Trubus.id-Andi rela menempuh perjalanan ratusan kilometer dari Jakarta menuju Durian Garden Songgon di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, hanya untuk mencicipi durian lokal yang terkenal kelezatannya.
Sesampainya di lokasi, rasa lelahnya langsung terbayar. “Luar biasa. Duriannya enak sekali, lembut, bijinya kecil, dan rasanya manis,” tutur Andi. Ia datang atas rekomendasi sang kakak yang tinggal di Banyuwangi.
Kerinduan pada kampung halaman juga membuat kunjungannya terasa istimewa. Maklum, Andi merupakan warga asli Banyuwangi yang kini merantau di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Saat mencicipi durian Songgon, hanya satu kalimat yang terucap dari mulutnya. “Terlalu enak,” ujarnya.
Menurut pemilik Durian Garden Songgon, Syva Dila Kharisma, Kecamatan Songgon memang dikenal sebagai sentra durian lokal berkualitas prima. Salah satu unggulannya ialah durian si rusa yang memiliki daging buah berwarna jingga dengan ketebalan yang menggiurkan.
Soal rasa tak perlu diragukan. Cita rasanya didominasi manis. Ada pula durian si sukun yang mudah dikenali dari tangkai buahnya yang panjang. Daging buahnya berwarna krem dengan ketebalan yang cukup baik. “Biji si sukun banyak yang kecil,” kata Risma, sapaan akrab Syva Dila Kharisma. Rasanya juga dominan manis.
Varietas unggulan lainnya ialah si kijang yang memiliki daging buah kuning cerah dan tebal. Banyak bijinya berukuran kecil sehingga porsi daging buah lebih melimpah. Teksturnya lembut, lengket, kering, dan sedikit berserat.
Kualitas durian yang prima membuat produk asal Songgon laris hingga ke berbagai kota seperti Surabaya, Gresik, Malang, dan Sidoarjo di Provinsi Jawa Timur. Pemasarannya juga menjangkau Solo, Yogyakarta, Bogor, Pontianak, hingga Medan. Bahkan Risma menjalin kerja sama dengan pedagang durian premium di Jakarta.
Selain menjual buah segar melalui media sosial dan marketplace, Risma mengembangkan konsep agrowisata berbasis durian. Area kebun disulap menjadi tempat yang nyaman bagi pengunjung untuk menikmati durian dalam suasana asri.
Berbagai dekorasi dipasang agar pengunjung dapat berswafoto. Area parkir yang memadai juga tersedia untuk melayani wisatawan yang datang menggunakan kendaraan pribadi.
Tidak hanya itu, Risma turut memberdayakan masyarakat sekitar melalui pengolahan durian. Buah dengan daging tipis diolah menjadi berbagai produk seperti panekuk, bakpia, dan bolen. Panekuk menghadirkan rasa durian yang lebih kuat, sedangkan bakpia dan bolen memanfaatkan durian sebagai isi utama.
Untuk meningkatkan jumlah wisatawan, Durian Garden Songgon bekerja sama dengan agen perjalanan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dalam mempromosikan Kecamatan Songgon sebagai sentra durian.
Risma bersama sang ayah, Harmadi, juga aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan promosi wisata durian. Upaya tersebut membuahkan hasil. Durian Garden Songgon semakin ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati durian lokal berkualitas.
Bahkan pada April 2020, Bupati Banyuwangi periode 2010–2015 dan 2016–2021, Abdullah Azwar Anas, turut berkunjung ke Durian Garden Songgon. Setelah kunjungan itu, permintaan durian meningkat pesat hingga Risma harus menambah pasokan dari petani mitra.
“Kami membeli 20–30 durian dari para pekebun per hari,” kata alumnus Jurusan Teknik Informatika Politeknik Negeri Banyuwangi itu.
Menurut Risma, keberadaan Durian Garden Songgon tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Selama ini banyak petani menjual durian secara tebas kepada tengkulak dengan harga rendah.
Melalui kemitraan dengan Durian Garden Songgon, durian dibeli per buah sehingga nilai jualnya meningkat. “Dengan begitu para pekebun mitra bisa memperoleh pendapatan tiga kali lipat lebih tinggi,” ujar perempuan yang fokus merintis usaha agrowisata durian sejak 2018 tersebut.
