Indonesia berpotensi menjadi lumbung produk kelapa dunia.

Kisah lama itu membekas di ingatan Wisnu Gardjito. Wisnu begitu sedih mendengar kabar nyawa Joko Susilo—nama samaran—di ambang kematian. Sepulang di tanahair tubuh kawan sekaligus rekan kerja Wisnu itu ambruk lantaran demam tinggi. Joko usai bepergian dari Pakistan dan singgah di Singapura. Dokter mendiagnosis Joko terserang virus flu burung dan harus menghuni ruang isolasi.
Wisnu menjenguk Joko yang sedang bertarung nasib. Ia menyarankan Joko untuk menjalani terapi dengan produk turunan kelapa. Pria ramah itu memberikan formula khusus antiflu dan minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO). “Formula antiflu disemprotkan lewat hidung, sedangkan ekstra VCO dikonsumsi lewat oral,” ujarnya. Tiga hari usai menjalani terapi kondisi Joko membaik. Itu bagai keajaiban sebab dokter sudah angkat tangan. Joko lolos dari maut.
Menjanjikan
Pegiat kelapa di Kotamadya Depok, Jawa Barat, itu menuturkan minyak kelapa Cocos nucifera mengandung asam laurat tinggi. Kadarnya mencapai 45—51%. Zat utamanya adalah monolaurin yang ampuh melawan virus, bakteri, dan protozoa. “Sejak zaman nenek moyang minyak kelapa sudah dikenal bermanfaat buat kesehatan,” ujar Wisnu. Kelapa juga sohor sebagai pohon kehidupan. Julukan itu sah saja lantaran seluruh bagian pohon kelapa memang berguna. Mulai dari daging buah, air, sabut, tempurung, daun, pelepah, hingga akar.

Itu sebabnya, Wisnu begitu antusias mengembangkan produk berbasis kelapa. Ekstra VCO yang dikonsumsi Joko contoh dari produk kelapa besutan Wisnu. Masih banyak produk lain yang lahir dari tangan dingin doktor Institut Pertanian Bogor itu. Ia menggagas 1.600 formula produk turunan kelapa yang terbagi menjadi beberapa kelompok seperti pangan, herbal, kecantikan, energi, dan bahan bakar.
Dari ribuan produk itu 250 jenis sudah dipasarkan, sisanya menunggu proses hak cipta. Contoh produk kelompok pangan antara lain minyak goreng kelapa putih, sirop, kecap, dan selai. Sementara kelompok herbal seperti VCO, obat luka, dan antinyamuk. Adapun produk kecantikan di antaranya sabun, lotion, lulur, dan pelembap wajah. Pemasaran produk sudah mencapai mancanegara seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Wisnu menuturkan potensi kelapa begitu mengagumkan. “Apalagi produk turunan kelapa seperti santan belum ada subtitusinya,” ujarnya. Sayangnya, sedikit sekali pelaku agribisnis yang melirik kelapa sebagai bisnis yang menjanjikan. Padahal, harga kelapa meningkat setiap tahun. Salah satu pemicunya adalah kesadaran masyarakat terhadap manfaat kelapa bagi kesehatan kian tinggi. Sebab itu produk turunan kelapa sangat digandrungi. Di sisi lain pertumbuhan populasi pohon kelapa tidak sebanding dengan pesatnya populasi penduduk dunia.

Menurut Wisnu kelapa bisa memberikan pendapatan berlimpah jika piawai mengolah. Omzet penjualan daging kelapa saja mencapai ratusan juta per hektare setiap tahun. Sayangnya, banyak pohon kelapa yang terbengkalai. Padahal Indonesia memiliki populasi kelapa hingga 3,8 juta tanaman. Dari jumlah itu 95% milik rakyat. Jika dikelola dengan benar maka nilainya setara Rp4.000 triliun setiap tahun.

“Mirisnya yang terjadi justru pekebun mengirim kelapa mentah lalu diolah di luar negeri dan produknya dilempar di Indonesia dengan harga yang lebih mahal,” kata pria 56 tahun itu. Itulah celah yang Wisnu garap. Ia mulai serius bergelut di industri olahan kelapa sejak 2007. Ia bahkan rela melepas jabatan penting di Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO).

Berkembang
Cikalbakal karier Wisnu hanya garasi mungil di rumahnya. Ia yang semula tampil rapi pun harus berganti dengan pakaian santai. Dengan modal Rp25.000, ia bersama istri keluar masuk pasar menampung air kelapa. Ia mengolah air kaya nutrisi itu menjadi sirop. Harga jual pun terdongkrak. Wisnu menggunakan keuntungan berjualan sirop kelapa untuk membuat produk lain seperti VCO, kecap, dan sabun.

Ia mempromosikan produknya dari mulut ke mulut. Hasilnya ia meraup pendapatan Rp100-juta dalam waktu 3 bulan. Itu sudah dua kali lipat gaji Wisnu saat bekerja di UNIDO. Berbekal ilmu pemasaran dan manajemen yang diperoleh saat menempuh pendidikan pascasarjana di Colorado University dan International University of Japan, Wisnu sukses mengembangkan bisnis barunya itu di bawah bendera UD Sumber Rejeki—kini CV Sumber Rejeki.

Ia lantas membentuk titik-titik produksi alias klaster yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap gugus memiliki bidang usaha yang berbeda sesuai dengan ketersediaan bahan baku, sumber daya alam, dan pasar. Seluruh gugus terhimpun dalam Agroindustrial Export Cluster (AEC). “Siapa saja boleh menjadi anggota asal mempunyai niat serius untuk memajukan kelapa,” kata Wisnu. Kini ada sekitar 20 perusahaan yang berada dikelola Wisnu. Semuanya menginduk pada satu wadah usaha bersama dalam komunitas bernama The Green Coco Island.

Wisnu gencar menularkan keistimewan kelapa kepada masyarakat. Ia mejadi pembicara seminar dan menghadiri sejumlah diskusi. “Saya ingin sekali membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat bisnis kelapa,” ujar ayah dua anak itu Salah satu unit usaha yang dirintis bahkan mengekspor kelapa hingga 80 kontainer setiap pekan. Wisnu terus berinovasi dengan mengembangkan produk sesuai selera pasar. Misalnya dengan menambahkan aroma terapi dan herbal pada produk sabun.

Pria penuh semangat itu ingin produk kelapa Indonesia mendunia. Karena itu ia gencar memperkenalkan olahan kelapa ke ruang-ruang diskusi internasional maupun pameran. Wisnu mendambakan Indonesia sebagai negara agro industri yang kuat. Mimpi itu dimulai dengan kelapa sebagai gerbong utamanya. (Andari Titisari)
