Dodi Jarwoko membudidayakan 2.400 pohon alpukat hass di lahan seluas 3 hektare di Desa Mulyoasri, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Dari kebun di lereng Gunung Semeru itu, ia mampu memanen 20 ton hass per hektare per tahun atau total 60 ton per tahun.
Buah hasil panen dijual ke perusahaan pemasok buah untuk pasar swalayan dengan harga minimal Rp35.000 per kilogram. Dengan harga itu, Dodi meraup omzet sekitar Rp2,1 miliar per tahun atau Rp175 juta per bulan.
Menurut Dodi, hasil panen masih bisa meningkat karena baru 1.200 pohon yang berbuah. Sementara sisanya merupakan tanaman tambahan yang baru mulai produktif.
Awalnya Dodi menanam alpukat dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Namun, setelah berbuah, pohon tampak renggang karena tidak tumbuh tinggi akibat tanah di kebun memiliki lapisan topsoil dangkal dan bagian bawahnya berpasir.
Tanah berpasir membuat akar sulit berkembang sehingga pohon tidak bisa besar. “Akibatnya pohon sulit tinggi,” ujar Dodi yang juga manajer Altara Farm.
Kondisi itu sebenarnya menjadi kelebihan tersendiri di tengah kekurangan. Pasalnya, lokasi kebun yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut sering diterpa angin kencang.
“Kalau musim angin besar, pohon tinggi justru berisiko tumbang atau patah dahan,” tuturnya. Karena itu, ukuran pohon yang tidak terlalu tinggi justru mengurangi potensi kerusakan akibat angin.
Foto: Dodi Jarwoko mengembangkan alpukat
hass di lahan 3 hektare. Foto: Dok. Dodi Jarwoko
