Wednesday, August 10, 2022

Yang Tersisa dari Pertarungan Para Raja

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Andalan kabupaten berlogo bejana besi itu pada 2003 dikirim untuk berlaga di Lomba Buah Unggul Nasional (LBUN) 2003 yang diselenggarakan Trubus. Sayang, di ajang itu ia harus mengakui keunggulan durian kumbokarno yang dikalahkannya saat kontes di Kendal.

“Bentuk dan warna kulit suryaliman menarik,” ujar Prof Dr Sri Setyati Harjadi, guru besar emeritus Institut Pertanian Bogor yang menjadi juri lomba. Bentuk lonjong, berwarna hijau, dan mulus. Aroma harum khas durian tercium. Sayang, buah yang dikirim kurang maksimal. Daging yang kuning menarik dan manis agak “dingin” dan sebagian benyek. Ponggeponggenya berbiji besar. Sebaliknya kumbokarno, manis legit bercampur pahit dan biji lebih kecil.

Matang pohon

Suryaliman tumbuh menjulang di kebun milik Suryat di Kampung Gajahan, Desa Kebon Gembong, Kecamatan Pagaruyung, Kabupaten Kendal. Awalnya ia dikenal sebagai durian suryat, sesuai dengan nama pemilik.

Nama suryaliman disematkan oleh Margono, kepala Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Pagaruyung saat Durio zibethinus itu menang di lomba buah unggul lokal di Curugsewu, Kendal, setahun silam. Suryaliman kependekan suryat dan liman (bahasa Jawa, liman berarti gajah, red). Selain sosoknya besar, bobot 4—4,5 kg, nama itu juga merujuk pada kampung Gajahan asal buah itu.

Tidak ada yang mengetahui asalusul pohon berumur ratusan tahun itu. Ngatijan, petugas penyuluh lapangan di sana menduga pohon itu peninggalan zaman Belanda. Meski tua, sosoknya sehat dan kekar lantaran Suryat merawatnya dengan baik. Jumlah buah per cabang diatur sehingga ukuran buah besar-besar. Bila terlalu lebat segera diseleksi agar cabang tidak patah. Hingga kini belum ada tanda-tanda penyakit menyerangnya. “Paling lalat buah yang acap mengganggu,” kata Suryat.

Produktivitas suryaliman sulit diprediksi lantaran sangat dipengaruhi iklim. Pada 2002 dipanen 200 buah, tapi produksi tahun silam lebih sedikit. Musim panen biasanya berlangsung pada Desember—Januari. Saat itulah sang raja buah menjadi rebutan konsumen di seputar Kendal dan Temanggung.

Soal rasa, pembeli dijamin puas karena buah matang pohon. Rasanya manis legit dan tanpa serat. Wajar jika para mania durian ketagihan. Merogoh kocek Rp10.000—Rp15.000 per buah berukuran kecil pun tak masalah.

Saat Trubus berkunjung pada penghujung Juli 2004 belum ada tandatanda dompolan bunga muncul di cabang. “Tahun ini musim durian bakal mundur. Namun, dengan kondisi seperti ini diperkirakan panen lebih banyak,” kata ayah 2 anak itu.

Sikirik=sigaluh

Lokal unggulan yang setara dengan suryaliman Trubus temukan di Banjarnegara, Jawa Tengah. Di sana ada simemang, juara kedua LBUN 2003. Primadona lain ialah sikirik. Durian milik Rukan, pekebun di Desa Singomerto, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara, itu berdaging kuning dan tebal. Rasanya manis sedikit pahit. Sayangnya, biji agak besar dan tekstur agak berserat. Kualitas buah sikirik kadang tidak seragam. Daging buah di cabang bawah tebal dan rasa enak; cabang atas, tipis.

Pohon berumur ratusan tahun itu tumbuh menjulang di pinggir Sungai Serayu. Penduduk setempat menyebutnya sikirik lantaran dulu banyak anjing bermain-main di sekitar pohon (bahasa Jawa, kirik=anjing, red). Namun, kini Dinas Pertanian Banjarnegara sedang mengusulkannya sebagai unggulan lokal dengan nama sigaluh—sesuai nama tempat tumbuh pohon itu.

Menurut Widarko, penebas durian, produksi sigaluh per musim 200—300 buah. Pada akhir Juli dompolan bunga memenuhi cabang-cabangnya. Diperkirakan awal Desember bakal panen raya.

Saat musim panen, para penggemar harus memesan 2 minggu sebelum buah turun. Hasil panen ludes dalam waktu 1,5 bulan untuk konsumen di sekitar Banjarnegara saja. Melihat itu para pekebun di luar Sigaluh mulai tertarik menanam durian nominasi juara LBUN 2003 itu. Misal di Desa Gembongan ada 20 batang, Kemiri (70 batang), dan Sawal (30 batang). Umur tanaman antara 3—6 tahun dan beberapa tengah berbuah. Kualitas buah sama dengan induk.

Awet

Yang juga istimewa tapi gagal meraih gelar di LBUN 2003 ialah si blimbing asal Purworejo, si bujal dari Pandeglang, dan terak asal Kepulauan Bangka Belitung. Bentuk siblimbing mirip durian channee dari Thailand, tapi berukuran lebih panjang. Daging buah yang kuning tak berserat, manis legit, dan tebal.

Si bujal berpenampilan menarik dengan duri lentik, rapat, berwarna hijau mulus, dan mudah dikupas. Citarasanya manis agak pahit. Sementara durian terak beraroma lembut. Rasa legitnya durian terak “awet” di mulut. Daging buah cukup tebal dan kering. Ia pun tahan simpan hingga 10 hari. (Nyuwan SB)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img