Trubus.id—Pohon fikus memiliki peran penting bagi ekosistem hutan. Menurut salah satu pendiri Pusat Ficus Nasional (PFN), dr. Ari Purnomo Adi tumbuhan dari suku Moraceae itu memiliki daya hidup tinggi, perawatan mudah, bersahabat dengan air, tidak dicuri orang, dan bermanfaat untuk lingkungan.
“Kita bisa temukan tanaman keluarga beringin mampu hidup di retakan tembok. Buah fikus pun untuk pakan satwa,” kata dokter alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya, itu.
Senada dengan Ari, Direktur PFN, Eko Widodo, S.P., menuturkan bahwa pertumbuhan fikus cepat karena tanaman pionir dan tidak rewel. Beberapa pohon yang tumbuh dekat sumber air merupakan fikus.
“Untuk konservasi ekologinya fikus menyuburkan tanah. Lahan kritis kembali subur. Kalau di sumber air, debit air bertambah,” kata Eko.
Beberapa fikus yang lazim berada di sumber air yakni beringin (Ficus benjamina), beringin walik (Ficus kurzii), dan gondang (Ficus variegate). Selain itu fikus juga bernilai ekonomis dijadikan tanaman hias karena memiliki daun dengan tiga warna seperti Ficus elastica rubi.
Anik Nur Hidayati dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, dan rekan dalam Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia menyatakan bahwa keberadaan fikus sangat penting karena berperan pada konservasi air.
Pohon bulu atau karet kebo (Ficus elasticus) salah satu jenis fikus yang berperan pada konservasi air di Hutan Bulupitu Desa Tunjungseto, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, seperti pada peneliitan Atik dan rekan.
Atik menyatakan, tajuk pohon bulu yang rimbun menahan laju jatuhnya air hujan sehingga tidak menimbulkan erosi percik. Bulu juga memiliki perakaran tunggang yang kuat dan bercabang banyak sehingga mempertahankan tanah di sekitar.
Dengan begitu bulu menahan terjadinya erosi dan menyerap air dalam jumlah cukup besar. Lebih lanjut ia menyatakan, morfologi bulu memberikan hasil yang terbaik dalam menyimpan maupun menahan air sehingga usaha konservasi dapat memberikan hasil yang terbaik.
Ternyata fikus tidak hanya bermanfaat untuk konservasi lingkungan. Tanaman itu juga memiliki khasiat kesehatan. Hasil riset Dewi Arum Sekti dan rekan dari Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, membuktikannya.
Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa daun awar-awar (Ficus septica) menginduksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7 melalui penekanan ekspresi protein Bcl-2.
Dengan kata lain, riset yang termaktub dalam jurnal Majalah Obat Tradisional itu menyimpulkan bahwa daun awar-awar berpotensi sebagai antikanker payudara.
Menurut Dewi alkaloid fenantroindolisidin dalam daun awar-awar berpotensi sebagai agen kemopreventif.
