Wednesday, June 17, 2026

Croton Menuju Takhta

Rekomendasi

 

Selama 10 hari pameran, terjual 300 pot. Jenisnya antara lain apel, kura, oscar, jengkol, walet, dan dasi polkadot. Dengan harga rata-rata Rp100.000-Rp250.000 per pot, pemilik Ladika Flora itu menangguk omzet Rp30-juta-Rp75-juta. Padahal, hampir setiap pameran di seputaran Jakarta diikuti oleh pengajar di sebuah sekolah menengah itu. Omzet itu pun belum termasuk penjualan langsung di nurseri.

Angka lebih spektakuler didapat Ferdian AS, SSi. Selama 2 minggu sebanyak 2.000 pot apel kuning, terang bulan (2.100 pot), lele (800 pot), polkadot (300 pot), dan anggur (200 pot) keluar dari nurserinya. Dengan harga minimal Rp100.000 untuk tanaman setinggi 20-30 cm, omzetnya Rp540-juta.

Naik daun

Penelusuran Trubus ke berbagai daerah, saat ini bisnis puring memang tengah moncer. Pada Maret 2008, dari 5.000 bibit puring yang diimpor nurseri Godong Ijo dari India, 4.000 tanaman langsung ludes dalam 2 minggu. Baru 6 bulan bermain, penjualan di nurseri Camelia, Yogyakarta, terus menanjak. Pada bulan pertama-Februari 2008-terjual 100 pot. Maret, 200 pot dan ajek 300 pot sejak April. Jenisnya lokal seperti apel kuning dan kirana; kelas komersial seperti kura dan oscar, serta kelas koleksi misal banglore dan concord brazil. Omzet terbesar-50%-didapat dari penjualan jenis komersial dengan harga rata-rata Rp150.000-Rp200.000 per pot tanaman setinggi 10-20 cm.

Euforia bisnis kerabat euphorbia itu kian terasa di ajang pameran. Dalam pameran di Jakarta, Yogyakarta, dan Solo hampir semua stan menjajakan puring. Kehadiran anggota famili Euphorbiaceae itu pun meluruk hingga pedagang pinggir jalan. Para pemain sepakat, sejak awal 2008 permintaan puring melonjak. Itu diiringi harga jual yang ikut merangkak naik. Pada Januari 2008 harga concord brazil setinggi 30 cm hanya Rp50.000. Saat liputan Trubus pada pertengahan Juni 2008 ada yang berani membeli dengan harga Rp1,5-juta untuk ukuran sama.

Bagi Ansori Y, pemain tanaman hias senior di Jakarta Selatan, dan Fauzi Muchtar di Rawabelong, Jakarta Barat, puring layak ngetren lantaran punya daun cantik. ‘Kalau aglaonema satu daun ada 3 warna, di puring bisa lebih banyak lagi,’ kata Fauzi Muchtar. Bentuk daun pun beragam: bulat, panjang, hingga melintir. Apalagi karotong itu juga cocok sebagai tanaman outdoor: elemen taman, pun indoor.

Menurut Chandra Gunawan, ada 4 syarat tanaman hias bisa menjadi populer. Pertama, secara visual ia menarik. ‘Buat saya tidak ada tanaman hias daun yang warnanya sekaya puring,’ tutur pemilik nurseri Godong Ijo, Depok, itu. Syarat kedua, varietasnya harus banyak. Dengan begitu pemain dan hobiis tak putus-putus mendapatkan ‘incaran’ baru. Syarat ke-3, tersedia dalam jumlah besar. Jika terlalu sedikit, harga menjadi mahal sehingga tidak terjangkau. Syarat terakhir, mudah dipelihara.

Menyebar

Terpikat potensi puring, banyak pemain dan hobiis bermunculan di berbagai daerah. Sekadar menyebut contoh Agus Choliq, Gandung Paryono, Saryanto, dan Very di Yogyakarta; Pong Waluyo (Magelang); Soe Djing dan Santo Subagyo (Wonosobo); Hari Harjanto (Depok); dan Ukay Saputra (Jakarta). Pengamatan Handry Chuhairy, pada 2006 belum ada stan yang memajang puring di sentra tanaman hias Alam Sutra, Tangerang. ‘Pada 2007 mulai ada yang pajang. Sekarang (2008, red) makin banyak,’ kata pemilik nurseri Han’s Garden itu.

Dari bisnis puring, Agus Choliq mendapat omzet Rp70-juta per bulan. Itu hasil penjualan jenis-jenis koleksi seperti tiara, dorinda, dan vinola. Puring juga jadi salah satu best seller di nurseri Wijaya Orchids, Sentul, Bogor.

Jenis yang dicari sangat beragam. Pada 2007, kura sempat jadi puring incaran. Belakangan pembeli asal Jawa yang datang ke nurseri Wijaya banyak memborong jenis berwarna gelap. Misal mutasi kura dan apel menjadi ‘hitam’. Pembeli di nurseri Godong Ijo justru mencari puring berdaun besar, lebar, dan kompak. Ferdian mengamati, di Jakarta jenis-jenis berdaun lebar seperti banglore disukai di wilayah selatan. Di barat, misal sentra tanaman hias di Kebonjeruk, tipe-tipe seperti oscar yang dicari. Sementara di wilayah timur hingga Bekasi mencari anggur dan cabe.

Tren Thailand

Beragamnya permintaan pasar justru jadi peluang untuk terus menghadirkan jenis-jenis baru. Gandung Paryono merilis 50 hasil silangan sendiri yang dilakukan sejak 2005. Diana-hasil silang antara oscar dan raja-salah satu jenis yang banyak diminta.

Nurseri Godong Ijo mendatangkan croton dari India dan Taiwan. Sementara nurseri Wijaya Orchids mengimpor dari Thailand. Thailand jadi negara incaran karena-bersama India dan Amerika Serikat-merupakan produsen puring dunia.

Apalagi di negeri Gajah Putih, popularitas croton pun mulai menanjak. Di pasar tanaman hias Chatuchak, Bangkok, wartawan Trubus, Destika Cahyana dan Rosy Nur Apriyanti, melihat hampir setiap booth menjajakan croton. Menurut Kiew, salah seorang pemain, ini ke-3 kali kerabat euphorbia itu ngetren. Indikasinya, mulai banyak permintaan dari pedagang.

Dua tahun lalu hampir tidak ada penjualan di nurserinya, sekarang setiap minggu Kiew rutin melayani permintaan dari pedagang. Masing-masing 10-50 tanaman per pedagang. ‘Croton banyak jenisnya, penyilang dan pekebunnya pun banyak,’ ujar Dr Surawit Wannakrairoj, presiden Asosiasi Riset Tanaman Hias di Thailand, menjelaskan tren di negeri Siam.

Berkaca dari pengalaman, lazimnya tanaman yang popular di Thailand bakal menular ke Indonesia. Di tanahair para pemain yakin, kehadiran jenis-jenis baru dipercaya kian memperpanjang tren croton. Umur tren kian panjang karena untuk memperbanyak puring hingga siap jual butuh waktu lama. ‘Pasarnya pun luas karena harganya terjangkau,’ ujar Ansori. (Evy Syariefa)


Artikel Terbaru

Kementan Mulai Salurkan Benih Tebu Unggul untuk Pengembangan Kebun Rakyat

Kementerian Pertanian mulai menyalurkan benih tebu unggul asal Kebun Benih Datar (KBD) secara berjenjang melalui mitra penangkar. Program itu...

More Articles Like This