Friday, June 12, 2026

Surimi Jadi Peluang Indonesia Atasi Krisis Pangan Global

Rekomendasi

Trubus.id-Guru Besar Ilmu Perikanan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Ustadi, M.P., menyebut Indonesia punya potensi besar dalam pengembangan surimi. Surimi merupakan istilah dari Jepang untuk daging ikan lumat yang diolah menjadi pasta siap guna.

Menurutnya, ikan adalah komoditas pangan yang mudah rusak (perishable) sehingga perlu pengolahan dan pengawetan untuk menjaga kualitasnya. Di Indonesia, pengolahan ikan dilakukan baik dengan cara tradisional maupun modern, sesuai kebutuhan lokal dan ekspor.

Melansir pada laman UGM, Ustadi menjelaskan bahwa kekayaan sumber daya laut Indonesia mendukung peran penting dalam industri surimi global. Permintaan tinggi datang dari negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Ia menyoroti bahwa potensi bahan baku dari hasil tangkapan laut di wilayah timur Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, kawasan tersebut menyimpan pasokan ikan melimpah untuk kebutuhan industri.

Beberapa jenis ikan seperti Layang (Decapterus), Belanak (Moolgarda seheli), Baronang (Siganus), Kuniran (Upeneus sp.), dan Kembung (Indian mackerel) sangat cocok untuk dijadikan surimi. Ikan air tawar seperti gurame, patin, nila, karper, dan lele juga berpotensi meskipun kualitasnya lebih rendah dibanding ikan laut.

Kualitas surimi dari ikan air tawar dapat ditingkatkan dengan teknologi pengolahan pangan. Beberapa bahan yang bisa digunakan antara lain inhibitor protease, enzim transglutaminase, gelasi seperti agar-agar, karagenan, alginat, putih telur, serta krioprotektan seperti nanokitosan.

Ustadi menyampaikan bahwa metode tradisional seperti penggaraman, pengasapan, dan perebusan masih banyak digunakan oleh masyarakat pesisir. Di sisi lain, industri besar telah mengembangkan teknologi modern seperti pembekuan, pengalengan, dan pencucian daging ikan.

Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan 45 persen hasil perikanan masih diolah secara tradisional. Sekitar 40 persen menggunakan teknologi modern, dan hanya 15 persen berupa produk olahan lanjutan seperti surimi.

Oleh karena itu, pengembangan teknologi pengolahan yang efisien dan merata sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Ini juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir melalui produk bernilai tambah.

Surimi menjadi salah satu komoditas ekspor utama Indonesia dengan sentra produksi di Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Lampung. Wilayah-wilayah ini memiliki akses terhadap ikan pelagis kecil dan ikan demersal sebagai bahan baku utama.

Ustadi menambahkan, tingginya nilai tambah produk olahan seperti surimi menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas teknologi pengolahan nasional. Hal ini akan memperkuat daya saing industri perikanan Indonesia di pasar global.

Sebagai negara kepulauan terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki sumber daya ikan yang sangat besar. Potensi ini bisa memenuhi kebutuhan pangan bergizi protein di dalam negeri sekaligus memasok pasar dunia.

Produksi ikan Indonesia mencapai 12,94 juta ton per tahun, lebih dari separuhnya dari hasil tangkapan laut. Sisanya berasal dari budidaya, yang masih bisa ditingkatkan karena baru 17 persen lahan potensial yang dimanfaatkan.

Sekitar seperempat dari total produksi cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sisanya dapat menjadi komoditas ekspor unggulan yang bernilai ekonomi tinggi.


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This