Thursday, December 8, 2022

Usir Gangguan Pencernaan

Rekomendasi

Beras hitam mampu mengatasi sakit perut Beras hitam kaya serat, beras merah kaya selenium berpadu mengatasi gangguan pencernaan kronis.

Suwandi Katijo acap merasa nyeri perut. Warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu mengira sakit perut biasa. Namun sakit itu kronis, berlanjut hingga bertahun-tahun. Pada 2009, perut Suwandi terasa semakin nyeri justru seusai menyantap sayuran. “Saya sangat menderita karena sering sakit, sehingga mengganggu pekerjaan,” katanya. Untuk mengatasinya ia mencoba pengobatan akupuntur dan fisioterapi pada 2012.

Sayang, tidak ada perubahan berarti. “Saya sampai mencoba terapi lintah,” kata pria 53 tahun itu. Penasaran akan gangguan kesehatan itu, Suwandi mendatangi dokter umum pada Januari 2013. Hasil diagnosis dokter, gangguan itu hanya sebagai dampak dari banyak pikiran sehingga mempengaruhi kinerja organ dalam. Dokter menyarankannya untuk mendatangi psikiter. Pada saat bersamaan otot punggung Suwandi sering terasa tegang dan kaku.

 

Suwandi Katijo (kiri) terbebas dari sakit perut menahunBeras hitam

Suwandi patuh pada anjuran dokter untuk menemui psikiater pada April 2013. “Psikiater hanya memberi obat tidur supaya rileks. Namun, tiada perubahan yang dirasakan setelah dua kali berobat pada bulan yang sama,” ujar pria yang mengajar les privat dan berwirausaha itu. Menurut Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR dari Rumahsakit dr Sardjito, Yogyakarta, derita Suwandi karena terganggunya produksi enzim pencernaan sehingga penyerapan makanan tidak maksimal.

“Dampaknya tubuh tidak bertenaga, otot lemas, dan lembek. Kondisi itu dapat dicegah dengan mengunyah makanan sampai lembut sekitar 32 kali kunyahan,” ujar kepala Subbagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu. Menurut herbalis di Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur, Wahyu Suprapto, “Gangguan pencernaan bisa juga disebabkan gangguan mikroorganisme di organ pencernaan atau keracunan makanan.”

Pria kelahiran 1960 itu mencoba konsumsi beras hitam pada Mei 2013. Suwandi menemui Pudji Rahadjo yang kondisi jantungnya terus membaik setelah rutin mengonsumsi beras hitam. Pudji sekaligus petani beras hitam menyarankan Suwandi mengonsumsi beras hitam dan beras merah yang telah diolah menjadi serbuk. Pudji mengolah keduanya menjadi serbuk, mirip kopi.  Suwandi mengonsumsi dengan cara menyeduh masing-masing satu sendok teh beras hitam dan beras merah dalam satu gelas air hangat.

Beberapa saat kemudian, setelah air seduhan berwarna kecokelatan ia meminumnya sebelum makan. Ia memanfaatkan 1 kali seduhan itu. Artinya setiap kali menyeduh, ia menggunakan serbuk beras baru. Frekuensi konsumsi 2 kali sehari. Suwandi mengungkapkan dua hari mengonsumsi beras hitam dan merah badannya terasa pegal. Pada hari ketiga pascakonsumsi, Suwandi merasakan pegal-pegalnya hilang dan segar. Selain itu usai mengonsumsi seduhan beras hitam, “Sakit perut mulai berkurang,” katanya.

Dua pekan setelah konsumsi, Suwandi menambahkan satu sendok teh bekatul pada seduhan beras hitam dan merah. Menurut Pudji, bekatul bermanfaat untuk menambah nutrisi dalam tubuh. “Saya menyarankan kepada tamu untuk mengonsumsi bekatul saat penyakitnya telah parah,” katanya. Menurut Suwandi, salah satu perbaikan yang tampak adalah pandangan mata yang semula kabur, kini tidak lagi.

 

Sereal beras hitam, merah dan bekatul sehari dua kaliRiset

Menurut riset Titin Suhartini, Didi Suardi, dan Iman Ridwan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian di Bogor, Jawa Barat, beras hitam kaya nutrisi. Beberapa nutrisi dalam beras hitam antara lain asam amino, kalium, magnesium, kalsium, zat besi, serta pigmen antosianin. Beras hitam juga mengandung flavonoid lima kali lebih besar dibandingkan beras biasa.

Warna ungu kehitaman beras hitam juga mengindikasikan sebagai sumber antosianin, zat turunan polifenol yang berkemampuan antioksidan. Antioksidan dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker, memperbaiki kerusakan sel hati (hepatitis dan sirosis), serta memperlambat penuaan, mencegah gangguan fungsi ginjal, membersihkan kolesterol dalam darah, dan mencegah anemia. Beras merah baik untuk sembelit, diet, mencegah penyakit saluran pencernaan, menurunkan kolesterol darah, dan menyehatkan jantung.

Riset Siti Dewi Indrasari peneliti dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Subang, mengungkapkan bahwa beras merah merupakan sumber protein dan mineral seperti selenium yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh, serta sumber vitamin B yang dapat menyehatkan sel-sel syaraf dan sistem pencernaan. Beras merah juga memiliki kandungan serat tinggi sehingga dapat mencegah konstipasi. Serat beras merah relatif mudah diserap usus dibanding gandum.

Menurut Prof Dr Mien Karmini MS, peneliti utama Bidang Gizi dan Pangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Kementerian Kesehatan Bogor, kadar serat pada beras hitam 60 kali lebih banyak dibandingkan beras merah dengan kandungan kalium beras hitam yang membantu memperbaiki metabolisma tubuh. “Kandungan unsur seng (Zn) di beras hitam bisa sebagai katalisator, sehingga dapat memperbaiki fungsi dan struktur enzim di dalam tubuh,” ujar Mien. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

Previous articleTambal Ginjal Bocor
Next articleMusuh Bakteri Tifus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img