Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini menjadi limbah industri diolah mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) menjadi bahan baku pakan ternak. Melalui inovasi bernama SUWIIT (Smart Livestock Integrated Technology), limbah biomassa tersebut dipadukan dengan teknologi fermentasi untuk menghasilkan pakan bernutrisi.
Inovasi itu dikembangkan oleh Luis Ibanez Sitinjak bersama Kholis Na’imah dan Irgy Khoiroel Al Fahrezi dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI), Sekolah Vokasi UNDIP. Pengembangan SUWIIT berangkat dari dua persoalan di kawasan perkebunan sawit, yakni belum optimalnya pemanfaatan limbah biomassa dan tingginya biaya pakan yang harus ditanggung peternak.
Tim mengolah TKKS melalui proses fermentasi yang diperkaya probiotik, mineral, serta imunostimulan alami. Pengolahan tersebut ditujukan untuk mengubah sisa industri sawit menjadi sumber nutrisi yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pakan konvensional.
Pakan dirancang untuk mendukung kesehatan pencernaan, daya tahan tubuh, dan pertumbuhan ternak. Konsep tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan biomassa sawit menjadi produk bernilai tambah dalam skema ekonomi sirkular.
SUWIIT tidak hanya berupa produk pakan. Inovasi tersebut dilengkapi Smart Livestock Assistance, sebuah platform digital yang membantu peternak memantau kondisi kesehatan hewan, berkonsultasi dengan dokter hewan, serta memperoleh rekomendasi perawatan berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Platform itu juga menyediakan materi edukasi dan marketplace kebutuhan peternakan. Dengan demikian, tim menggabungkan pakan berbasis limbah sawit dengan layanan kesehatan, informasi, dan kebutuhan operasional peternak dalam satu ekosistem digital.
Berdasarkan perhitungan awal tim, penerapan SUWIIT diproyeksikan dapat menekan biaya pakan sekitar 20–40%. Inovasi tersebut juga diproyeksikan meningkatkan produktivitas ternak 20–40% dan menekan angka kematian ternak sekitar 10–20%, meski angka tersebut masih berupa proyeksi yang perlu dibuktikan melalui penerapan dan pengujian lebih lanjut.
Pengembangan SUWIIT didampingi Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng. Pendampingan dilakukan untuk memperkuat aspek teknologi sekaligus menyusun model bisnis agar inovasi dapat diterapkan di luar lingkungan kampus.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa limbah industri kelapa sawit masih memiliki peluang untuk menghasilkan nilai ekonomi baru. Dengan pengolahan yang tepat, TKKS tidak sekadar menjadi sisa produksi, tetapi dapat diarahkan menjadi bahan baku produk peternakan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien.
Tahap berikutnya adalah membawa SUWIIT menuju implementasi dan komersialisasi. Tim berharap inovasi tersebut dapat diterapkan pada peternak sekaligus mendorong pemanfaatan limbah sawit sebagai bagian dari pengembangan peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Sumber: https://undip.ac.id/post/58321/inovasi-pakan-sawit-mahasiswa-undip-raih-emas-di-perlombaan-olivia-xi-2026.html
