikan 3 kapsul herbal yaitu kunir putih, pegagan, dan sambilata.
“Saya kerap lupa meminum herbal itu,” kata Suci.
Pada 10 tahun lalu mewabah virus yang gejalanya kulit memerah, gatal, dan jari membengkak. Kejadian itu berbarengan dengan haid yang sangat banyak, ia pun meminum 3 kapsul herbal dari Prapti.
Tiga puluh menit berselang, tubuh Suci gatal luar biasa terutama di kulit yang memerah. Setelah itu diameter lesi pada kulit berkurang dan tubuh terasa nyaman.
“Saya penasaran dari 3 kapsul herbal itu yang mempunyai efek terhadap lesi. Jawabannya sambilata,” ujar Suci. Ia lalu meminum kapsul sambilata setiap 5—6 jam, seperti pola konsumsi obat antivirus.
Lesi kulit pun cepat menghilang, termasuk pada asisten rumah tangganya yang juga terinfeksi virus. Sejak itu, sambilata selalu tersedia di rumah Suci sebagai andalan herbal.
Suci kemudian menyarankan konsumsi sambilata bagi teman dan kolega yang positif Covid-19. Ia sendiri tetap negatif meski sering berinteraksi di ruang tertutup dengan sebelas dokter residen yang terinfeksi.
“Saya terkejut dengan hasil itu,” kata Suci setelah tes usap evaluasi menunjukkan hasil negatif pada semua dokter. Mereka mengikuti sarannya mengonsumsi dua kapsul sambilata setiap 5—6 jam.
Bahkan tim analis laboratorium yang melakukan PCR rutin juga menunjukkan hasil negatif. Hanya dua orang yang tidak mengonsumsi sambilata menunjukkan hasil positif.
Untuk menjaga imunitas, Suci menyarankan konsumsi dua kapsul sambilata setelah bekerja. “Saya menggunakan sambilata dan meniran untuk imunostimulan sejak 2000. Keduanya juga memang berefek antivirus,” kata dr. Prapti.
Selain kapsul, masyarakat bisa membuat rebusan sambilata sendiri. Rebus 10 gram sambilata dan 10 gram meniran hingga mendidih.
Selanjutnya geprek temulawak seukuran 2 jari, 2 keping temulawak, dan kunyit seukuran 2—3 jari ke dalam rebusan. Boleh ditambahkan serai. Setelah mendidih, kecilkan api dan tunggu 20 menit.
Setelah itu ramuan siap disajikan. Minum 1 gelas ramuan itu 3 kali sebelum makan. Usahakan bahan baku yang dipakai selalu baru setiap hari agar khasiatnya maksimal.
Konsumsi ramuan itu selama 2 pekan secara rutin bagi penderita korona. Setelah itu lakukan tes usap.
Jika hasil negatif, konsumsi bisa dilanjutkan dua hari sekali untuk pencegahan. Frekuensi minum 2 hari sekali.
“Jangan lupa vitamin, mineral, dan suplemen. Sambilata menjadi bagian terapi. Pengobagan tapi herbal,” kata ibu tiga anak itu.
Meskipun berkhasiat antivirus, sambilata tidak disarankan bagi ibu hamil dan menyusui. Pengguna dengan tekanan darah rendah juga perlu berhati-hati karena efek hipotensinya.
Dr. Aty menjelaskan bahwa kandungan andrografolid tergantung bagian tanaman dan lokasi tumbuh. “Oleh karena itu, harus ada standardisasi agar produk obat herbal tradisional bisa terjamin kualitas dan keamanannya,” ujarnya.
Suci menyarankan agar masyarakat memilih produk kapsul sambilata yang sudah terdaftar di BPOM. Produk resmi menjamin keamanan dan kualitas bahan aktif.
Dr. Prapti menambahkan bahwa kualitas sambilata dipengaruhi oleh proses tanam hingga pascapanen. Ia hanya menggunakan daun green chireta—sebutan sambilata di Inggris—kering tapi tetap berwarna hijau.karena memiliki kandungan andrografolid tertinggi.
Meski batang juga mengandung senyawa aktif, daun tetap menjadi bagian paling berkhasiat. Ia juga menganjurkan masyarakat menanam sambilata karena mudah tumbuh.
Caranya cuci bersih daun sambilata, iris seperti teh, lalu seduh dengan 200 cc air mendidih. Konsumsi sekali sehari tergantung dari tekanan darah. Minum ramuan saat sore jika tekanan darah rendah. Dengan begitu kita bisa tidur jika kepala terasa melayang.
Seduhan sambilata bisa dicampur madu atau stevia untuk mengurangi pahit. Jadi kapsul atau seduhan tergantung dari kemudahan masyarakat menjangkaunya.
Dengan berbagai pilihan, sambilata dapat digunakan baik dalam bentuk kapsul maupun seduhan. Semua tergantung kebutuhan, kenyamanan, dan akses masyarakat terhadap bahan herbal tersebut.
