Trubus.id — Objek wisata Gunong Lumut di Desa Limbongan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, terus dikembangkan. Penanggung jawab obyek wisata Gunong Lumut adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunong Lumut.
Japardi, Ketua Pokdarwis Gunong Lumut, mengatakan, pengembangan Gunong Lumut menjadi destinasi wisata sudah berlangsung sejak 2016. Gunong Lumut berjarak sekitar 76 kilometer dari Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Perlu waktu sekitar 82 menit bekendara dengan mobil menuju ke sana.
Japardi menjelaskan, dari jalan aspal menuju pintu masuk Gunong Lumut berjarak 2 kilometer. Selanjutnya, dari tempat parkir mobil menuju puncak Gunong Lumut terdapat trek sepanjang 733 meter. Waktu tempuh bergantung pada pengunjung sendiri, bisa satu jam atau kurang dari itu.
Terdapat lima pemandu yang bertugas menemani pengunjung hingga ke puncak. Satu pemandu memimpin lima pengunjung. Tiket masuk dan biaya pemandu berdasarkan kesepakatan bersama dengan pengunjung. Belum ada biaya pasti karena sebetulnya Gunong Lumut belum dibuka secara resmi.
Pokdarwis Gunong Lumut masih mempersiapkan sarana dan prasarana pengunjung. Meski begitu, mereka tetap melayani wisatawan yang datang ke lokasi. Lazimnya, mereka menghubungi Japardi sebelum berkunjung.
Menurut Japardi, masyarakat luas mengenal Gunong Lumut setelah 2016. Sebelumnya, ketenaran tempat wisata berketinggian tempat 175 meter di atas permukaan laut itu hanya di Desa Limbongan dan sekitarnya.
“Masyarakat setempat mengetahui Gunong Lumut sejak 1970. Sebelumnya hanya tempat liar,” kata Japardi.
Saat itu masyarakat Desa Limbongan kerap bersantai di Gunong Lumut saat sore. Mereka tidak mengganggu lumut karena tidak ada pemanfaatan tumbuhan kecil itu oleh masyarakat setempat.
Dr. Yulian Fakhrurrozi, M.Si., tenaga ahli bidang biologi di Belitong UNESCO Global Geopark, menyarankan, Gunong Lumut sebagai tempat wisata terbatas.
“Ada bagian yang bisa dibuka untuk umum dan ada yang dilindungi,” kata Yulian.
Ia berharap Gunong Lumut tidak dibuat destinasi seperti sistem pariwisata massal. Namun, lebih mengarah pada wisata berkelanjutan yang berkualitas. Mirip seperti wisata bunga sakura di Jepang.
Orang rela antre dan bersedia membayar demi melihat bunga sakura bermekaran. Yulian juga menganjurkan agar kunjungan saat kemarau dibatasi lantaran lumut rentan rusak sehingga sangat perlu dijaga.
