Saturday, January 24, 2026

Cuan Besar dari Lele

Rekomendasi
- Advertisement -

Nesamas Putra Praba, Amd., dan Inggal Satiani Rahayu, Amd., rata-rata memasok 12—20 ton ikan lele per bulan. Pebisnis asal Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, itu menjual ikan lele segar dan olahan seperti rolade, katsu, dan nuget.

“Saat ini pemasaran terbagi menjadi dua yakni kepada masyarakat umum dan memasok dapur Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujar Nesa—panggilan akrab Nesamas. Ia juga memproduksi filet lele untuk konsumen reguler dan MBG.

Ukuran filet bervariasi yakni 20—30 g dan 40—50 g sesuai permintaan. Untuk MBG, Nesa dan Inggal menerima minimal pemesanan 8—13 dapur per pekan.

Untuk ikan segar, ia menjual Rp22.000 per kilogram (kg) dan filet Rp32.000—Rp50.000 sesuai ukuran. Nesa menuturkan permintaan ikan lele konsumsi belum terpenuhi sekitar 4—8 ton per bulan.

“Sejauh ini alhamdulillah, sangat prospek,” ungkap pria berumur 30 tahun itu. Tidak hanya itu, Nesa dan Inggal juga memasok 700.000 bibit ikan lele per bulan.

Sementara kapasitas produksi saat ini mencapai 400.000—500.000 ekor. Harga bibit Rp35.000—Rp70.000 per kg untuk partai besar, sementara eceran Rp120—Rp300 per ekor.

Untuk memenuhi kebutuhan ikan lele itu, mereka bermitra dengan 20 pembudidaya di Cianjur, Bogor, dan Purwokerto. Sementara produksi olahan dikerjakan oleh 8—12 pekerja.

“Awal-awal tidak ada pembudidaya yang mau bermitra dengan kita,” kenang Nesa. Meski begitu, ia tak patah arang dan terus berupaya mengembangkan usaha.

Nesa memperbaiki usaha pembibitan milik mertua yang dulu mengalami tingkat kematian lele tinggi. Bersama Inggal, ia mulai menerapkan standar budi daya dan sistem pemasaran yang lebih baik.

Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Ia mendapat permintaan hingga 500.000 bibit per bulan, dan banyak petani mitra yang semula kesulitan kini bergabung.

“Untuk lele konsumsi, pasar kita lumayan besar,” ujar pria kelahiran Agustus 1995 itu. Jika menjual ke pasar, ia membiarkan pembeli menyeleksi ukuran ikan sesuai kebutuhan.

Masalah utama di pasar adalah ukuran ikan yang tidak konsisten. Karena itu, Nesa menyesuaikan penjualan dengan kebutuhan konsumen.

Ibu rumah tangga biasanya membeli lele berukuran kecil atau sedang. Sementara warung pecel lele justru mencari ukuran besar.

Ia juga menyiasati keuntungan dari selisih ukuran. Misalnya harga lele isi tujuh ekor per kg dan isi sepuluh ekor per kg sama, maka Nesa lebih untung menjual yang isi tujuh ekor.

“Kalau yang kecil saya besarkan lagi, bisa jadi 1,5 kg per ekor,” ungkapnya. “Harganya tentu lebih tinggi, itu prinsipnya,” kata Nesa.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img