Trubus.id – Fyantina Eka Priliawati terus berinovasi melalui olahan lele. Selain abon, ia juga menghadirkan beragam produk turunan berbahan dasar lele melalui merek Fish King.
Inovasi tersebut meliputi biskuit, kukis, keripik, kerupuk tulang, tepung, hingga filet lele. Seluruh produk ini tidak hanya bernilai ekonomi, tapi juga bernilai gizi tinggi.
Fyan memproduksi sekitar 1.000 hingga 1.500 pak biskuit dan kukis lele setiap bulan. Satu pak berbobot 80–100 gram, dijual seharga Rp25.000–Rp28.000.
Produk tersebut ditujukan untuk anak-anak agar kebutuhan gizinya terpenuhi, sekaligus memperkenalkan ikan sebagai bahan pangan alternatif yang bergizi dan mudah dikonsumsi.
Selain produk reguler, ia juga memproduksi biskuit MPASI secara maklun untuk memenuhi kebutuhan bayi dan balita. Inovasi Fyan tidak berhenti di pasar domestik. Ia mulai menjajaki pasar luar negeri dan telah mengirim sampel biskuit ke Timor Leste.
Ia menuturkan konsumen di sana bahkan meminta produk khusus yang dicampur dengan daun kelor serta pelatihan pembuatan biskuit. Respons positif tersebut menunjukkan potensi besar olahan lele Indonesia di pasar internasional.
Tak hanya camilan, Fyan juga memproduksi tepung lele yang kaya protein. Produk ini dikembangkan bekerja sama dengan pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. drh. Clara Meliyanti Kusharto, M.Sc. Tepung ini bisa digunakan sebagai bahan tambahan dalam berbagai makanan seperti biskuit, bubur, hingga makanan bayi.
Mulai Maret 2025, Fyan menambahkan filet lele sebagai lini produk baru Fish King. Produksi dilakukan satu kali dalam sepekan, mengolah sekitar 100 kg lele dan menghasilkan 50 kg filet.
Filet ini dikemas dalam ukuran 250 gram dan dipasarkan ke perusahaan maklun yang memintanya sebagai bahan baku. Lele untuk bahan filet diperoleh dari pembudidaya mitra dan binaan dinas perikanan setempat.
Fyan lebih mengutamakan sistem penjualan business-to-business (B2B) karena lebih terjamin kontinuitas dan skalanya. Saat ini, sekitar 80% konsumennya berasal dari luar Kabupaten Pacitan. Sementara 10% berasal dari dalam kota dan sisanya adalah toko oleh-oleh. Strategi ini membantu Fish King memperluas jangkauan pasarnya secara stabil.
Perjalanan Fyan membangun usaha ini tidak mudah. Awal mula bisnis ia jalankan dengan peralatan terbatas, semua proses masih dikerjakan secara manual.
Selain itu, ia juga harus melawan stigma negatif bahwa lele dianggap jorok dan tidak layak konsumsi. Melalui edukasi, ia memperkenalkan bahwa lele yang digunakan adalah lele sehat yang dipelihara dengan pakan pelet, bukan limbah. Hasilnya, banyak konsumen kini menyukai produk-produk Fish King karena rasanya yang tidak amis dan bergizi tinggi.
Fyan bermimpi agar produk-produk olahan lelenya bisa menjangkau lebih banyak konsumen, terutama anak-anak. Ia ingin berkontribusi dalam pemenuhan gizi masyarakat sekaligus mengangkat potensi lokal.
Ia pun optimistis masa depan bisnis produk olahan ikan cerah, terlebih dengan perhatian besar pemerintah terhadap pengembangan blue economy di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
