Kekurangan oksigen terlarut di kolam dapat memicu kematian massal ikan. Tanda-tandanya mudah dikenali seperti ikan berkumpul di permukaan mencari napas dan warna air berubah kecokelatan hingga keabuan. Ciri lainnya yakni muncul bau tengik.
Cegah penurunan oksigen dengan beberapa tindakan sederhana. Singkirkan tanaman yang menutup permukaan air seperti kangkung atau eceng gondok agar cahaya matahari mencapai fitoplankton sehingga fotosintesis berjalan lancer dan menghasilkan oksigen. Jaga padat tebar sesuai rekomendasi untuk mencegah kompetisi oksigen.
Hindari pemberian pakan berlebihan karena sisa pakan mengendap dan mempercepat penurunan mutu air. Aplikasi pupuk organik harus sesuai anjuran sehingga tidak memicu ledakan plankton yang justru menghabiskan oksigen saat membusuk. Pemantauan rutin kadar oksigen terlarut, suhu, dan kondisi air wajib dilakukan terutama pada pagi dan senja.
Jika kadar oksigen turun drastis, aerasi mekanis atau pengadukan air dapat menjadi solusi sementara. Mengenai nila, ikan ini relatif tahan salinitas asalkan aklimatisasi dilakukan secara bertahap. Namun nila normalnya bertelur di air tawar dengan salinitas sekitar 5 g per liter.
Salinitas lebih tinggi menurunkan produksi benih sehingga pembenihan nila umumnya dilakukan di kolam air tawar untuk hasil yang optimal. Selalu siapkan rencana darurat seperti pompa aerasi cadangan dan rencana pengurasan parsial untuk mencegah krisis. Pelatihan staf dalam pemantauan kualitas air sangat penting. Catat parameter air untuk evaluasi berkala rutin. Dengan cara itu semua pembenihan dan pertumbuhan nila lebih maksimal.
