Trubus.id—Pemangkasan dan pewiwilan terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman terong. Teknik budidaya itu membantu tanaman mengarahkan hasil fotosintesis untuk pembentukan buah sehingga mutu dan hasil panen meningkat.
Guru Besar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, M.S., menyatakan tanaman yang tidak dipangkas umumnya menghasilkan buah berbobot lebih rendah.
Hal itu terjadi karena hasil fotosintesis lebih banyak digunakan untuk pembentukan daun, batang, dan tunas baru. Sementara pada tanaman yang dipangkas dan dilakukan pewiwilan, asimilat lebih fokus dialirkan untuk pertumbuhan buah.
Pernyataan itu diperkuat melalui penelitian yang dilakukan mahasiswi bimbingannya, Prawesty Dinnar Jatumara. Penelitian tersebut menguji pengaruh waktu pemangkasan pucuk dan frekuensi pewiwilan terhadap produktivitas tanaman terong.
Penelitian menggunakan dua faktor perlakuan. Faktor pertama terdiri atas tanaman tanpa pemangkasan pucuk (P0), pemangkasan pucuk umur 14 hari setelah tanam atau hst (P1), serta pemangkasan pucuk umur 28 hst (P2).
Faktor kedua ialah tanpa pewiwilan (W0), pewiwilan satu kali (W1), dan pewiwilan dua kali (W2).
Pengamatan meliputi pertumbuhan tanaman seperti jumlah daun, luas daun, jumlah cabang, dan umur berbunga. Peneliti juga mengamati hasil panen berupa jumlah buah per tanaman, bobot segar buah, diameter buah, panjang buah, hingga bobot kering total tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemangkasan pucuk umur 14 hst disertai pewiwilan dua kali menghasilkan produktivitas relatif tinggi, yakni mencapai 217,68 gram bobot segar per tanaman.
Selain itu, perlakuan tanpa pemangkasan dengan pewiwilan satu kali mampu meningkatkan produktivitas sebesar 219,75 gram per tanaman atau naik 13,73%.
Sementara perlakuan pemangkasan pucuk umur 14 hst tanpa pewiwilan menghasilkan produktivitas 247,76 gram per tanaman atau meningkat 28,23% dibanding tanaman tanpa pemangkasan dan pewiwilan.
Penelitian itu menunjukkan kombinasi pemangkasan dan pewiwilan dapat menjadi strategi penting untuk meningkatkan hasil budidaya terong, termasuk terong jepang yang memiliki standar kualitas buah cukup ketat.
Manajer Budidaya PT Indowooyang, Putut Prastowo, mengatakan buah terong jepang yang diterima perusahaan harus memiliki kulit hitam pekat, mulus, tidak mengandung biji tua, dan tekstur buah tidak keras.
Menurut Putut, ukuran buah juga harus dijaga agar tidak terlalu besar karena buah yang terlalu tua akan memunculkan biji cokelat yang tidak disukai konsumen di Jepang.
