Unik Briket dari Tanaman Eceng Gondok

0
briket eceng gondok
IIlustrasi briket. (Dok. Trubus)

Trubus.id— Eceng gondok Eichhornia crassipes yang mati mengendap di dasar danau dan mempercepat pendangkalan, selain mengganggu transportasi air. Tanaman itu menghambat fotosintesis fitoplankton yang memproduksi oksigen.

Sejatinya eceng gondok dapat dimanfaatkan menjadi briket. Berdasarkan percobaan Djeni Hendra, peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor, Jawa Barat briket eceng gondok mencapai 3.061 kalori per gram.

Itu hanya sedikit di bawah kayu bakar, yang rata-rata 4.000 kal per g. Adapun nilai keteguhan tekan briket eceng gondok itu 6,60 kg per m, kadar karbon terikat 38,30%, kadar air 6,40%, dan kadar abu sebesar 13,40%.

Menurut Dr Ir Supriyanto, pakar energi terbarukan di Departemen Silvikultur, Institut Pertanian Bogor, sejatinya nilai kalori briket eceng gondok murni kurang dari standar. “Standarnya nilai kalori batubara muda yang mencapai 4.000 kalori per g,” ujarnya.

Agar nilai kalori briket tanaman berbunga majemuk itu bisa mencapai standar, perlu penambahan bahan lain yang mengandung lignin, seperti serbuk gergaji atau kayu lamtoro Leucaena leucocephala. “Semakin tinggi ligninnya, maka nilai kalori juga semakin tinggi,” ujar Supriyanto

Semua material organik termasuk rumput sekalipun berpotensi sebagi briket. Kadar selulosa eceng gondok terbilang tinggi, hingga 64,5%. Sementara kadar selulosa serbuk gergaji yang kerap dijadikan bahan briket 45—48%.

Sementara itu A Rasyidi Fachry mengombinasikan 55% tanaman yang ditemukan ahli botani berkebangsaan Jerman, Carl Friedrich Philipp von Martius itu dengan 45% batubara. Hasilnya nilai kalori terkatrol menjadi 5.666 kalori per g, dengan kadar air 5,3%, kadar karbon padat 50,6%, kadar abu 18,2%, dan kadar zat terbang 27,1%.

Faedah pengolahan eceng gondok menjadi briket, mengurangi keperluan akan tempat penimbunan sampah. Sebab penyediaan tempat penimbunan akan menjadi lebih sulit dan mahal, khususnya di daerah perkotaan. Dengan demikian eceng gondok pun tak bikin gondok alias mendongko.