Trubus.id— Aceh Selatan benar-benar menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Tentu saja pengetahuan mengenai etnobotani dan konservasi buah-buahan asli Aceh Selatan itu amatlah penting.
Dosen di Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Samudra, Dr. Adi Bejo Suwardi, S.Si, M.Si., mendokumentasikan pengetahuan masyarakat lokal tentang keragaman itu.
Dokumentasi meliputi keanekaragaman, pemanfaatan, dan pengelolaan berkelanjutan spesies penghasil buah asli di wilayah itu. Tim meneliti menyurvei, mengumpulkan tanaman, dan mewawancarai masyarakat lokal. Topografi Kabupaten Aceh Selatan sangat bervariasi, mulai dari dataran rendah hingga perbukitan dengan kemiringan yang sangat curam.
Tim mengeksplorasi buah asli Aceh Selatan di enam desa. Tiga desa di Kecamatan Kluet Selatan yaitu Desa Pasi Lembang, Ujung Pandang, dan Rantau Binuang. Tiga desa lagi di Kecamatan Kluet Tengah yaitu Desa Koto, Lawe Melang, dan Malaka Kluet.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa flora di enam desa itu kaya spesies yang bermanfaat. Total keseluruhan ada 56 spesies asli jenis buah-buahan, diklasifikasikan dalam 34 genera dan 24 famili. Spesies yang dikenal luas masyarakat antara lain langsat (Lansium parasiticum), rambai (Baccaurea motleyana), durian (Durio zibethinus), rambutan (Nephelium lappaceum), dan sirsak (Annona muricata).
Ada pula spesies yang hanya dikenal oleh kurang dari 20% responden seperti berangan bukit (Castanopsis costata), tampoi (Baccaurea pyriformis), durian burung (Durio acutifolius), pala hutan (Myristica elliptica), beri hutan (Rubus buergeri), kuranji hutan (Dialium platysepalum), dan jentik (Baccaurea polyneura).
Memang banyak spesies tanaman buah asli yang dapat dimakan dan digemari masyarakat lokal seperti mangga, manggis, jambu biji, sirsak, dan jambu air. Namun banyak pula spesies liar yang kurang disukai masyarakat karena masam, pedas, dan berukuran relatif kecil seperti kepong (Baccaurea lanceolata), bacang (Mangifera foetida), dan durian daun (Durio oxleyanus).
Dari 56 spesies itu, ada 56 buah-buahan yang dimanfaatkan masyarakat untuk dikonsumsi, sebagai obat 16 spesies, bahan konstruksi 14 spesies, furnitur 13 spesies, dan kayu bakar 12 spesies. Selain dikonsumsi tanaman buah itu paling banyak digunakan sebagai kayu bakar, diikuti obat-obatan, bahan konstruksi, dan furnitur. Paling sedikit digunakan sebagai pakan ternak.
Fakta itu memberikan gambaran bahwa tanaman buah-buahan itu berperan penting dalam kelangsungan hidup masyarakat di Aceh Selatan. Pohon buah-buahan asli itu juga bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat setempat.
Beragam manfaat itu tentu saja berdampak pada ketersediaan tanaman buah-buahan di habitat asli. Ancaman berasal dari berbagai jenis aktivitas manusia seperti perluasan pertanian, kebakaran, pengumpulan kayu bakar, dan pemanenan selektif.
Banyak sekali pihak yang melakukan konservasi agar tanaman itu tetap lestari. Sebagai konservasi in situ atau konservasi di dalam habitat, beberapa aturan adat masyarakat di Aceh, termasuk masyarakat lokal di Aceh Selatan telah ada sejak zaman dahulu kala.
