Trubus.id—Masyarakat mengenal beras sebagai bahan pokok. Sejatinya pilihan pangan lain juga beragam, misalnya seperti singkong, sagu, dan jagung. Maka dari itu Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Indonesia (Perum Bulog) turut berpartisipasi dalam mengedukasi mengenai konsumsi pangan pokok melalui buku seri bertema Diversifikasi dan Ketahanan Pangan.
“Kami menyadari penerbitan buku itu untuk pengenalan pangan pokok di Indonesia juga hal mengenai peran Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan. Salah satunya dengan mengenalkan gizi seimbang berbasis sumber daya lokal,” tutur Wakil Pimpinan Kantor Daerah Khusus Jakarta (DKJ) dan Provinsi Banten Rizky Puspitasari pada sambutan acara simbolis penyerahan buku dan pembagian buku pada siswa-siswi di SDIT Al Muhajirin, Koja, Jakarta Utara pada 15 Mei 2024.
Rizky menuturkan pangan pokok masyarakat Indonesia beragam. Misalnya sagu yang menjadi pangan pokok di Indonesia bagian timur. Meski sagu baru ada dibeberapa daerah saja tetapi menjadi potensial saat dikolaborasikan dengan pengembangan teknologi pangan.
“Bulog sendiri mengembangkan mi instan dari sagu dengan rasanya tidak jauh berbeda dengan mi instan yang berbahan dasar gandum. Sehingga dapat dikonsumsi masyarakat yang mungkin di daerah itu tidak ada komoditas sagu dan tidak familiar dengan rasa dan tekstur sagu,” kata Rizky.
Selain itu sagu lezat, sehat, dan mengenyangkan. Pangan lain yang tak kalah menarik juga seperti singkong dan jagung. Menurut Rizky rasanya semua pihak sudah perlu memikirkan diversifikasi pangan.
Mengingat produktivitas beras makin hari makin terbatas. Hal itu juga karena iklim yang tidak stabil. Selain itu degradasi tanah juga menjadi faktor produksi beras terbatas. Faktor lain, situasi global seperti terjadi konflik di beberapa negara yang turut memengaruhi ketersediaan pangan.
Musababnya negara lain juga membutuhkan pangan terutama Negara Asia dengan pangan pokok sama yaitu beras. “Kita harus memikirkan alternatif pangan pokok,” katanya. Untuk memenuhi kebutuhan beras juga mesti di dukung seperti pengembangan varietas lokal.
Hal itu untuk membantu menopang keterbatasan produktivitas untuk kebutuhan masyarakat. Gebrakan lain misalnya memproduksi pangan lokal yang tersaji kekinian seperti mi dari bahan pangan lokal.
Selain itu edukasi juga menjadi hal penting. “Buku mengenai ketahanan pangan seperti ini sangat bermanfaat merupakan sarana sosialisasi terutama generasi penerus bangsa seperti anak-anak sekolah mengenai nuasansa pangan Indonesia,” kata Rizky.
Artinya mengenalkan pangan pokok yang menguatkan, bervitamin, dan bergizi. Terutama mengenalkan komoditas-komoditas pangan lokal seperti untuk anak-anak di daerah Jakarta sendiri yang mungkin sebagian belum mengenal pangan lokal mulai dari bentuk tanaman, cara tanam, hingga panen dan olahannya.
“Dengan adanya buku seperti ini bermanfaat sekali jadi walaupun secara fisik mereka tidak melihat. Melalui bahan bacaan mereka menjadi tahu,” katanya.
Ia menuturkan program Perum Bulog senantiasa berjalan lurus dengan program-program Kementerian Pertanian. Misalnya dengan kegiatan edukasi khususnya penerbitan buku sebagai sarana wujud kepedulian Perum Bulog mengenalkan pangan kepada masyarakat.
