Kopi Juria, Warisan Leluhur dari Tanah Manggarai

Rekomendasi
- Advertisement -

Kopiku Tanah Air Kita—Gembala Baik yang berasal dari Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menyabet penghargaan kategori Bronze Gourmet dalam ajang Agency for the Valorization of the Agricultural Products (AVPA) Gourmet Product di Paris, Prancis, pada 23 Oktober 2018. Gembala Baik merupakan kongregasi biarawati di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Gembala Baik menjadi mitra binaan Kopi Tanah Air Kita di Jakarta.

Menurut Ketua Komunitas Kopi Nusantara (Kopinusa), Iwan Setiawan Arifin Manasa, kopi asal Indonesia telah memenangkan 23 penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran The Salon International de l’Agroalimentaire (SIAL) Agrofood. AVPA bertujuan membantu para produsen produk pertanian dari seluruh dunia untuk memasarkan produk mereka di pasar Eropa. Pada 2018, kompetisi itu diikuti 170 produsen kopi dari seluruh dunia. Sebanyak 11 produsen mewakili 23 kopi Indonesia dan memenangkan penghargaan tersebut.

Kesuksesan Kabupaten Manggarai meraih penghargaan itu tidak lepas dari kiprah seorang suster di Kongregasi Gembala Baik, Natalia Tansil. Ketika itu ia memperkenalkan kopi berjuluk juria. Ciri khasnya dapat dikenali karena masam yang pekat. Rasa itulah yang membuat jenis kopi itu banyak diburu pencinta kopi di dalam dan luar negeri. “Kebanyakan turis dari Eropa yang datang. Kalau lokal kebanyakan dari Jakarta dan Surabaya,” ucap Natalia.

Menurut petani kopi di Dataran Tinggi Colol, Desa Uluwae, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Agustinus Songsi, kopi juria termasuk kopi tua yang dibudidayakan di Colol. Kebun-kebun itu berada pada ketinggian 1.200—1.400 meter di atas permukaan laut (m dpl). Kopi juria bercirikan antara lain batang tegak lurus, tinggi berkisar 4—5 meter, dan daun kecil. Selain itu, jarak antarranting lebih rapat, tidak serimbun arabika atau robusta. Biji juria juga lebih besar dan jika disangrai aromanya tajam.

Juria masuk ke Colol pada 1950-an. Bibit kopi tersebut dibawa seorang tokoh warga yang merantau ke Makassar, Sulawesi Selatan, Rudolf Kawur. Dari bibit yang sedikit itu, juria berkembang dan menjadi salah satu varietas favorit petani. Cita rasa juria kaya cokelat, melon, kacang, dengan rasa manis. Juria diyakini merupakan varietas arabika typica. Kini, luas kebun kopi juria di Colol tersisa 50—60 hektare dari total lebih dari 10.000 hektare lahan kopi di daerah yang merupakan cikal bakal kopi di Manggarai Raya.

Tanaman kopi juria terdesak oleh jenis arabika dan robusta yang batangnya lebih ramping. Selain itu, juria juga jarang berbuah lebat setiap tahun. Biasanya, juria dapat dipanen raya sekali dalam dua tahun. Saat menjelang matang, daun kopi juria gugur total, hanya terlihat buah kopinya hingga panen.

Ciri khas kopi juria dapat dikenali karena memiliki rasa.

Kala memanen pohon yang tingginya mencapai 5 meter itu, petani harus memanjat dan berdiri pada sebuah bambu panjang yang dibentangkan antardahan tanaman. Bambu itu membantu petani agar lebih mudah menjangkau dahan yang tinggi.

Bagi petani, varietas juria juga disakralkan. Mereka tak berani mengganti varietas tersebut dengan tanaman baru. Juria dianggap telah menyatu dengan tanah dan leluhur mereka.

Pembibitan ulang juria di lokasi lain juga tak pernah sebaik tanaman asli. “Kami juga punya pantangan menebang pohon yang ditanam leluhur. Kami tidak punya hak karena itulah yang dulu memberi kehidupan bagi mereka,” ujar Agustinus. Ironisnya, meski lekat dengan kehidupan masyarakat, kopi di Manggarai sempat dihargai rendah.

Pemberdayaan masyarakat

Beberapa tahun lalu, harga biji kopi hanya sekitar Rp25.000 per kilogram. Padahal, di kota besar, jumlah itu setara dengan segelas kopi susu gula aren. Dengan hitungan sederhana, satu kilogram biji kopi bisa menghasilkan 50—55 gelas minuman serupa. Kondisi itu menggambarkan adanya gap perolehan nilai tambah yang signifikan antara pemain hulu dan hilir di industri kopi.

Jika kedai kopi bisa memperoleh keuntungan hingga jutaan rupiah setiap harinya, para petani kopi di Manggarai justru hanya bisa mendapatkan penghasilan saat musim panen. Kesenjangan itulah yang menggerakkan hati Natalia. Kala itu hidup para petani kopi di Ruteng masih belum bisa dibilang sejahtera. Menjelang masa panen datang, para petani biasanya langsung menjual biji-biji kopi ke tengkulak dengan praktik ijon. Tentunya biji-biji kopi itu dibeli dengan harga yang sangat murah.

Untuk meningkatkan harga jual, Natalia meyakini perlu ada nilai tambah dari produk kopi yang ditawarkan para petani. Biji kopi yang sudah selesai dipanen harus diolah terlebih dahulu sehingga pendapatan yang diperoleh para petani pun ikut meningkat. “Saya berpikir bagaimana cara agar petani tidak hanya menghasilkan bahan mentah, tapi juga bahan jadi. Pengolahannya di sini sehingga membuka lapangan pekerjaan bagi daerah sini, masyarakat sini,” kata Natalia yang juga membuka tempat sangrai (roastery), sekaligus kedai Kopi Gembala Baik yang dikelola olehnya dan masyarakat setempat.

Sebagai seorang suster, awalnya Natalia tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang kopi. Bermodalkan bantuan dari kenalannya yang mengerti soal kopi, perlahan ia mulai menyerap berbagai ilmu untuk dibagikan kepada masyarakat Ruteng. Tidak hanya soal kopi, ia juga mengajarkan cara pengemasan yang baik, branding yang menarik, sampai melakukan promosi kepada khalayak.

Kini masyarakat setempat sudah semakin tersadarkan betapa penting mengelola ekosistem rantai pasok kopi mulai dari proses tanam, panen, sampai pascapanen. Natalia juga mengajarkan masyarakat cara mengoperasikan mesin penyangrai hingga mesin-mesin espreso. Natalia menyatakan, beberapa masyarakat yang dulu diajarkannya, sekarang bahkan ada yang memutuskan untuk membuka kedai kopi sendiri.

Hal itu membuatnya bahagia karena masyarakat akhirnya menjadi berdaya untuk mengolah kopi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Harga juria baru mulai melambung setelah Koperasi Serba Usaha Asosiasi Petani Kopi Manggarai Raya (Asnikom) berdiri pada 2012 memulai promosi. Lembaga tersebut memang menjembatani pedagang kopi dengan petani. Sejak saat itu, juria dijual hingga Rp100.000 per kg kopi beras.

(Imam Wiguna)

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Pakan Ternak dari Limbah Sawit, Inovasi Mahasiswa UNDIP Tekan Biaya Pakan

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini menjadi limbah industri diolah mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) menjadi bahan baku...

More Articles Like This